Sebanyak 98 item atau buku ditemukan

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK ETIL ASETAT BUAH JAMBLANG (Syzigium cumini) DAN SAWO (Manilkara zapota (L). Van Royen) DENGAN METODE DPPH

No: 104 Jamblang (Syzigium cumini) dan sawo (Manilkara zapota (L) Van Royen)adalah tanaman yang memiliki manfaat kesehatan yang baik. Tujuan penelitian iniadalah untuk mengetahui kandungan antioksidan yang terdapat pada bagian buah jamblang dan sawo serta kandungan fitokimia yang dikandungnya. Penelitian dilakukan dengan ekstraksi buah jamblang dan sawo secara maserasi menggunakan pelarut yaitu etil asetat. Skrining fitokimia yang meliputi uji saponin, alkaloid, flavonoid, steroid, dan triterpenoid dilakukan terhadap ekstrak kental hasil evaporasi. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metoda DPPH (1,1-difenil-2pikrihidrazil). Hasil pengujian skrining fitokimia buah jamblang dan sawo secara keseluruhan menunjukan kandungan senyawa saponin dan steroid. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak etil asetat jamblang menghasilkan aktivitas antioksidan berskala lemah dengan nilai ICs sebesar 187,74 ppm. Aktivitas antioksidan tersebut lebih besar dari vitamin C yang memiliki ICs9 sebesar 5.65ppm. Sedangkan ekstrak etil asetat sawo memiliki aktivitas antioksidan lebih kecil dari jamblang yang memiliki ICsq 125.17 ppm.

UJI DAYA HAMBAT SARI BUAH BELIMBING WULUH (Averhoa bilimbi L.) TERHADAP BAKTERI

No: 103 Pengobatan modern memiki efek samping yang merugikan dibanding pengobatan tradisional yang terbuat dari bahan-bahan alami. di Indonesia sendiri kita mengenal Jamu sebagai pengobatan tradisional yang asli berasal dari Indonesia. Pengobatan tradisional berupa jamu masih memiliki peminat di negeri ini. Salah satu pengobatan tradisional adalah dengan menggunakan Belimbing wuluh, Belimbing wuluh yang sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai bumbu dapur ternyata bisa dijadikan obat tradisional. Untuk mengetahui daya anti bakteri dari sari buah belimbing wuluh terhadap pertumbuhan _ bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa dan Bacillus subtilis Sari buah belimbing wuluh di uji dengan variasi waktu pemekatan. Pengujian aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa & Bacillus subtilis dilakukan secara difusi, aktivitas antibakteri ditentukan dengan cara mengukur zona hambatnya. Sari buah belimbing wuluh mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa & Bacillus subtilis, 3, paling tinggi memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dengan diameter rata-rata zona hambat 1,575cm dan paling rendah aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan diameter rata-rata zona hambat 1,283cm

ANALISIS DEKSAMETASON PADA JAMU PENAMBAH NAFSU MAKAN DI DAERAH BOGOR SELATAN

No: 102 Beberapa konsumen mengkonsumsi jamu dengan alasan karena terbuat dari bahan-bahan alami serta efek samping yang ditimbulkan tidak berbahaya. Berdasarkan data BPOM pada tahun 2010 ditemukan puluhan produk jamu di pasaran mengandung bahan kimia obat. Deksametason merupakan salah satu bahan kimia obat yang sering ditambahkan pada jamu penambah nafsu makan. Efek terapi dari deksametason sebagal antiinflamasi dengan efek samping yang ditimbulkan yaitu, menambah nafsu makan, wajah bulat seperti bulan, | osteoporosis dan lainnya. Penelitian ‘ni. bertujuan untuk menganalisis deksametason pada jamu penambah nafsu makan yang beredar di daerah Bogor Selatan. Sampel jamu penambah nafsu makan yang diuji sebanyak 10 sampel. Analisis kualitatif yang dilakukan meliputi uji pendahuluan menggunakan pereaksi asam sulfat pekat, uji Lieberman Burchard (LB) dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Untuk mengetahui kadar deksametason pada jamu penambah nafsu makan dilakukan secara kuantitatif dengan metode Spektrofotometri UV-VIS. Hasil penelitian diperoleh bahwa dari 10 merek jamu penambah nafsu makan di daerah Bogor Selatan, satu sampel jamu mengandung deksametason dengan kadar 0,8072 mg/g atau 6,091 1 mg/bungkus.

