Sebanyak 98 item atau buku ditemukan

UJI AKTIVITAS VINEGAR AIR KELAPA (Cocos nucifera) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

No: 124 Bahan makanan merupakan media yang baik bagi pertumbuhan berbagai macam bakteri. Eksplorasi penggunaan at antibakteri yang aman dapat digunakan dari sumber yang alami. Salah satu antibakteri alami yang dapat digunakan yaitu asam asetat yang merupakan produk akhir dari vinegar air kelapa. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari aktivitas antibakteri dari vinegar air kelapa terhadap bakteri uji Gram positif (Staphylococcus aureus) dan Gram negatif (Escherichia coli) serta menentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dari vinegar air kelapa, dengan amoksisillin sebagai kontrol positif. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsentrasi Acetobacter aceti (10%, 20% dan 30%) yang digunakan untuk pembuatan vinegar air kelapa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vinegar air kelapa dengan starter Acetobacter aceti 10% mempunyai konsentrasi asam asetat tertinggi. Data hasil KHM vinegar air kelapa terhadap pertumbuhan bakten Staphylococcus aureus dan Escherichia coli yaitu 0.3%. Hasil KHM tersebut digunakan untuk uji aktivitas antibakteri dengan penentuan Diameter Daerah Hambat (DDH) menggunakan metode difusi sumur. Berdasarkan hasil uyi, aktivitas hambatan 7 vinegar air kelapa terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coliberturut-turut sebesar 3.787,6250 mm-/ml dan 3.336,250 mm/’/ml yang berbeda nyata dengan Amoksisillin terhadap bakten Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. berturut-turut sebesar 19.350,250 mm/ml dan 17.569,000 mm’/ml.

IDENTIFIKASI MIKROBA PADA FESES MUSANG (Paradoxorus hermaproditus) YANG DIBERI RANSUM BERBEDA DAN DAMPAKNYA TERHADAP KADAR KAFEIN KOPI LUWAK

No: 123 Kopi ( Coffea sp ) adalah salah satu sumber kafein, dalam satu sajian kopi mengandung sekitar 100-150 mg kafein untuk satu cangkir ( 200 MI ). Kafein mempunyai daya kerja sebagai stimulant system syaraf pusat, stimulant otot jantung, relaksasi otot polos dan diuretic ringan. Efek kafein dapat menigkat dan dapat menyebabkan kofeinisme apabila berinteraksi dengan beberapa jenis obat atau dikonsumsi secara berlebihan. Kopi luwak ( Civet coffee ) memang berasal dari kotoran hewan luwak ( Paradoxorus hermaproditus ), walaupun berasal dari kotoran hewan, kopi luwak ini adalah kopi termahal di Indonesia. Menurut sejarahnya, kopi luwak berasal dari Indonesia, yaitu pada zaman penjajahan Belanda. Dalam penelitian di Universitas Indonesia, tebukti bahwa kadar kafein yang terkandung pada kop! luwak asli hanya sekitar 0,5 % sampai dengan 1 %, itu dikarenakan proses fermentasipada pencernaan tuwak ini meningkatkan kualitas kopi karena selain berada pada suhu fermentasi optimal yaitu 24 -26° C juga dibantu dengan enzim dan bakteri yang ada pada pencernaan luwak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bakteri atau ragam mikroba yang terdapat dalam pencernaan atau feses luwak dan mengetahui ransum mana yang menghasilkan kadar kafein paling rendah pada kopi luwak. Metode yang digunakan untuk ‘dentifikasi mikroba adalah metode colony PCR dan untuk analisa kafein menggunakan KCKT ( kromatografi cair kinerja tinggi ). Kafein disari dari bubuk kopi menggunakan aquadest dan dipanaskan, kemudian larutan disuntikan ke alat KCKT merek Shimadzu LC-ting, menggunakan kolom Hypersil ODS C 18,5 UM, 100 x 4,6 mm dan detector VWD dengan UV pada panjang gelombang 272 nm. Fase gerak mengunakan campuran aquadesfilter : methanol ( 70 % : 30 % ) dengan kecepatan alir 0,75 Mi/menit dan pada temperature 35°C. Hasil untuk identifikasi mikroba pada feses terdapat bakteri Enterococcus durans, Lactococcus garvieae, dan Enterococcus sulfurous. Hasil uji organoleptik pada masing-masing sampel kopi yaitu: sampel A memiliki tektur yang khas dan bau wangi serta memiliki rasa pahit sedikit manis, sampel B memiliki tekstur khas, bau sedikit wangi dan rasa yang pahit, dan untuk sampel kopi C memiliki tekstur yang khas dan rasa yang pahit. Sedangkan untuk analisa kafein dalam kopi luwak bubuk untuk sampel A sebesar 0,5999%, B sebesar 0,6014%, dan untuk sampel C sebesar 0,6014%.

