Sebanyak 98 item atau buku ditemukan

UJI TOKSISITAS DAN ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK AIR DAN ETANOL KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L)

No: 114 Kulit buah manggis (Garcinia mangostana L) merupakan salah satu tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional, yang digunakan sebagai komponen utama dalam produk jamu dan bahan suplemen lainnya. Diketahui memiliki bahan-bahan aktif yang mempunyai efek sebagai antibakteri. Selama ini kebanyakan dari masyarakat menikmati rasa dari daging buahnya, tanpa mereka sadari bahwa kulit buah manggis juga mempunyai manfaat yang baik untuk kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi potensi antibakteri ekstrak kulit buah manggis terhadap bakteri serta menguji tingkat toksisitasnya. Kandungan senyawa yang terdapat pada kulit buah manggis diekstraksi menggunakan pelarut air dan etanol. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol dan ekstrak air memiliki aktivitas penghambatan terhadap bakteri Micrococcus luteus, Bacillus subtillis, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, kecuali Escherichia coli dibandingkan dengan aktivitas penghambatan kloramfenikol yang kuat. Hasil uji toksisitas menunjukkan bahwa ekstrak etanol dan air memiliki tingkat toksisitas sedang terhadap larva udang Artemia salina Leach dengan nilai LCso (Lethal Concentration) masing-masing sebesar 13,489 ppm dan 35,48] ppm. Sementara hasil uji fitokimia dengan menggunakan reagen. dan kromatografi lapis tipis menunjukkan bahwa ekstrak etanol mengandung komponen senyawa alkaloid, flavonoid dan tanin sedangkan ekstrak air mengandung komponen senyawa alkaloid, saponin dan tanin.

UJI AKTIVITAS TANIN EKSTRAK DAUN TEH (Camelia sinensis), DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) DAN DAUN JERUK PURUT (Citrus hystrix DC) TERHADAP KADAR MERKURI (Hg) SECARA IN VITRO

No: 113 Tanin merupakan salah satu senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman dan disintesis oleh tanaman. Tanin tergolong senyawa polifenol dengan karakteristiknya yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan makromolekul lainnya. Tanin memiliki sifat antara lain dapat larut dalam air atau alkohol karena tanin banyak mengandung fenol yang memiliki gugus OH, dapat mengkhelat logam berat. Merkuri (Hg) sering diasosiasikan sebagai polutan bagi lingkungan. Merkuri dapat menyebabkan kelainan fungsi saraf. Pada gejala akut bisa terjadi kelumpuhan, gila, koma dan akhirnya mati. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ekstrak daun teh, daun jeruk purut, dan daun salam dapat mengikat merkuri yang di ujikan secara in vitro dalam ringer laktat dengan cara mengukur kadar merkuri pada larutan tersebut dengan menggunakan Lumex Mercury Analyzer. Penelitian ini diawali dengan determinasi dari tiga jenis daun yang akan digunakan, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak infusa, peengujian kadar tanin secara kualitatif dan kuantitatif, pengujian in vilro dan pengukuran menggunakan Lumex Mercury Analyzer. Determinasi tanaman di lakukan di LIPI Bogor. Uji kualitatif pada tiga jenis daun menunjukkan positif tanin. Uji kuantitatif menunjukkan daun teh paling tinggi kadar taninnya dibandingkan dengan daun salam daun daun jeruk purut dengan nilai masing-masing 13,30 mg/g, 13,00 mg/g, dan 5,00 mg/g. Hasil pengukuran uji in vitro dengan menggunakan Lumex Mercury Analyzer menunjukkan daun salam memiliki daya khelat paling tinggi terhadap merkuri dibandingkan daun teh dan daun jeruk purut dengan nilai rata-rata pengikatan merkuri dari masing-masing ekstrak 68,718 %, 72,738 %, dan 76,449 %.

