Sebanyak 555 Skripsi ditemukan

Efektivitas edukasi konsumsi tablet tambah darah terhadap pengetahuan, kepatuhan dan kadar hemoglobin pada remaja putri

No. 524 Indikator pembinaan perbaikan gizi masyarakat salah satunya adalah pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri, dimana pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2016, menetapkan tercapainya target pemberian TTD bagi remaja putri sebesar 30% sampai dengan tahun 2019. Konsumsi TTD secara rutin akan berpengaruh terhadap kadar hemoglobin pada remaja putri agar dapat menentukan status anemia. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti gambaran pengetahuan, kepatuhan dan kadar hemoglobin serta meneliti efektivitas konsumsi TTD. Metode penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yaitu populasi sebanyak 80 siswi dan sampel sebanyak 67 siswi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Data diolah dengan menggunakan SPSS versi 20. Analisis data yang digunakan analisis univariat dan analisis bivariat. Dalam penelitian ini menggunakan data pengetahuan anemia, pengetahuan TTD dan pengetahuan gizi menggunakan uji Mann Whitney dikarenakan data berdistribusi tidak normal sedangkan untuk data kadar hemoglobin menggunakan uji T-test dikarenakan data berdistribusi normal. Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa edukasi konsumsi TTD efektif terhadap pengetahuan anemia (p-value=0,000), pengetahuan TTD (p-value=0,000) dan pengetahuan gizi (p-value=0,000). Kesimpulannya edukasi konsumsi TTD efektif terhadap pengetahuan, kepatuhan, dan kadar hemoglobin pada remaja putri.

Analisis Interaksi Obat Antidiabetik pada pasien di Instalasi Rawat Jalan RSUD Kota Bogor

No. 523 Interaksi obat merupakan interaksi antara suatu obat dengan bahan lainnnya yang mencegah obat tersebut memberikan efek seperti yang diharapkan. Interaksi obat dianggap penting secara klinik jika berakibat meningkatkan toksisitas atau mengurangi efektifitas obat yang berinteraksi, jadi terutama jika menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit. Demikian juga interaksi yang menyangkut obat-obat yang biasa digunakan atau yang sering diberikan bersama tentu lebih penting dari pada obat yang jarang dipakai. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran jenis obat antidiabetik yang digunakan, jumlah interaksi obat dan tingkat potensial interaksi obat dalam penggunaan obat antidiabetik di Instalasi Rawat Jalan RSUD Kota Bogor. Penelitian ini dilakukan dengan desain observasi dengan metode analisis deskriptif dengan mengambil data resep obat antidiabetik secara retrospektif pada bulan Maret 2019. Hasil penelitian menunjukan dari 117 resep, obat antidiabetik yang banyak digunakan yaitu metformin sebesar 56 resep (25,93%), jumlah interaksi obat dalam satu resep paling banyak yaitu 2 kejadian (23,93%). Hasil penelitian menunjukan jumlah interaksi obat secara potensial sebanyak 203 kejadian interaksi, potensi interaksi obat berdasarkan tingkat keparahan yaitu kejadian minor sebanyak 17 (8,37%), moderate 184 (90,64%) dan major 2 (0,99%).

Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pasien Rawat INAP di RSKD duren sawit menggunakan metode ATC/ DDD dan DU 90% Periode Januari-Desember 2017

