Sebanyak 98 item atau buku ditemukan

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SABUN TRANSPARAN EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluhcea indica Less) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis

No: 144 Penelitian ini bertujuan untuk membuat sabun transparan yang berisi ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis dan menguji penampilan fisik serta pH sediaan tersebut. Daun beluntas (Pluchea indica Less) diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 30%, dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator. Pengujian aktivitas antibakteri sabun transparan ekstrak daun beluntas menggunakan konsentrasi 5%, 7% dan 9% terhadap Staphylococcus epidermidis dengan metode difusi sumuran. Pengujian pH serta uji penampilan fisik yang meliputi warna, tekstur, dan bentuk diamati selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa diantara konsentrasi sabun transparan ekstrak daun beluntas yang paling efektif adalah sabun transparan ekstrak daun beluntas dengan konsentrasi 7%. Sabun transparan ekstrak daun beluntas konsentrasi 7% mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis yang menunjukkan adanya zona hambat terhadap pertumbuhan bakteri uji. Zona hambat pada pengenceran 10000 ppm, 5000 ppm, 3000 ppm dan 1000 ppm berturut-turut yaitu 8,87 mm, 7,74 mm, 6,25 mm dan 0 mm. Pengukuran pH menunjukkan bahwa semua sampel sabun bersifat basa yaitu dari pH 10,52 hingga 11,48. Hasil uji penampilan fisik selama 14 hari menunjukkan tidak ada perubahan baik pada warna, tekstur, dan bentuk sabun transparan.

IDENTIFIKASI SENYAWA LUTEIN DARI KEMBANG KOL (Brassica oleracea L.cv.groups cauliflower) DAN UJI POTENSI ANTOKSIDAN DENGAN METODE ABTS

No: 142 Antioksidan adalah senyawa yang mampu menangkal atau meredam dampak negatif oksidan dalam tubuh, salah satu tanaman yang memiliki antioksidan adalah kembang kol (Brassica Oleracea L.cv.groups cauliflower). Kembang kol merupakan salah satu jenis sayuran yang memiliki kandungan karotenoid yang bersifat antioksidan, Salah satu jenis karotenoid yang penting adalah lutein. Lutein memiliki aktivitas antioksidan yang dapat melindungi sel-sel terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas. Akumulasi radikal bebas dapat disebabkan oleh asap rokok, polusi udara, makanan yang banyak mengandung lemak, radiasi sinar ultraviolet dan obat-obatan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi dan mengidentifikasi senyawa lutein dari kembang kol dan menentukan potensi antioksidan yang diuji aktivitasnya menggunakan metode ABTS (Asam _ 2,2’-Azino-bis-3-etilbenzatiazolin-6- sulfonat), yang diukur dengan spektofotometer UV-Vis. Nilai 1Cso kembang kol yang didapat sebesar 47,798y2/ml dan untuk vitamin C sebagai kontrol positif sebesar 17,280ug/ml. Hasil analisis kualitatif terhadap ekstrak lutein dengan KLT diperoleh nilai Rf sebesar 0,68. Kemudian dilakukan jidentifikasi lutein menggunakan KCKT yang menunjukan terdapatnya senyawa lutein pada ekstrak kembang kol pada waktu retensi 1,3 menit sesuai dengan baku pembanding lutein. Uji toksisitas metode BSLT menggunakan larva udang artemia salina pengujian terhadap ekstrak kembang kol menunjukkan harga LCso sebesar 1056,208 ug/mL hasil ini bersifat tidak toksik terhadap Artemia salina Leach sehingga tidak memiliki potensi toksisitas menurut metode BSLT.

