Sebanyak 578 Skripsi ditemukan

OPTIMASI WAKTU MASERASI PARASETAOL DALAM JAMU PEGALINU YANG BEREDAR DI KECAMATAN BOGOR BARAT

No: 248 Jamu merupakan obat tradisional yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Peraturan pemerintah menyatakan bahwa di dalam jamu tidak diperbolehkan mengandung bahan kimia obat. Namun, sampai saat ini masih terdapat jamu yang mengandung bahan kimia obat, seperti pada jamu pegal linu yang mengandung parasetamol. Analisis bahan kimia obat dalam jamu belum disertai waktu ekstraksi optimal yang menghasilkan kadar bahan kimia obat yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan menentukan waktu maserasi dan kadar parasetamol yang optimal dalam jamu pegal linu. Pengambilan sampel dilakukan di Kecamatan Bogor Barat dengan metode purposive sampling. Sampel dimaserasi menggunakan pelarut etanol pada waktu 0, 30, 60, 90 dan 180 menit. Sepuluh sampel jamu pegal linu yang telah ditentukan, dilakukan skrining dengan metode Kromatografi Lapis Tipis menggunakan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak kloroform:etanol (9:1) serta dideteksi pada sinar UV 254 nm. Sampel dianalisis secara kuantitatif menggunakan metode Spektrofotometri UV-Vis pada λ 248 nm. Hasil analisis menunjukkan bahwa 7 sampel jamu positif mengandung parasetamol dengan nilai Rf yang mendekati nilai Rf standar parasetamol, yaitu 0,430. Waktu optimal maserasi pada jamu simulasi, sampel D, F dan S adalah 0-30 menit (14,25 %, 22,33 %, 6,22 %, 8,98 %); sampel A, E dan Q pada 60-90 menit (7,12 %, 5,62 %, 4,47 %) dan sampel H pada 120 menit (18,38 %). Waktu optimal maserasi sampel didominasi oleh rentang waktu antara 30-90 menit. Oleh karena itu, diketahui bahwa sampel jamu pegal linu yang tersebar di Kecamatan Bogor Barat memiliki waktu maserasi yang optimal pada rentang waktu antara 30-90 menit.

PERBANDINGAN EKFEKTIVITAS PENGGUNAAN OBAT TIAMFENIKOL DAN SEFADROKSIL PADA PASIEN DEMAM TIFOID RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT BANTUAN BATALYON KESEHATAN CILUAR BOGOR PERIODE APRIL-JUNI 2015

No: 247 Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut yang ditandai dengan adanya demam serta dapat terjadi gangguan saluran pencernaan.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan efektivitas penggunaan sefadroksil dan tiamfenikol terhadap demam tifoid pada pasien rawat jalan. Desain penelitian ini adalah analisis deskriptifdan secara prospektif. Pengambilan data dilakukan pada April-Juni 2015melalui rekam medis dan observasi pada 50 pasien yang terdiri atas 14 pasien laki-laki dan 36 pasien perempuan. Pasien diberikan terapi tiamfenikol dan sefadroksil dengan tiap jenis terapi berjumlah 25 pasien. Selama pemberian terapi selama 7 hari, kedua terapi dibandingkan efektivitasnya berdasarkan pengurangan gejala klinis atau kesembuhan. Hasilnya menunjukkan terapi sefadroksil memiliki waktu sembuh lebih cepat dengan jumlah sembuh terbanyak pada hari ke-4 sebanyak 14 (28%) pasien dibandingkan terapi tiamfenikol, yang paling banyak sembuh pada hari ke-5 sebanyak 12 (24%) pasien. Rerata lama rawat jalan dengan terapi tiamfenikol lebih lama yaitu 5,52 hari dibandingkan terapi sefadroksil yaitu 4,48 hari. Terdapat perbedaan bermakna perbandingan efektivitas terapi tiamfenikol dan sefadroksil (uji Kolmogorov-Smirnov, p=0,002). Disimpulkan terapi sefadroksil lebih efektif dibandingkan dengan terapi tiamfenikol pada kasus demam tifoid.

