Sebanyak 98 item atau buku ditemukan

BIOKONVERSI D-GALAKTOSA MENJADI D-TAGATOSA OLEH ENZIM L-ARABINOSA ISOMERASE WILD TYPE dan MUTAN V472L DARI Geobacillus stearothermophilus

No: 134 Diabetes melitus merupakan penyakit yang paling banyak menyebabkan terjadinya penyakit lain (komplikasi). Tagatosa sebagai antidiabetes akan bermanfaat sebagai gula altematif karena memiliki tingkat kemanisan 92% dibandingkan sukrosa dan telah diproduksi secara biologi katalis biologis (enzim). Enzim yang saat ini paling banyak dicari untuk memproduksi tagatosa adalah Enzim Arabinosa Isomerase (AJ), yaitu yang mengkatalisis secara reversible reaksi isomerisasi D-galaktosa menjadi D-tagatosa. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan enzim muri serta menguji stabilitas enzim Wild Type dan mutan V472L mumi pada berbagai pH dan suhu dengan elektroforesis SDS-PAGE dan spektrofotometn UV-VIS. Pengubahan galaktosa menjadi tagatosa telah dilakukan dengan menggunakan enzim L-AI yang lebih murni diujikan dengan larutan uji aktivitas 10 mM karbazol 45 pl, 100 mM L-cystein 45 pl, dan 9 M H2SO, 1.350 pl campuran reaksi enzim diuji secara spektrofotometn. Hasil pengukuran dengan spektrofotometer menunjukan enzim Wild Type dan V472L yang memiliki nilai aktivitas tinggi yang dapat mengkonversi galaktosa menjadi tagatosa dan ditentukan absorbansi tagatosa. Enzim Wild Type dan V472L pada pH 7 memiliki nilai aktivitas tertinggi sebesar 277,778 U/ml dan 458.889 U/ml dan memiliki nilai aktivitas tertinggi pada suhu 50°C. sebesar 236,667 U/ml dan 388,333 U/ml. Diduga kedua enzim tersebut dapat mengkonversi galaktosa menjadi tagatosa sebagai pemanis rendah kaloni.

AKTIVITAS INHIBISI ENZIM α-GLUKOSIDASE DARI EKSTRAK AIR DAN ETANOL BAWANG MERAH (Allium ascalonicum) SECARA IN VITRO

No: 133 Diabetes mellitus merupakan penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan adanya gangguan metabolism karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Bawang merah (Allium ascalonicum) merupakan tanaman yang biasa digunakan sebagai bumbu masak juga dapat digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat berdasarkan empiris sebagai karminatif, batuk, antikolesterol, antiseptik, antiinflamasi dan antibiotic alami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas inhibisi enzim a-glukosidase dari ekstrak air dan etanol bawang merah secara in vitro. Selain itu penelitian ini menentukan komponen fitokimia dalam ekstrak tersebut. Simplisia umbi bawang merah diekstraksi dengan menggunakan metodemaserasi. Ekstrak yang diperoleh diuji daya inhibisinya terhadap a-glukosidase secara in vitro dan ditentukan komponen fitokimianya. Penghambatan aktivitas a- glukosidase diukur menggunakan microplate absorbance reader pada panjang gelombang 410nm. Daya inhibisi a-glukosidase oleh ekstrak air, ekstrak 96% dan ekstrak etanol 70% bawang merah dan akarbosa 1% berturut -turut adalah 11,75%, 20,92%, 4,48% dan 99,37%. Hasil daya inhibisi ketiga ekstrak ini berbeda nyata (p<0,05) dengan daya inhibisi akarbosa 1%. Ekstrak air bawang merah mengandung flavonoid dan tanin sedangkan ekstrak etanol 96% dan ekstrak etanol 70% bawang merah mengandung flavonoid, tanin, dan saponin.