EVALUASI AKTIVITAS ANTIBIOTIK SENYAWA BL-22 PRODUKSI ACTINOMYCETES INDONESIA

No: 122 Kasus penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri semakin meningkat. Pengobatan penyakit infeksi salah satunya dengan menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik sebagai antiinfeksi yang berlebihan dan kurang terarah menyebabkan terjadinya resistensi. Actinomycetes adalah bakteri yang memiliki aktivitas antibiotik terhadap beberapa mikroorganisme patogen. Telah dilakukan penelitian pada senyawa BL-22 yang diketahui memiliki aktifitas tinggi sebagai antibiotik secara kualitatif. Penelitian ini telah dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibiotik senyawa BL-22 secara kuantitatif dan prediksi mekanisme kerja dari senyawa murni produksi Actinomycetes selama 6 bulan. Aktivitas antibiotik tersebut ditunjukkan dengan nilai MIC (Minimum Inhibitory Concentration), MBC (Minimum Bacterisid Concentration) dan kebocoran sel. Penelitian dilakukan dengan metode mikrodilusi untuk MIC dan MBC pada 10 bakteri uji (Escherichia coli, Salmonella thypi, Staphylococus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella paratyphi, Salmonella enteridis, Streptococcus pneumonia, Klebsiella pneumonia, Bacillus subtilis dan Mycobacterium smegmatis). Pengujian kebocoran protein, RNA, dan DNA menggunakan 3 bakteri uji (Staphylococus aureus, Salmonella paratyphi, dan Mycobacterium smegmatis) menggunakan metode spektrofotometri dengan panjang gelombang 260 nm untuk protein dan 280 nm untuk asam nukleat . Nilai MIC berkisar antara 6,25-100 pg/mL. Nilai MBC memiliki nilai terendah 200 ug/mL, sedangkan untuk beberapa bakteri mencapai lebih dari 800 pg/mL. Nilai MBC memiliki nilai rata-rata empat kali lebih tinggi dibandingkan MIC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua bakteri telah mengalami resistensi. Hasil penelitian juga menunjukkan telah terjadi kebocoran sel berupa kebocoran protein, RNA dan DNA dari bakteri uji oleh perlakuan senyawa aktif. Perlakuan senyawa BL-22 secara umum menghasilkan tingkat kebocoran sel tertinggi dibanding antibotik komersial (amoksilin, vankomisin, dan rifampisin).