AKTIVITAS EPS-A TERHADAP VIABILITAS KHAMIR Candida albicans DAN Candida tropicalis YANG DIPENGARUHI EGCG (Epigallocatechin-3-gallate)

No: 101 Candida spp. adalah jamur yang bersifat patogen, dapat menyebabkan infeksi yang di sebut kandidiasis. Penyakit infeksi pada manusia yang disebabkanoleh jamur Candida ssp masih relatif tinggi dan obat anti-jamur relatif lebihsedikit. Pusat Penelitan Biologi LIPI mempunyai banyak koleksi mikroba yangdiduga berpotensi memiliki daya anti-jamur terhadap Candida albicans dan Candida tropicalis, salah satunya adalah jamur Diaporthe sp. Eps-A merupakanfraksi senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh Diaporthe sp. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui indikasi awal mekanisme kerja antifungi Eps-A melawan khamir Candida albicans dan Candida tropicalis melalui radikal bebas (stres oksidasi). Peran radikal bebas pada aktivitas antifungi dievaluasi dengan mengamati efek proteksi antioksidan EGCG terhadap viabilitas sel khamir Candida tropicalis dan Candida albicans yang diperlakukan dengan senyawa uji. Jika EGCG mampu melindungi sel dari kematian akibat senyawa uji, maka dapat disuga bahwa salah satu mekanisme toksisitas anti-jamur senyawa Ujimelalui stres oksidasi. Pengamatan viabilitas dilakukan dengan 2 cara yaitudengan metode “MTT assay” dan metode cawan sebar. Sebagai pembandingdigunakan senyawa antifungi nystatin. Dengan metoda “MTT assay”, kedua: senyawa (32 pg/ml) menurunkan viabilitas Candida albicans dan Candidatropicalis sencara nyata. Pada Candida albicans, EGCG (100 pg/ml) dapat meningkatkan viabilitas sel yang diperlakukan dengan Eps-A dengan konsentrasi 32 sampai 128 pg/ml atau nystatin dengan konsentrasi 32 pg/ml saja. Pada Candida tropicalis, EGCG dapat menaikkan viabilitas sel yang diperlakukan dengan kedua senyawa uji dengan konsentrasi 32 sampai 256 pg/ml. Pada penelitian ini, viabilitas sel khamir tidak bisa diamati dengan metoda cawan sebar, Data ini menunjukkan bahwa fraksi Eps-A maupun senyawa nystatin diduga dapat bersifat anti jamur melalui induksi stres oksidasi pada sel khamir.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (TEN) Steenis) TERHADAP BAKTERI Salmonella typhi

No: 100 Penyakit infeksi masih menempati urutan teratas penyebab penyakit dankematian di dunia, termasuk Indonesia. Salah satu penyebab penyakit infeksi adalah bakteri. Tipes atau thypus adalah penyakit infeksi bakteri pada usus halus dan terkadang pada aliran darah yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Pengobatan penyakit akibat infeksi bakteri menggunakan antibiotik banyak menimbulkan resistensi, sehingga hal ini memerlukan produk baru yang memiliki potensi tinggi sebagai antibiotik. Salah satu tanaman yang secara empiris banyak digunakan untuk pengobatan adalah Binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis). Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui dan membandingkan aktivitas daun Binahong sebagai antibakteri ekstrak etil asetat dan methanol terhadap Salmonella typhi dengan mengetahui Konsentrasi Hambat Minimum (KHM). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan menggunakan metode difusi. Ekstrak daun binahong didapat dengan cara ekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut etil asetat dan metanol. Konsentrasi ekstrak daun binahong yang digunakan adalah 1%; 2,5%; 5%; 7,5%; 10% dan 100%. Hasil penelitian didapatkan KHM ekstrak metanol daun binahong terhadap bakteri Salmonella typhi lebih baik daripada ekstrak etil asetat pada konsentrasi 10% dan 100%.