SELEKSI BERBAGAI BAKTERI ASAM LAKTAT INDIGEN PENGHASIL β-GALAKTOSIDASE YANG BERAKTIVITAS TINGGI

No: 112 Bakteri asam laktat adalah bakteri yang memproduksi asam laktat. Bakteri asam laktat mengkasilkan β-galaktosidase. Enzim β -galaktosidase dapat menghidrolisis laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Laktosa adalah disakarida yang terdiri dari glukosa dan galaktosa. Penderita intoleran laktosa tidak mampu mencerna laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi berbagai bakteri asam laktat (BAL) indigen yang berpotensi memproduksi f- galaktosidase yang beraktivitas tinggi. Penelitian ini diawali dengan peremajaan BAL, seleksi BAL, optimasi kondisi produksi BAL, produksi BAL, dan optimasi aktivitas β -galaktosidase. Aktivitas enzim B-galaktosidase ditentukan dengan menggunakan o-nitrofenil- β -D-galaktosida (ONPG) sebagai substrat analog. Seleksi 70 isolat BAL indigen penghasil β -galaktosidase menghasilkan 10 isolat BAL dengan aktivitas tinggi. Aktivitas tertinggi ditunjukkan oleh isolat BAL | B110 dengan aktivitas sebesar 1,930 U/ml. Isolat BAL B110 menghasilkan B- galaktosidase tertinggi pada konsentrasi inokulum 2%, pH medium 7, dan konsentrasi laktosa 2% pada jam ke-30. B-galaktosidase BAL B110 bekerja optimum pada suhu 45°C dan pH 6,5.

GAMBARAN DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT SALAK BOGOR PERIODE 1 OKTOBER 2011 s/d 30 SEPTEMBER 2012

No: 110 Diabetes Melitus (DM) tipe 2 adalah penyakit metabolik kronis yang rentan menimbulkan komplikasi akut maupun kronis. Dalam penatalaksanaan DM dengan terapi obat dapat timbul masalah-masalah terkait obat (Drug Related Problems/DRPs). Telah dilakukan penelitian pada penderita DM Tipe 2 yang dirawat inap di Rumah Sakit Salak selama | Oktober 2011 sampai dengan 30 September 2012 dengan teknik pengumpulan data secara retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Data yang diteliti sebanyak 46 sampel. Data obat yang diterima penderita dikaji secara teoritis untuk mengetahui terjadinya DRPs. Hasil pengumpulan dan pengolahan data menunjukkan bahwa di Rumah Sakit Salak, penderita DM tipe 2 lebih banyak wanita (58,70%) daripada pria (41,30%). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa DRPs yang potensial terjadi yaitu interaksi obat bermakna klinis (5,38%), interaksi obat tidak bermakna klinis (66,82%), terapi tanpa indikasi (6,28%), indikasi tanpa terapi (7,62%), overdosis (2,24%), dosis subterapetik (1,79%), pemilihan obat yang kurang tepat (8,07%), reaksi obat yang | tidak dikehendaki (0%) dan kegagalan menenma obat (1,79%). Golongan antidiabetes oral yang paling banyak ditenma penderita adalah penghambat glukoneogenesis (86,96%) sedangkan obat oral lain yang paling banyak digunakan adalah golongan antasida-antiulserasi (78,26%).

UJI DAYA HAMBAT MADU KLENGKENG (Mel depuratum), DAUN KEMANGI (Ocimum americanum) EKSTRAK dan FRAKSI BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia L.) TERHADAP Staphylococcus aureus

No: 109 Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah dan berpotensi tinggi dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Tanaman atau obat herbal Indonesia yang berpotensi meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat adalah madu klengkeng, daun kemangi dan buah mengkudu. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan uji aktivitas antibakteri Staphylococcus aureus dari tiga macam herbal yaitu Madu Klengkeng (Mel depuratum), Daun Kemangi (Ocimum americanum) dan Buah Mengkudu (Morinda citrifolia). Pengujian dilakukan secara kualitatif menggunakan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukkan madu klengkeng dan fraksi pelarut buah mengkudu tidak memberikan penghambatan terhadap bakteri S. aureus, tetap1 daun kemangi. dan ekstrak buah mengkudu menunjukkan penghambatan. Efek penghambatan terbesar ditunjukkan oleh ekstrak buah mengkudu sebesar rata-rata 12.18 mm pada konsentrasi 1%. Adanya kandungan fitokimia alkaloid dan antrakuinon pada ekstrak buah mengkudu dimungkinkanmerupakan senyawa yang bertanggung jawab terhadap penghambatan pada S. aureus.