ANALISIS METAMPIRON PADA JAMU ANTIREMATIK YANG BEREDAR DI BOGOR TENGAH

No: 121 Jamu merupakan obat tradisional yang banyak diminati oleh masyarakat karena selain khasiatnya juga mempunyai efek samping yang relatif kecil. Salah satu jamu tersebut adalah jamu antirematik. Berdasarkan data BPOM dari tahun 2001 hingga 2010 banyak ditemukan jamu antirematik yang beredar dimasyarakat mengandung bahan kimia obat analgetik dan kortikosteroid. Hal ini tidak sesuai dengan Keputusan Kepala BPOM No.HK.00.05.41.1384 tahun 2005 yang menyebutkan bahwa obat tradisional dilarang menggunakan bahan kimia sintetis berkhasiat obat. Metampiron merupakan salah satu bahan kimia obat golongan analgetik yang sering ditambahkan pada jamu antirematik. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui ada atau tidak metampiron yang ditambahkan pada jamu antirematik yang sekarang beredar di masyarakat. Identifikasi metampiron pada sampel jamu antirematik meliputi analisis kualitatif : uji warna, uji pembentukan gas asam sulfida dan uji secara mikroskopik. Analisis kuantitatif sampel jamu yang teridentifikasi mengandung metampiron dilakukan dengan menggunakan metode KCKT pada panjang gelombang 258 nm. Dari 11 sampel yang telah diuji diperoleh tiga sampel jamu antirematik yang mengandung metampiron. Sampel jamu kode 1 mengandung 0,013! mg/bungkus, kode 2 mengandung 0,0302 mg/bungkus dan kode 7 mengandung 0,0009 mg/bungkus. Meskipun konsentrasi metampiron pada sampel jamu tidak terlalu tinggi tetapi hal ini tidak sesuai dengan Keputusan Kepala BPOM.

ANALISIS KANDUNGAN GABA (GAMMA-AMINOBUTYRIC ACID) DALAM BERAS YANG DIFERMENTASI OLEH TIGA ISOLAT Monascus purpureus

No: 120 Angkak atau dikenal juga dengan sebutan beras merah merupakan _hasil fermentasi antara beras putih dan kapang Monascus purpureus. Angkak yang semula digunakan sebagai pewarna dan pengawet makanan alami, ternyata memiliki khasiat sebagai obat, antara lain penurun kolesterol, demam berdarah dengue (DBD), dan menurunkan tekanan darah tinggi. Kapang M. purpureus memberikan warna merah pada beras, selain itu metabolit sekunder lain yang dihasilkan antara lain lovastatin, citrinin, dan GABA. GABA dalam angkak bersifat hipotensif, yaitu suatu senyawa aktif yang mampu menurunkan tekanan darah tinggi. Untuk mengetahui kandungan GABA dalam angkak, maka perlu dilakukan penelitian ini yang bertujuan menganalisis kandungan GABA dengan menggunakan berbagai macam isolat yang berbeda. Dalam penelitian ini, digunakan tiga macam isolat M. purpureus yaitu AS, TST dan JmbA sedangkan analisis kandungan GABA-nya dilakukan dengan metode KCKT (kromatografi cair kinerja tinggi). M. purpureus AS, TST dan JmbA difermentasikan dengan beras selama 14 hari untuk selanjutnya disebut angkak, masing-masing isolat dibuat dua ulangan, kemudian diekstraksi dengan cara maserasi. Ekstrak GABA yang diperoleh dibuat derivatisasinya yaitu PTC-GABA. Dibuat larutan standar GABA mumi dengan konsentrasi | ppm, 5 ppm, 10 ppm, 50 ppm dan 100 ppm. PTC-GABA dan larutan standar GABA muri dianalisis menggunakan metode KCKT dengan panjang gelombang 254 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat M/ purpureus TST memiliki kadar GABA lebih tinggi disbanding isolat Z purpureus AS dan JmbA dengan kadar sebesar 0,0238% atau 237,744802 g/g. Ini menunjukkan bahwa isolat M. purpureus TST yang memiliki kadar GABA lebih tinggi yang dipilih untuk tahap selanjutnya dalam uji in vitro.

PENGARUH BERBAGAI SUMBER NITROGEN DAN KARBON TERHADAP PEMBENTUKAN BETA-KAROTEN DAN ASTAXANTIN MIKROLAGA Porphyridium cruentum