ANALISIS KUANTITATIF RUBIADIN DARI EKSTRAK AKAR GINSENG KUNING (Rennellia elliptica Korth) DENGAN METODE HPLC (High Performance Liquid Crhomatography)

No: 132 Ginseng kuning (Rennellia elliptica Korth) merupakan semak tropis dari keluarga Rubiaceae yang digunakan untuk pengobatan. Ekstrak akar tanaman ini mempunyai khasiat antioksidan. Terdapat beberapa turunan senyawa antrakuinon pada akar tanaman ini salah satunya adalah rubiadin yang merupakan senyawa aktif. Analisis rubiadin dilakukan dengan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Analisis dilakukan dengan menggunakan kolom C18 (250 mm x 4.6 mm) fase terbalik, detektor UV-Vis pada panjang gelombang 254nm. Kondisi kromatografi dioptimasi dengan perbandingan fase gerak aquabidest - asam asetat 99,9:0,1 v/v (pompa A) dan asetonitril (pompa B) secara gradient dengan laju alir 0.8 ml/menit. Untuk meyakinkan bahwa metode analisis HPLC dapat digunakan sesuai dengan tujuan yang diinginkan maka metode tersebut divalidasi. Parameter-parameter validasi yang diuji meliputi linieritas, batas deteksi (LOD), batas kuantitasi (LOQ), presisi dan akurasi. Dari hasil penelitian didapat waktu retensi untuk standar rubiadin, ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol sekitar menit ke 13. Untuk ekstrak etil asetat diperoleh kadar sebesar 16.85'% sedangkan untuk ekstrak etanol 967% diperoleh kadar sebesar 0.32%. Linieritas dengan rentang konsentrasi 0.05ug/ml sampai 1.00p2/ml memiliki nila rata-rata koefisien korelasi (r) 0.9994. Batas deteksi metode ini adalah 0.03 p1g/ml dan batas kuantitasi sebesar 0.10pg/ml. Presisi dilakukan pada hari yang sama sebanyak tiga kali ulangan selama tiga hari menunjukkan ketelitian yang sangat baik dengan simpangan baku relatif untuk konsentrasi 250 pg/ml, 500 pg/ml, dan 1000 ug/ml berturut-turut adalah 0.0097%,0.0016% dan 0.0102%. akurasi dilakukan dengan penambahan standar kedalam sampel dengan tiga konsentrasi yaitu 300 pg/ml, 500 pg/ml dan 700 pg/ml dengan nilai rata-rata perolehan kembali sebesar 110.68%.

AKTIVITAS INHIBISI α-GLUKOSIDASE EKSTRAK ETIL ASETAT, HEKSAN DAN ETIL ASETAT : HEKSAN (1:1) DARI KULIT BATANG Cinnamomum burmannii DAN Cinnamomum verum

No: 131 Diabetes Melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah. Penggunaan obat-obatan sintesis sebagai antidiabetes masih tergolong sangat mahal maka sebagai alternatif pengobatan digunakan tanaman yang relatif murah dan mudah didapat oleh masyarakat, salah satunya yaitu tanaman kayu manis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya inhibisi ekstrak etil asetat, heksan, dan etil asetat : heksan (1:1) kulit batang kayu manis (Cinnamomum burmannii dan Cinnamomum verum) dengan konsentrasi 0.375% terhadap aktivitas enzim a-glukosidase dan dibandingkan dengan akarbosa 0.375%. Selain itu penelitian ini menentukan komposisi fitokimia dalam ekstrak tersebut. Kulit batang kayu manis Cinnamomum burmannii dan Cinnamomum verum diekstraksi dengan metode maserasi. Ekstrak yang diperoleh diuji daya inhibisinya terhadap a-glukosidase secara in vitro dan ditentukan komponen fitokimianya. Ekstrak dengan daya inhibisi terbaik adalah ekstrak etil asetat Cinnamomum burmannii dan Cinnamomum verum dengan nilai inhibisi berturut-turut sebesar 88.08% dan 77.53% yang tidak berbeda nyata dengan akarbosa. Berdasarkan hasil uji fitokimia senyawa yangterkandung di dalam ekstrak etil asetat Cinnamomum burmannii adalah flavonoid, tanin, saponin, hidrokuinon dan triterpenoid. Sedangkan senyawa yang terkandung didalam ekstrak etil asetat Cinnamomum verum adalah flavonoid, tanin, saponin, hidrokuinon, steroid dan triterpenoid.