POLA PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PADA PASIEN ANAK DENGAN DIAGNOSA ISPA DI INSTALASI RAWAT JALAN RS DR. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR

No: 108 Antibiotik merupakan obat yang berperan dalam memerangi infeksi yang ditimbulkan oleh kuman. Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah penyakit akut yang menyerang salah satu bagian dari atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah). Penggunaan antibiotic pada anak cukup tinggi pada terapi ISPA, baik ISPA atas maupun ISPA bawah. Tingginya prevalensi ISPA serta dampak yang ditimbulkannya membawa akibat pada tingginya konsumsi obat bebas dan antibiotik. Dalam kenyataannya antibiotik banyak diberikan untuk mengatasi penyakit tersebut. Penelitian ini merupakan studi deskriptif non-analitik. Data diambil secara retrospektif di Instalasi rawat jalan RS. DR. H. Marzoeki mahdi Bogor periode Januari-Desember 2012 terhadap data sekunder berupa rekam medis pasien anak serta resep, diperoleh 54 pasien untuk di analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 81,48% pasien terkena ISPA, 14,81% pasien menderita faringitis akut, dan 3,70% pasien menderita otitis media akut. Penggunaan antibiotik terbanyak menurut golongan adalah golongan sefalosporin 91,30 % dan golongan makrolid yaitu eritromisin sebesar 8,69 %. Bentuk sediaan yang digunakan lebih banyak dalam bentuk sediaan sirup sebesar 52,17% dalam bentuk sediaan tablet sebesar 47,82%. Untuk dosis antibiotik sekitar 56,52% rasional dan 43,47% kurang rasional 30,43% pemberian antibiotik dengan dosis melebihi dosis maksimal untuk sehari, dan 13,04% pemberian antibiotik dengan dosis kurang dari dosis maksimal untuk sehari. Kesesuaian lama penggunaan antibiotik menunjukkan hasil pemakaian minimal selama 5 hari sebesar 21,73%, dan untuk pemakaian hingga 10 hari sebesar 65,21%, sisanya sebesar 13,04% dengan lama penggunaan kurang dari 5 hari.

EFEKTIFITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK METANOL KULIT BUAH MANGGIS (Gracinia mangostana L) TERHADAP KUALITAS SPERMA KAMBING JAWA RANDU

No: 107 Salah satu menurunnya kualitas sperma adalah radikal bebas berlebih. Radikal bebas membentuk oksigen reaktif yang menyebabkan kelainan pada membrane dan motilitas spermatozoa. Upaya untuk mencegah radikal bebas dapat dilakukan dengan cara penambahan antioksidan yaitu suatu zat yang dapat mengikat senyawa radikal bebas. Secara alami beberapa jenis tumbuhan merupakan sumber antioksidan salah satunya adalah tanaman manggis(GarciniaMangostana L). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan antioksidan ekstrak kulit buah manggis terhadap kualitas sperma kambing jawa randu setelah pembekuan. Penelitian ‘ni dilakukan di laboratorium Fisiologi Reproduksi Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor Jawa Barat selama satu bulan dari bulan September sampai bulan desember 2012. Materi yang digunakan adalah semen kambing dari seekor Pejantan kambing Jawa Randu berumur 2-3 tahun. Parameter yang diamati adalah persentase motilitas, spermatozoa hidup dan membrane plasma utuh. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dimana dosis antioksi dan sebagai perlakuan dan jumlah penampungan (ejakulat) sebagai ulangan. Hasil penelitian ini menunjukan tidak terjadi interaksi antara semen yang ditambahkan antioksidan dari ekstrak kulit buah manggis dengan konsentrasi kontrol, 0.1 m/100 ml (L1) dan 0.2 0.0 um/100 ml dalam pengencer terhadap kualitas semen yang dibekukan (sesudah, ekuilibras dan thawing). Namun pada tahap sebelum dibekukan (sesudah pengenceran) memberikan pengaruh yang nyata secara statistik (P< 0,05) pada persentase motilitas dan persentase hidup spermatozoa. Penambahan antioksidan dari ekstrak kulit manggis (L1) dan (L2) pada penelitian ini belum dapat memperbaiki kualitas spermatozoa sebelum pembekuan.