No: 119 Porphyridium cruentum adalah mikroalga merah yang memiliki kandungan nutrisi dan pigmen yang sangat tinggi. Pertumbuhan mikroalga ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan komposisi medium, seperti adalah sumber nitrogen dan sumber karbon. Sumber nitrogen yang digunakan adalah KNO3, NaNO3, (NH4)2CO dan (NH2)4SO4 dengan konsentrasi masing-masing 1 gram/L, sedangkan untuk sumber karbon digunakan glukosa, maltosa, amilum dan molase dengan konsentrasi masing-masing 0,25 gram/L. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode turbidimetri (untuk menentukan kurva pertumbuhan P. cruentum), metode ekstraksi karotenoid Hua Bin Li 2002, metode sprektrofotometri (beta-karoten % 450 nm dan astaxantin A 479 nm). Hasil pengamatan selama 11 hari masa kultivasi dapat terlihat bahwa fase logaritmik terjadi pada hari ke-1 sampai hari ke-8, fase stasioner terjadi pada hari ke-9 sampai hari ke-11. Karotenoid tertinggi terdapat pada fase stasioner. Pada semua media pertumbuhan yang menghasilkan kadar beta-karoten dan astaxantin pada sumber nitrogen terbaik adalah NaN O3, untuk beta-karoten dengan kadar tertinggi sebesar 183,69 ppm (logaritmik) dan sebesar 421,53 ppm (stasioner). Sedangkan astaxantin tertinggi sebesar 39,65 ppm (logaritmik) dan sebesar 105,25 ppm (stasioner). Sumber karbon terbaik adalah amilum, untuk beta-karoten dan astaxantin tertinggi sebesar 190,08 ppm (logaritmik) dan sebesar 513,98 ppm (stasioner). Sedangkan untuk astaxantin sebesar 42,12 ppm (logaritmik) dan sebesar 125,85 ppm (stasioner). Berdasarkan hal tersebut maka, variasi sumber nitrogen (NaNO3) dan sumber karbon (Amilum) mempengaruhi pembentukan beta-karoten dan astaxantin pada mikroalga Porphyridium cruentum.

UJI AKTIVITAS EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus

No: 118 Telah dilakukan uji aktivitas ekstrak bawang putih (A//ium sativum) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak serbuk bawang putih, serbuk bawang putih komersial dan bawang putih segar yang dimaserasi dengan pelarut etanol 70% dan air. Kontrol positif yang digunakan yaitu amoksisilin. Semua ekstrak dianalisis menggunakan GC-MS dan hasil analisis dengan kadar allicin dan senyawa turunannya yang dominan dilanjutkan pada pengujian penentuan kadar hambat minimum dan diameter daerah hambat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih segar dengan pelarut etanol 70% memiliki kadar allicin dan senyawa turunannya paling banyak. Ekstrak tersebut memiliki kadar hambat minimum pada konsentrasi 35% untuk bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus sedangkan untuk amoksisilin pada konsentrasi 0,05%. Ekstrak bawang putih segar pelarut etanol 70% memiliki aktivitas hambatan pada bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus berturut-turut sebesar 4085,3 mm?/ml dan 3938,08 mm’/ml yang berbeda nyata dengan amoksisilin.

IDENTIFIKASI SENYAWA AKTIF YANG BERPOTENSI SEBAGAI ANTIOKSIDAN PADA BUNGA BROKOLI (Brassica poleracea L.cv. Groups Brocolli) DENGAN METODE ABTS

No: 117 Aktivitas antioksidan sangat penting untuk melindungi tubuh kita dan radikal bebas. Jenis sayuran hijau seperti brokoli mempunyai kandungan senyawa galoxolide yang tinggi berperan sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi senyawa aktif dari bunga brokoli, dan mengevaluasi lebih lanjut potensi antioksidan dengan menggunakan asam 2,2’-azino-bis-3-etilbenztiazolin-6-sulfonat (ABTS). Ekstraksi serbuk bunga _ brokoli menggunakan n-heksan sebagai pelarutnya. Ekstrak heksan selanjutnya diidentifikasi dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Gas Chromatography Mass Spectrophotometry (GC-MS). Hasil KLT ekstrak heksan bunga brokoli teridentifikasi dengan nilai Rf sebesar 0,68 cm, dan pada hasil GC-MS menunjukkan bahwa senyawa yang terdeteksi memiliki aktivitas antioksidan adalah senyawa galoxolide. Hasil uji potensi antioksidan ekstrak heksan dan bunga brokoli menunjukkan kemampuan daya antioksidan yang sangat tinggi dengan nilai ICs59 57,17 ppm.