SKRINING DAN ISOLASI METABOLIT BIOAKTIF JAMUR ENDOFIT DARI GINSENG KUNING (Rennellia elliptica Korth.) SERTA UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli

No: 130 Dalam dua dekade ini, mikroba endofit merupakan salah satu sumber utama mikroba penghasil antibiotik. Salah satunya adalah jenis jamur endofit yang diketahul dapat menghasilkan berbagal senyawa bioaktif. Pada penelitian ini, dilakukan skrining, isolasi, dan uji aktivitas antibakteri dari Ginseng Kuning (Rennellia elliptica Korth.). Skrining aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode bioautografi dan menghasilkan isolat yang paling aktif yaitu ekstrak GKBt-2. Perbanyakan kultur jamur endofit GKBt-2 dalam media Glucose-Yeast extract-Peptone (GYP) yang dilanjutkan dengan ekstraksi etil asetat menghasilkan ekstrak GKBt-2 sebanyak 275,5 mg berwama merah tua. Isolasi senyawa aktif dari ekstrak GKBt-2 dilakukan menggunakan kromatografi kolom silika gel, diperoleh senyawa murni F.3. Penentuan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) terhadap F.3 menggunakan metode mikrodilusi. Sebagai kontrol positif digunakan kloramfenikol dan eritromisin. Nilai MIC untuk bakteri Staphylococcus aureus dari F.3. kloramfenikol, dan eritromisin masing-masingsebesar 64 pg/mL, 16 pg/mL, dan 8 pg/mL. Nilai MIC untuk bakteri Escherichia coli dari F.3, kloramfenikol, dan eritromisin masing-masing sebesar 64 pg/mL, 4 ug/mL, dan 16 g/mL.

UJI AKTIVITAS ANTIDIABETES EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI PELARUT DAUN WUNGU (Graptophyllum pictum (L.) Griff) SECARA IN VITRO MELALUI UJI INHIBISI ENZIM α-GLUKOSIDASE

No: 129 Graptophyllum pictum (L.) Griff yang dikenal dengan nama daun wungu adalah tanaman obat yang telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk diabetes melitus. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa ekstrak kasar etanol 70% daun wungu memiliki daya hambat terhadap enzim a- glukosidase yang paling tinggi dibandingkan dengan pelarut yang lain dan dapat mengekstraksi seluruh senyawa yang diharapkan. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian lanjutan yang bertujuan untuk menguji daya inhibisi ekstrak kasar etanol 70% daun wungu dan fraksi-fraksi pelarut dari ekstrak kasar tersebut terhadap aktivitas enzim a-glukosidase dan membandingkan aktivitasnya dengan akarbosa (glukobay) 1% sebagai kontrol positif serta melakukan uji fitokimia dari masing-masing fraksi pelarut. Ekstrak kasar etanol 70% difraksinasi dengan metode ekstraksi cair-cair dan diperoleh 3 fraksi, yaitu fraksi polar pertengahan, fraksi basa dan fraksi polar. Uji inhibisi terhadap aktivitas enzim a-glukosidase secara in vitro menunjukkan ekstrak kasar etanol 70%, fraksi polar pertengahan, fraksi basa dan fraksi polar semuanya menghambat aktivitas enzim a-glukosidase, berturut-turut sebesar 41.40%, 37.75%, 30.23% dan 12.71%. Namun aktivitas inhibisi. ekstrak kasar maupun fraksi-fraksi pelarut tersebut lebih rendah dibandingkan dengan aktivitas akarbosa 1% sebagai kontrol positif. Kandungan senyawa kimia pada fraksi polar pertengahan, fraksi basa dan fraksi polar adalah flavonoid, saponin dan steroid. Senyawa tanin terkandung dalam fraksi polar, namun fraksi tersebut tidak mengandung triterpenoid sedangkan alkaloid terdapat pada fraksi polar dan fraksi basa.