EFEK PEMBERIAN KITOSAN TERHADAP KADAR MERKURI (Hg) DALAM KRIM PEMUTIH MENGGUNAKAN LUMEX MERCURY ANALYZER

No: 106 Saat ini merkuri sangat banyak digunakan di industri kosmetik, meskipun penggunaan merkuri dan senyawanya dalam kosmetik telah dilarang di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI no 376/MenKes/PerVIII/1990 tentang bahan-bahan yang dilarang digunakan dalam kosmetika. Karena banyaknya kasus yang terjadi akibat pencemaran logam merkuri, maka berbagai teknik dan proses telah dikembangkan untuk memisahkan ion-ion logam berat seperti merkun yang sangat berbahaya , diantaranya yaitu dengan adsorbsi (penyerapan). Bahan pengadsorpsi yang aman digunakan yaitu kitosan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah knim pemutih yang beredar di pasaran sekarang ini masih mengandung senyawa merkuri dan mengetahui efek pemberian kitosan yang dianggap sebagai antimerkuri terhadap kandungan merkuri di dalam krim pemutih. Pembuatan kitosan dilakukan melalui proses demineralisasi, deproteinisasi, penghilangan warna dan deasetilasi. Derajat deasetilasi dari pembuatan kitosan yang didapatkan yaitu 74.63%. Pengukuran hasil penyerapan merkuri menggunakan kitosan dilakukan dengan Lumex Mercury Analyzer. Kitosan ditambahkan dengan konsentrasi 0.05:0.25;0.5;0.75;1 % pada merkuri yang sebelumya telah diekstrasi menggunakan campuran asam nitrat, asam klorida, dan asam sulfat. Dari hasil penambahan kitosan pada krim pemutih didapatkan efisiensi penyerapan yang baik pada penambahan kitosan dengan konsentrasi | %, yaitu sebesar 98.71 %.

UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL DAN ETIL ASETAT DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa billimbi Linn.) TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

No: 105 Tanaman belimbing wuluh (Averrhoa billimbi Linn.) adalah salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat tradisional, baik bagian batang, buah dan daun semuanya mempunyai manfaat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan senyawa kimia (zat aktif) dan aktivitas ekstrak etanol dan ekstrak etilasetat daun belimbing wuluh terhadap Staphylococcus aureus dan Eschericia coli. Tujuan digunakan dua pelarut adalah untuk melihat mana yang memiliki daya hambat yang lebih baik, apakah ekstrak etanol atau etilasetat. Pengujian fitokimia dilakukan secara kualitatif dan pengujian daya hambat menggunakan metode difusi cakram. Dengan kontrol positif Kloramfenikol dan etanol serta etilasetat sebagai kontrol negatif. Daya hambat ditunjukkan dengan adanya zona bening disekeliling cakram. Berdasarkan hasil uji fitokimia dan ekstrak daun belimbing wuluh kandungan zat aktif adalah Flavonoid, Tanin dan Triterpenoid. Hasil uji daya hambat antara ekstrak etanol dan etilasetat ternyata ekstrak etanol memiliki daya hambat yang lebih bak, dimana Diameter zona Hambat (DZH) terbesar adalah terhadap bakteri gram positif yaitu Staphylococcus aureus dengan diameter hambat terbesar terdapat pada konsentrasi 100% (DZH = 13mm) dan 75% (DZH= 10,5mm) dibandingkan dengan bakteri gram negatif yaitu Escherichia coli pada konsentrasi 100% dan 75% hanya (DZH= 7,7mm). Namun_ diameter zona hambat Staphylococcus aureus dan Eschericia coli masih dibawah diameter zona hambat kloramfenikol 0.003% (DZH= 17,7mm).