UJI AKTIVITAS FRAKSI-FRAKSI EKSTRAK ETIL ASETAT DARI BIAKAN Actinomycetes (PM 1110 HB) DAN KAPANG (065 LV A) TERHADAP Mycobacterium smegmatis

No: 116 Indonesia mengalami kasus tuberculosis (TB) yang lebih rumit dan kompleks dengan adanya Multi Drug Resistance (MDR) TB. Berdasarkan data WHO, Indonesia berada pada peringkat delapan urutan kasus MDR TB terbanyak di dunia. Actinomycetes dikenal sebagai salah satu bakteri penghasil antibiotik, karena lebih dari 10.000 antibiotik yang telah ditemukan dua pertiganya dihasilkan oleh bakteri ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari potensi dari metabolit sekunder Actinomycetes dan kapang yang dapat menghambat pertumbuhan Mycobacterium smegmatis sebagai model dari Mycobacterium tuberculosis. Metabolit sekunder dari Actinomycetes dan kapang diperoleh dengan cara mengekstraksi biakan Actinomycetes dan kapang dengan cara maserasi menggunakan etil asetat dan dievaporasi supernatannya. Hasil ekstrak yang diperoleh kemudian dipisahkan dengan menggunakan metode kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis sehingga menghasilkan fraksi-fraksi. Fraksi-fraksi inilah yang selanjutnya diujikan terhadap Mycobacterium smegmatis dengan menggunakan metode MIT (Methylthiazol Tetrazolium) assay. Dari hasilpengujian yang dilakukan pada fraksi-fraksi dari metabolit sekunder Actinomycetes (PM 1110 HB) dan kapang (065 LV A), diperoleh dua fraksi yang mempunyai potensi dengan baik dalam menghambat pertumbuhan Mycobacterium smegmatis. pengujian juga dilakukan terhadap rifampicin yang digunakan sebagai standar. Hasil menunjukkan bahwa fraksi 4 dari kapang (065 LV A) memiliki nilai absorbansi sebesar 0,083 pada masa inkubasi selama 24 jam dan fraksi 5 dari Actinomycetes (PM 1110 HB) memiliki nilai absorbansi sebesar 0,065 dan 0,073 pada masa inkubasi selama 24 dan 48 jam.

UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK AIR ALBUMIN IKAN GABUS (Chana striata) TERHADAP KESEMBUHAN LUKA DAN KADAR ALBUMIN DARAH PADA TIKUS PUTIH

No: 115 Luka paskaoperasi dan kekurangan albumin hanya dapat disembuhkan dengan TSA hemes serum albumin secara intravena (i.v). Diketahui harga serum albumin sangatlah mahal sehingga menjadi masalah bagi masyarakat menengan kebawah. Ikan gabus merupakan salah satu pengganti serum albumin karna diketahut memiliki kandungan albumin yang tinggi. Namun secara experimental belom memberikan bukti. Penelitian ‘ni bertujuan untuk mengetahui efektivitas . pemberian secara peroral ekstrak air ikan gabus terhadap penyembuhan luka dan | meningkatkan kadar albumin darah pada tikus yang dilukai. Penelitian ini didahului dengan pembuatan simplisia ikan gabus (Channa striata), kemudian diekstraksi dengan maserasi menggunakan pelarut akuades dan kemudian dilakukan penyimpanan ekstraksi albumin pada suhu 4°C, selanjutnya diberikan pada 25 tikus jantan, dengan umur 2-3 bulan, berat badan 180-200 gram. semua tikus dilukai sehingga tampak sakit dan kekurangan albumin. 25 ekor tikus dibagi dalam 5 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 5 ekor tikus. kemudian dilakukan pemberian ekstrak air ikan gabus dengan frekuensi yang berbeda secara peroral. Pengamatan dan pengukuran kadar albumin darah dilakukan pada pra dan pasca perlakuan, hasil penelitian kadar albumin darah dianalisis dengan alat pengukur albumin darah Auto analyzer mindray 400. Data dianalisis dengan metode anova untuk membandingkan kelompok I, IL, I, IV, V- Hasil penelitian menunjukan pemberian ekstrak air ikan gabus pada proses kesembuhan luka dan peningkatan kadar albumin dengan dosis 5mi 1 x sehari sudah cukup efektif.