No. 522 Resistensi terhadap antibiotik adalah meningkatnya morbiditas, mortalitas dan biaya kesehatan Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai masalah, diantaranya pengobatan menjadi lebih mahal, efek samping, resistensi, timbulnya kejadian superinfeksi yang sulit diobati, ketidakpatuhan pada regimen terapi dan swamedikasi antibiotik dapat memicu terjadinya resistensi. Upaya untuk mengendalikan resistensi antibiotik dengan menggunakan antibiotik dengan bijak serta melakukan evaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif dan kuantitatif. Penelitian dilakukan pada pasien rawat inap di RSKD Duren Sawit dan data penelitian diperoleh dari laporan pemakaian obat pasien rawat inap di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit selama periode Januari- Desember 2017. Penelitian menggunakan metode ATC (Anatomical Therapeutic Chemical) yang dikombinasi dengan suatu pengukuran DDD (Defined Daily Dose) atau yang dikenal dengan metode ATC/DDD. Perhitungan DDD diperoleh dari obat yang mempunyai kode ATC pada standar WHO yang telah ditetapkan. Hasil penelitian diperoleh 24 data yang sesuai dengan kriteria inklusi dengan total penggunaan antibiotik.. DDD/ 100 hari rawat dan antibiotik yamg termasuk dalam segmen DU 90% yaitu seftriaxon (5,99 DD/100 hari rawat), levofloksasin (5,39 DDD/100 hari rawat), sefixim (2,28 DDD/100 hari rawat), sefotaksim (1,74 DDD/100 hari rawat), sefadroksil (1,51 DDD/100 hari rawat), ampisillin 1 gram + sulbaktam 0,5 gram (0,99 DDD/100 hari rawat), streptomisin (0,97 DDD/100 hari rawat), amoksiklav (0,87 DDD/100 hari rawat), asam pipidemik dan siprofloksasin (0,47 DDD/100 hari rawat).

Aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% dan infusa daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L) DC.) dengan metode peredaman radikal bebas menggunakan DPPH

No. 521 Daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) telah diketahui mengandung senyawa vitamin C yang dapat berkhasiat sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dan menguji aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% dan infusa daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) dengan metode peredaman radikal bebas menggunakan DPPH. Ekstrak etanol 70% daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) dibuat dengan deret konsentrasi 10, 15, 20, 25, 30 ppm dan infusa daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) dengan deret konsentrasi 75, 100, 125, 150, 175 ppm keduanya dilarutkan dengan metanol pro analisis dan DPPH, kemudian diukur absorbansinya menggunakan Spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 517 nm. Ekstrak etanol 70% daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) mengandung flavonoid, saponin, tanin, steroid dan infusa daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) mengandung flavonoid, saponin, dan tanin. Ekstrak etanol 70% daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai 〖IC〗_50 sebesar 22,12 ppm (sangat kuat) dan infusa daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) sebesar 167,03 ppm (lemah) serta vitamin C sebagai kontrol positif sebesar 6,82 ppm (sangat kuat).

Perbandingan Efektifitas penggunaan sefotaksim dan seftriakson pada terapi demam tifoid anak di instalasi rawat inap RS Bhayangkara Setukpa Polri Sukabumi

No. 520 Demam tifoid merupakan penyakit infeksi dan endemis yang disebabkan oleh Salmonella Typhi yang erat hubungannya dengan kualitas dari higiene pribadi dan sanitasi. Di Indonesia penyakit ini bersifat Endemik dan merupakan masalah kesehatan masyarakat, Berdasarkan Riset Kementerian RI tahun 2013 prevelansi nasional adalah 1, 60 %,Untuk jawa barat prevelansi nasional 2,1 %. Pengobatan demam tifoid salah satunya dengan pemberian antibiotik.Seperti Seftriakson sefotaksim. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan penggunaan efektivitas seftriakson dan sefotaksim terhadap lamanya perawatan pasien demam tifoid anak di RS Bhayangkara Setukpa Polri Sukabumi. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif observasional. Sampel penelitian dilakukan dengan Purposive sampling sehingga diperoleh sampel sebanyak 142. Data yang diperoleh dianalisa menggunakan uji Mann Whitney. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lama rawat inap pasien yang menggunakan Seftriakson adalah 3,65 hari ( 3 hari 16 jam) dan Sefotaksim 3,92 hari (3 hari 22 jam ). Efektivitas seftriakson dan seftaksim menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna dapat dilihat dari P>0.05 ( P=0,129).