PRODUKSI ENZIM L-ARABINOSA ISOMERASE WILD TYPE DAN MUTAN Q269K DARI Geobacillus stearotermophilus UNTUK MENGUBAH D-GALAKTOSA MENJADI D-TAGATOSA

No: 128 Tagatosa merupakan salah satu pemanis alternatif untuk menggantikanpemanis yang biasa dikonsumsi dengan kemanisan yang mirip dengan sukrosa, namun rendah kalori, dan memiliki efek glikemia yang sangat kecil dalam darah. Tagatosa di buat dengan cara mengkonversi dari galaktosa oleh enzim L- Arabinosa Isomerase (L-Al) yang diperoleh dari bakteri Geobacillus stearotermophilus. Pengembangan lain adalah modifikasi dari enzim L-AI dengan harapan diperoleh tagatosa lebih banyak dibandingkan dengan enzim L-Al murni. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan enzim L-AI Wild Type (murni) dengan L-AI modifikasi (Q269K) dari E.coli yang berasal dari Tanjung Api, Poso. Perbandingan ini didasarkan pada aktivitas enzim pada suhu dan pH optimum dari masing-masing enzim. Aktivitas enzim = diukur dengan menggunakan Spektrofotometer UV-VIS pada panjang gelombang 560 nm. Hasil dari L-AI Wild Type menunjukkan pH optimum 7 dan suhu optimum 50°C, sedangkan L-AI Q269K menunjukkan pH optimum 9 dan suhu optimum 90°C. Aktivitas enzim yang berdasarkan pada pH optimum dari L-Al Wild Type dan L-AI Q269K berturut-turut sebesar 277.778 U/ml dan 714.444 U/ml. Sedangkan aktivitas enzim yang berdasarkan pada suhu optimum dari L-Al Wild Type dan L-Al Q269K berturut-turut sebesar 236.667 U/ml dan 1312.222 U/ml. Hasil menunjukkan pada pH dan suhu optimum aktivitas enzim tertinggi yaitu enzim L- AI Q269K. Berdasarkan perhitungan aktivitas ketebalan pita dengan metode Bradford Wild Type dan mutan Q269K didapatkan konsentrasi protein sebesar 0.606 mg/ml.

EFEK tert-BUTIL HIDROPEROKSIDA DALAM BERBAGAI KONSENTRASI TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN LUTEIN DARI TANAMAN SELEDRI (Apium graveolens L.) YANG DIUJI SECARA IN VITRO

No: 127 Tanaman seledri memiliki banyak khasiat, diantaranya untuk pengobatan tekanan darah tinggi dan rematik (gout). Sebagian masyarakat belum mengetahui ada senyawa dari tanaman seledri yang berpotensi sebagai antioksidan, khususnya senyawa lutein. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara in vitro aktivitas antioksidan senyawa lutein dari tanaman seledri yang ditanam di desa Tarigu, Cipanas-Jawa Barat. Ekstraksi dilakukan dengan mengekstraksi bagian batang dan daun tanaman seledri dengan cara maserasi dan digestasi menggunakan pelarut heksana dan isopropanol. Ekstraksi dengan heksana dilakukan pada suhu ruang selama 48 jam, dan digestasi dengan isopropanol dilakukan pada suhu 50°C selama 1 jam. Selanjutnya dilakukan saponifikasi dengan natrium hidroksida dan dilakukan pencucian dengan air sebanyak dua kali pengulangan serta diuapkan hingga didapat ekstrak lutein dalam bentuk kristal berwarna kuning. Pengujian antioksidan dilakukan secara in vitro pada sel darah domba yang diinduksi dengan berbagai konsentrasi tersier-Butil Hidroperoksida (t-BHP), kemudian dilakukan pengukuran kadar malondialdehida (MDA), aktivitas enzim katalase dan superoksida dismutase (SOD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman seledri yang ditanam di desa Tarigu, Cipanas-Jawa Barat mengandung senyawa lutein dan berfungsi sebagai antioksidan. Konsentrasi oksidan tert-Butil Hidroperoksida (t-BHP) 5-10 mM memberikan efek terhadap aktivitas antioksidan lutein (20 g/mL) dengan penurunan kadar malondialdehida (MDA) dan peningkatan aktivitas enzim katalase. Tetap1 peningkatan aktivitas enzim superoksida dismutase (SOD) terjadi setelah sel darah diinduksi oksidan t-BHP konsentrasi 5 mM.