KAJIAN METODE ANALISIS ASAM MEFENAMAT SECARA SPEKTROFOTOMETRI DAN KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI

No: 141 Berdasarkan literatur FI edisi IV, asam mefenamat dianalisis menggunakan metode KCKT. Metode ini cukup memakan waktu sehingga kurang efektif apabila digunakan pada analisa dengan jumlah sampel yang banyak. Asam mefenamat dapat pula dianalisis dengan metode spektrofotometri, yang mana waktu pengujiannya relatif lebih cepat dibandingkan metode KCKT. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji apakah dapat dilakukan alternatif metode terhadap analisis asam mefenamat dengan kedua metode diatas. Adapun ruang lingkup penelitian berupa Validasi Metode Analisa kedua metode dengan parameter : akurasi, linearitas, presisi dan kestabilan larutan (robusnest). Pengujian juga memperhitungkan penetapan kadar terhadap sampel menggunakan kedua metode tersebut. Pada spektrofotometn’ sampel asam mefenamat dilarutkan dengan NaOH 0,1 N kemudian diukur pada panjang gelombang 285 nm, sedangkan pada KCKT sampel asam mefenamat dilarutkan dengan fase gerak campuran dapar ammonium fosfat, asetonitri] dan tetrahidrofuran dengan perbandingan 20:23:7, kemudian diukur pada panjang gelombang 254 nm menggunakan kolom C18 sebagai fasa diam. Hasil yang didapat pada pengujian akurasi untuk spektrofotemetri dan KCKT, RSD= 0,47dan 0,35 pada pengukuran linearitas untuk spektrofotometri dan KCKT, r’ =0,9997 dan 0,9995 pada presisi untuk spektrofotometri dan KCKT, RSD =0,184 dan 0,224, sedangakan pada pengujian kestabilan larutan didapat hasil RSD 0,11untuk spektrofotometri dan RSD 0,65 untuk KCKT. Berdasarkan hasil pengujian diatas diambil kesimpulan bahwa metode spektrofotometri dapat dijadikan alternatif terhadap metode KCKT.

GAMBARAN DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PASIEN RAWAT INAP UMUM DENGAN HIPERTENSI PRIMER DI RUMAH SAKIT SALAK BOGOR PERIODE 1 OKTOBER 2011 SAMPAI DENGAN 30 SEPTEMBER 2012

No: 140 Hipertensi Primer adalah hipertensi yang tidak jelas penyebabnya yang terdiri dari faktor genetik dan lingkungan. Dalam pengobatan hipertensi, pasien selalu mendapatkan pengobatan dalam waktu lama (Jong life) dan jumlah obat yang banyak (polifarmas!), sehingga kemungkinan terjadinya masalah yang terkait dengan obat (Drug Related Problems/DRPs) sangat besar, maka tidak jarang pasien hipertensi usia lanjut melakukan rawat inap. Telah dilakukan penelitian pada pasien Hipertensi Primer yang dirawat inap di Rumah Sakit Salak selama 1 Oktober 2011 sampai dengan 30 September 2012 dengan teknik pengumpulan data retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Data yang diteliti sebanyak 30 pasien. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa pasien Hipertensi Primer lebih banyak laki — laki (53,33%) daripada perempuan (46,67%). Golongan antihipertensi yang paling banyak diterima adalah golongan ACE inhibitor (80%). Penyakit penyerta yang paling banyak ditemukan pada pasien hipertensi primer adalah dispepsia sebanyak 30%. Obat lain yang paling banyak digunakan untuk penyakit penyerta adalah golongan antasida antiulserasi sebanyak 96,64%. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa DRPs yang potensial terjadi yaitu interaksi obat bermakna klinis (34,57%), interaksi obat tidak bermakna klinis (65,43), terapi tanpa indikasi (3,85%), indikasi tanpa terapi (16,92%), overdosis (0,77%), dosis subterapetik (7,69%), pemilihan obat yang kurang tepat (8,46%), reaksi obat yang tidak dikehendaki (0%) dan kegagalan menerima obat (0%).