Studi penggunaan obat pada pasien talasemia anak di RS Bhayangkara Setukpa Polri Sukabumi periode Januari sampai dengan Mei 2018

No. 519 Talasemia adalah penyakit kelainan genetik yang diturunkan secara autosomal resesif dari orang tua kepada anaknya yang terjadi akibat mutasi genetik pada hemoglobin sehingga produksi rantai α atau β terganggu. Indonesia termasuk salah satu Negara dengan angka kejadian talasemia yang tinggi khususnya provinsi Jawa Barat. Menurut ketua Perhimpunan Orangtua Penderita Talasemia (POPTI) Jabar, jumlah penederita talasemia mencapai 42% dari total penderita talasemia di Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penggunaan obat pada pasien talasemia anak dan kesesuaian terapi berdasarkan Pedoman Nasioanal Kedokteran Tata Laksana Talasemia di RS Bhayangkara Setukpa Polri Sukabumi. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif. Sampel penelitian dilakukan dengan purposive sampling sehingga diperoleh sampel sebanyak 114 sampel dari 160 orang populasi. Data yang diperoleh dianalisa menggunakan uji Frekuensi. Hasil Penelitian menunjukan penggunaan obat pada pasien talasemia anak adalah obat deferasiroks sebanyak 81,6%, obat deferipron sebanyak 6,1%, obat furosemide sebanyak 49,1%, obat vitamin E dan Asam Folat sebanyak 87,7%. Kesesuaian terapi pasien talasemia anak di RS Bhayangkara Setukpa Polri Sukabumi dengan Kepmenkes RI No.HK.01.07/Menkes/1/2018 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Talasemia sudah sesuai.

Uji aktivitas penghamabatan enzim tirosinase serta uji iritasi sediaan masker peel-off ekstrak etanol daun sukun (Artocarpus altilis F)

No. 518 Daun sukun (Artocarpus altilis F) diketahui memiliki senyawa metabolit sekunder salah satunya adalah flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas penghambatan enzim tirosinase sediaan masker peel-off ekstrak etanol daun sukun dan mengetahui efek iritasi pada 10 panelis. Formula sediaan masker peel-off ekstrak etanol daun sukun dengan konsentrasi 40% dilakukan pengujian penghambatan dengan substrat L-Tirosin dan L-Dopa dan uji iritasi selama 24 jam. Hasil uji aktivitas penghambatan enzim tirosinase menunjukkan bahwa ekstrak dan sediaan tidak memiliki kemampuan penghambatan terhadap melanin yang dilihat dari nilai 〖IC〗_50. Ekstrak etanol 96% daun sukun memiliki nilai 〖IC〗_50 dengan substrat L-tirosin sebesar 4889,467 ppm dan substrat L-Dopa sebesar 6916,626 ppm. Sediaan masker peel-off memiliki nilai 〖IC〗_50 dengan substrat L-tirosin sebesar 12680,48 dan untuk substrat L-Dopa sebesar 33402,96 ppm. Hasil uji iritasi primer tidak menunjukkan adanya iritasi pada kulit seperti edema, maupun eritema.

Hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan terhadap kepatuhan pasien rawat rawat jalan penderita tuberkulosis paru di rumah sakit paru dr. M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor

No. 517 Tuberkolusis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mycobacterium Tuberculosis. Menurut laporan WHO, pada tahun 2017. Indonesia menempati peringkat ke-2 di dunia pengidap tuberkulosis (TB) terbanyak setelah India. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan dengan kepatuhan pasien rawat jalan pengidap tuberkulosis (TB) paru di RS Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor. Jenis penelitian ini adalah prospektif non eksperimental dengan rancangan penelitian cross sectional, dengan sampel penelitian yaitu reponden yang menjalani pengobatan Tuberkulosis selama fase lanjutan sebanyak 83 orang. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji correlation Spearman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pasien TB paru di tunjukan (p-value <0,05) adalah tingkat pengetahuan (p-value 0,000), sikap responden (p-value 0,015), dan motivasi dari keluarga (p-value 0,001). Variabel yang tidak berhubungan dengan kepatuhan adalah jenis kelamin (p-value 0,299), umur (p-value 0,654), tingkat pendidikan (p-value 0,721), status pekerjaan (p-value 0,279), jarak (p-value 0,730), dan peran Pengawas Menelan Obat (p-value 0,728).

Aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan air daun mangrove (Rhizophora stylosa), daun kejibeling (Strobillanthes crispus) dan batang katuk (Sauropus androgynus) serta kombinasinya terhadap bakteri Escheria coli dan Staphylococcus aureus

No. 516 Bakteri merupakan salah satu penyebab terjadinya penyakit. Bakteri yang paling banyak menyebabkan infeksi antara lain bakteri Eschericia coli dan Staphylococcus aureus. Daun mangrove (Rhizopora stylosa), daun kejibeling (Strobilanthes crispus) dan batang katuk (Sauropus androgynus) memgandumg senyawa alkaloid, tanin, flavonoid, saponin serta senyawa polifenol yang dipercaya memiliki kemampuansebagai aktivitas antibakteri. Ketiga simplisia diekstraksi dengan metode maserasi dan infusa. Uji fitokimia dan uji antibakteri dilakukan terhadap ekstrak tunggal dan kombinasinya. Kombinasi yang dibuat yaitu (Daun mangrove : daun kejibeling : batang katuk) dengan variasi kombinasi 1:1:1, 1:1:2, 1:2:1 dan 2:1:1 dengan konsentrasi 10%, 25%, 50% dan menggunakan kontrol positif amoksisilin 10%. Uji fitokimia dari ketiga tanaman ekstrak etanol dan air menunjukkan hasil positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan tannin, sedangkan ekstrak air tidak mengandung alkaloid. Pada penelitian ini hasil ekstrak daun mangrove yang optimumterdapat pada bakteri S.aureus. Hal ini dibuktikan pada konsentrasi 25% ekstrak etanol daun mangrove memberikan nilai zona hambat 11,2 mm dan kontrol positif 10,4 mm. Pada ekstraksi infusa hasil zona hambat dengan konsentrasi 25% pada bakteri E.coli 13,2 mm dengan kontrol positif 12,9 mm dan bakteri S.aureus 13,4 mm dengan kontrol positif 12,8 mm. Kombinasi ekstrak tiga tanaman yang terbaik terdapat pada kombinasi 2:1:1 yang terdapat pada kombinasi multi ekstrak etanol karena pada konsentrasi 10% ekstrak bisa memiliki zona hambat lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol positif dengan nilai 12,4 mm dan kontrol positif amoksisilin 12,3 mm.Konsentrasi terbaik ekstrak tunggal yaitu daun mangrove konsentrasi 25% dan ekstrak kombinasi 2:1:1 konsentrasi 10%. Ekstraksi maserasi memberikan nilai zona hambat yang lebih baik dibandingkan dengan ekstraksi infusa.

Aktivitas antibakteri sediaan gel ekstrak daun bintaro (cerbera odollam gaertn) terhadap Propionibacterium acnes

No. 515 Ekstrak daun bintaro diketahui dapat menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes. Dalam penelitian ini dilakukan pembuatan sediaan gel ekstrak daun bintaro dibuat dengan berbagai konsentrasi, selanjutnya di uji mutu fisik serta aktivitas antibakteri. Kandungan kimia yang terdapat dalam ekstrak daun bintaro yaitu berupa alkaloid, saponin dan tanin. Pada penelitian ini ekstrak kental daun bintaro diformulasikan ke dalam bentuk sediaan gel yang dibuat dengan konsentrasi 5, 10 dan 15%, kemudian dilakukan uji mutu fisik yang meliputi uji organoleptik, pH, daya sebar, homogenitas dan viskositas. Sediaan gel kemudian diuji aktivitas antibakterinya menggunakan metode difusi agar sumuran. Berdasarkan hasil pengujian aktivitas antibakteri sediaan gel ekstrak daun bintaro, memiliki aktivitas antibakteri dengan diameter zona hambat 6,53 mm (konsentrasi 5%), 7,72 mm (konsentrasi 10%), 8,52 mm (konsentrasi 15%). Pada penelitian ini dapat diketahui semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka semakin besar pula diameter zona hambat dan aktivitas terbesar terdapat pada sediaan dengan konsentrasi 15%.