UJI AKTIVITAS PENGHAMBATAN ANGIOTENSIN CONVERTING ENZYME OLEH EKSTRAK BERAS FERMENTASI Monascus purpureus TST

No: 126 Angkak merupakan hasil fermentasi beras oleh kapang Monascus purpureus. Angkak mengandung senyawa aktif yang merupakan hasil metabolisme sekunder dari kapang Monascus purpureus, salah satu senyawa tersebut adalah senyawa GABA (Gamma-aminobutyric acid), yaitu senyawa aktif yang bersifat hipotensif yang mampu menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi). Oleh karena itu digunakan sebagai penghambat ACE (Angiotensin converting enzyme). Pengahmbatan ACE merupakan salah satu mekanisme antihipertensi yang efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas ekstrak beras fermentasi Monascus purpureus TST sebagai penghasil senyawa antihipertensi melalui aktivitas penghambatan ACE. Pengukuran aktivitas penghambatan ACE dilakukan dengan menggunakan substrat enzim ACE yaitu substrat N-Hippuril-L-histidyl-L-leucine hydrate yang terhidrolisis menjadi N-hippuric acid dan L-histidyl-L-leucine yang diukur secara in vitro dengan menggunakan spektrofotometri. Sampel penghambat ACE yang diuji aktivitas penghambatannya terdiri atas GABA murni (gamma aminobutyric acid) sebagai kontrol positif, ekstrak TST yang diperoleh dari fermentasi beras dan kapang M. purpureus, dan campuran antara ekstrak TST dan GABA murni. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak TST dari hasil fermentasi beras dengan kapang Monascus purpureus dapat menghasilkan senyawa aktif GABA yang berpotensi sebagai penghambat ACE yang dapat menurunkan tekanan darah tinggi sehingga dapat digunakan untuk terapi hipertensi. Dengan mempunyai_nilai aktivitas penghambat ACE sebesar 209.14%.

MODIFIKASI DAN VALIDASI METODE PENETAPAN KADAR AMPISILIN 500 KAPLET SECARA KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI

No: 125 Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) sebagai metode alternatif untuk penetapan kadar Ampisilin 500 kaplet perlu dilakukan validasi terlebih dahulu untuk membuktikan keabsahannya. Studi ini bertujuan untuk melakukan modifikasi dan validasi metode analisis dengan parameter linearitas, presisi, akurasi, spesifisitas dan robustness. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini mengacu pada Farmakope Indonesia edisi IV halaman 103 — 104 dengan modifikasi yakni pada panjang gelombang 254 nm, menggunakan kolom L1 dengan laju alir 1 mL/menit, fase gerak dan pelarut yang digunakan adalah KH>PO, 0,01 M : asam asetat 1 N : asetonitril (89 : 1 : 10) yang diatur pH 4 dengan asam asetat 1 N. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari hasil modifikasi diperoleh linearitas dalam rentang konsentrasi 80-120 % (koefisien korelasi = 0,9997), akurasi (rata-rata perolehan kembali = 99,18), presisi (simpangan baku relatif = 0,08 % untuk standar dan 0,54 % untuk sampel).