ANALISIS DEKSAMETASON PADA JAMU PENAMBAH NAFSU MAKAN DI DAERAH BOGOR SELATAN

No: 139 Jamu merupakan obat tradisional warisan nenek moyang yang banyak dikonsumsi masyarakat karena penggunaannya dianggap relatif lebih aman dibandingkan dengan obat sintetik. Saat ini banyak jamu yang beredar di masyarakat ditambahkan dengan obat sintetik. Siproheptadin merupakan salah satu golongan obat antihistamin. Siproheptadin merupakan obat antihistamin yang mempunyai efek samping antiserotonin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahul ada atau tidaknya bahan kimia obat siproheptadin pada jamu tradisional penambah nafsu makan. Objek penelitian adalah sampel jamu penambah nafsu makan yang beredar di daerah Bogor Utara. Untuk mengidentifikasi siproheptadin pada jamu secara kualitatif dengan melakukan uji pendahuluan yaitu uji Marquis dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Kadar siproheptadin pada jamu dapat diketahut dengan menggunakan spektrofotometri UV-VIS. Dari 10 sampel jamu penambah nafsu makan yang dianalisis terdapat satu sampel jamu yang mengandung siproheptadin yaitu pada sampel jamu D dengan kadar 6,041 jg/bungkus, walaupun tidak semua jamu tradisional yang beredar di masyarakat mengandung bahan kimia obat tetapi hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masih terdapat jamu tradisional penambah nafsu makan yang mengandung bahan kimia obat di daerah Bogor Utara.

PRODUKSI DAN PURIFIKASI SENYAWA MANOSILERITRITOL LIPID (MEL) OLEH KHAMIR Pseudozyma antartica Y7954

No: 138 Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis senyawa glikolipid manosileritritol lipid (MEL) apa yang terkandung dalam khamir Pseudozyma antartica Y 7954. Produksi senyawa glikolipid MEL diawali dengan peremajaan isolat Pseudozyma antartica Y 7954 dan penyiapan media kultur, kemudian dilakukan produksi ekstrak kasar MEL dengan metode ekstraksi menggunakan etil asetat, metanol, n-heksan dan air. Selanjutnya kromatografi lapis tipis (KLT) dilakukan untuk mendeteksi serlyawa MEL. Deteksi spot awal memberikan informasi bahwa khamir Pseudozyma antartica Y7954 merupakan penghasil tiga jenis MEL, yaitu MEL A, MEL B dan MEL C setelah disandingkan dengan khamir standar penghasil MEL A, MEL B dan MEL C. Pemurnian ekstrak dilakukan agar didapatkan senyawa murni yang kemudian struktur molekulnya diidentifikasi dengan instrumen resonansi magnetik inti (RMI). Hasil identifikasi senyawa menggunakan RMI memperlihatkan kemiripan puncak bahkan kesamaan beberapa puncak pada titik tertentu antara khamir Pseudozyma antartica Y7954 dengan khamir standar penghasil MEL B. Dapat dikatakan bahwa khamir Pseudozyma antartica Y7954 spesifik menghasilkan MEL B.

PURIFIKASI DAN ANALISIS KANDUNGAN GLIKOLIPID MANOSILERITRITOL LIPID (MEL) DARI KHAMIR Pseudozyma aphidis YB205

No: 137 Biosurfaktan merupakan alternatif untuk menanggulangi masalah yang ditimbulkan oleh surfaktan sintetik. Salah satu akibat dan. penggunaan surfaktan sintetik adalah terjadinya pencemaran lingkungan. Produksi biosurfaktan asal khamir sangat potensial dan bersifat aman. Isolat khamir Pseudozyma tengah dikembangkan sebagai surfaktan mikrobial (biosurfaktan), salah satunya adalah khamir Pseudozyma aphidis YB205. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan khamir Pseudozyma aphidis YB205 dalam memproduksi biosurfaktan kelas glikolipid, yaitu Manosileritritol Lipid (MEL) dan mengetahui jenis MEL yang dihasilkan oleh khamir ini. Produksi MEL dari khamir Pseudozyma aphidis YB205 dilakukan dengan cara fermentasi selama 10 hari pada suhu 30° C dan kecepatan agitasi 200 rpm. Fermentasi ini menggunakan substrat minyak kedelai sebanyak 5% dan sebagai sumber karbon | digunakan 5% glukosa untuk mendukung pertumbuhan khamir dengan baik. Tipe substrat yang digunakan akan berpengaruh pada pembentukan MEL. Purifikasi senyawa glikolipid dilakukan dengan metode ekstraksi menggunakan beragam pelarut organik dan Kromatografi Kolom (KK). Analisis produk fermentasi dilakukan melalui uji kualitatif yang meliputi analisis Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan analisis dengan spektrometer Resonansi Magnetik Inti (RMI) dengan spektrum satu dimensi proton lly Analisis dengan KLT menunjukkan bahwa ekstrak khamir Pseudozyma aphidis YB205 memiliki pola spot yang sama dengan isolat standar Pseudozyma antartica sebagai produsen MEL A, MEL B dan MEL C. Analisis struktur glikolipid MEL dengan spektrometer RMI menunjukkan pola puncak yang mirip dengan spektrum khamir P. antartica T-34 yang teridentifikasi sebagai produsen MEL C.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETIL ASETAT ISOLAT-ISOLAT BAKTERI TERHADAP Mycobacterium smegmatis

No: 136 Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati diantaranya kaya akan mikroba. Penggalian potensi mikroba adalah salah satu cara memanfaatkan sumber daya alam. Mycobacterium smegmatis adalah mikroorganisme yang telah menjadi salah satu bakteri percobaan di Laboratorium untuk studi biologi. Bakteri ini tergolong sebagai bakteri non-patogen pada manusia dan hewan, bersel tunggal, reproduksinya cepat, dan dikasifikasikan sebagai bakteri gram positif. Mycobacterium smegmatis memiliki struktur yang sama dengan Mycobacterium tuberculosis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ekstrak etil asetat isolat bakteri memiliki aktivitas terhadap Mycobacterium smegmatis dan mengetahui Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) yang mampu menghambat pertumbuhan Mycobacterium smegmatis. Ekstrak etil asetat yang digunakan sebanyak 51 ekstrak isolat bakteri yang diuji difusi cakram, dari 51 ekstrak tersebut terdapat 10 ekstrak yang berpotensi sebagai antibakteri. Dipilih 4 ekstrak (MKS-4G, MMKS-10C, ATH 2146, dan 065-LV-AB) yang memiliki potensi aktivitas antibakteri terbesar untuk dilakukan pengujian KHM dengan penambahan MTT assay. Pengujian juga dilakukan terhadap rifampisin yang digunakan sebagai kontrol positif. Hasil menunjukkan bahwa dari ke-4 ekstrak, satu ekstrak yaitu MKS-4G dapat menghambat pertumbuhan Mycobacterium smegmatis dengan konsentrasi hambat minimum 16 pg/ml, dan merupakan ekstrak yang memiliki potensi antibakteri yang paling tinggi, maka perlu dilakukan analisis lanjutan untuk identifikasi senyawa pada ekstrak tersebut.

PENGKAJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK ANGKAK DENGAN METODE DPPH MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

No: 135 Angkak adalah hasil fermentasi beras putih dengan kapang Monascus purpureus. Angkak dapat digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol darah, demam berdarah, juga dapat digunakan sebagai antioksidan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan yang terdapat pada ekstrak angkak dengan menggunakan pelarut etanol 75%, diklorometan dan n-heksan. Ekstraksi angkak dilakukan dengan cara refluks menggunakan pelarut etanol 75%. Masing — masing ekstrak dipartisi dengan diklorometan dan n-heksan. Uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol 75%, diklorometana dan n-heksan angkak dengan metode DPPH pengukuran menggunakan Spektrofotometri UV — VIS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol 75%, diklorometan dan n-heksan angkak memiliki aktivitas antioksidan. Nilai ICso yang terbaik terdapat pada ekstrak etanol 75% batch 2 yaitu sebesar 91,2197 ppm. Hasil pengukuran ekstrak angkak dengan KCKT dari ketiga sampel menunjukkan kadar statin tertinggi adalah pada ekstrak etanol. Ekstrak etanol menggandung senyawa atorvastatin sebesar 8,03 6% dan senyawa simvastatin sebesar 0,004%.