ANALISA DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA ASIEN DISPEPSIA DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT SALAK BOGOR PERIODE JANUARI 2014-DESEMBER 2014

No: 246 Dispepsia merupakan salah satu penyakit yang tidak diketahui secara jelas penyebabnya. Berdasarkan survey Departemen Kesehatan tahun 2006, prevalensi dispepsia menempati urutan 15 dari 50 penyakit dengan pasien rawat inap terbanyak. Sedangkan berdasarkan rekapan Rumah Sakit Salak 2014, dispepsia menempati urutan 8 dari 10 penyakit terbesar. Dalam penatalaksanaan dispepsia dengan terapi obat, dapat menimbulkan masalah-masalah terkait obat yang disebut Drug Related Problems (DRPs). Berdasarkan hal tersebut, telah dilakukan analisa DRPs pada pasien dispepsia di RS.Salak periode Januari 2014 sampai Desember 2014 dengan metode cross-sectional rancangan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di RS. Salak pasien dispepsia terbanyak adalah perempuan (58%). Penggunaan obat terbanyak yaitu golongan penghambat pompa proton (47.1 %). Obat yang paling banyak digunakan pada golongan ini yaitu omeprazol. Penyakit yang paling banyak menyertai pasien dispepsia yaitu observasi febris. Hasil analisa menunjukkan bahwa DRPs yang potensial terjadi yaitu indikasi tanpa terapi (1.78 %), terapi tanpa indikasi (1.42 %), dosis subterapeutik (28.47 %), over dosis (1.07 %), pemilihan obat yang kurang tepat (0.71 %), kegagalan menerima obat (2.14 %), reaksi obat yang tidak dikehendaki (0 %), interaksi obat (64.41 %)

UJI EFEKTIVITAS INFUSA EKSTRAK AIR DAUN PEPAYA (Carica papaya Linn) SEBAGAI PENAMBAH NAFSU MAKAN PADA MENCIT (Mus musculus) GALUR DDY

No: 245 ABSTRAK Nafsu makan adalah salah satu hal yang penting dalam perkembangan kesehatan, seseorang yang sehat memiliki nafsu makan yang normal. Kurangnya nafsu makan mempengaruhi kebutuhan atas gizi dan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Daun pepaya secara turun temurun dipercaya sebagai penambah nafsu makan rasa pahit dari daun pepaya di duga dapat meningkatkan nafsu makan seseorang, Selain itu daun pepaya mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin, serta memiliki enzim khas yaitu papain. Papain diduga memiliki efek somatik atau merangsang nafsu makan karena bersifat sebagai enzim proteinase. Penelitian ini dilakukan secara experimental merujuk dengan cara pembuatan secara tradisional atau empiris atau turun temurun secara tradisional dengan merebus simplisia daun pepaya, dan di uji efektifitasnya terhadap mencit selama tujuh hari, sebelumnya mencit diadaptasikan agar dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Infus pepaya sendiri dibagi dalam beberapa konsentrasi agar dapat diamati konsentrasi yang terbaik, yang memiliki kemampuan dalam meningkatkan nafsu makan pada mencit ditandai dengan bertambahnya berat badan mencit, dalam percobaan ini diketahui konsentrasi 12 % memiliki pengaruh yang signifikan terhadap berat badan mencit yang di uji selama tujuh hari dan memiliki efek setara dengan control positif yang digunakan

OPTIMASI PENGARUH PENAMBAHAN Lactobacillus plantarum TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI LOVASTATIN DARI HASIL FERMENTASI BERAS Monascus purpurcus

No: 244 Angkak merupakan hasil fermentasi menggunakan kapang Monascus purpureus yang menghasilkan lovastatin sebagai antihiperkolesterolmia. Produksi lovastatin dalam beras Monascus purpureus dapat ditingkatkan. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi lovastatin dalam beras Monascus purpureus dengan melakukan penambahan bakteri Lactobacillus plantarum selama proses fermentasi, bakteri Lactobacillus plantarum menghasilkan asam laktat. Berdasarkan hal diatas tujuan penelitian ini adalah melakukan proses optimasi penambahan bakteri Lactobacillus plantarum pada proses fermentasi beras Monascus purpureus untuk menghasilkan lovastatin. Sampel diekstraksi menggunakan shaker selama 15 menit, dianalisi menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi dengan rancangan penelitian dan analisis menggunakan metode Response Surface (minitab 17). Pada penelitian dapat di simpulkan bahwa dalam proses produksi dari hasil fermentasi beras Monascsus purpureus terdapat kondisi optimum yaitu penambahan bakteri Lactobacillus plantarum 1%, pada waktu hari ke-5 dan suhu inkubasi 25C dan kondisi maksimum yaitu tanpa penambahan bakteri Lactobacillus plantarum, pada waktu hari ke-10 dan suhu inkubasi 25C.

ANALISIS SILDENAFIL SITRAT DALAM JAMU KUAT DI KECAMATAN BOGOR BARAT DAN TANAH SAREAL DENGAN MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI CAIR SPEKTROMETRI MASSA

No: 243 Jamu merupakan pengobatan pilihan masyarakat karena berkhasiat menjaga kesehatan tubuh manusia. Salah satu jenis jamu adalah jamu kuat yang dapat berkhasiat sebagai penambah stamina dan vitalitas lelaki, namun dalam perkembanganya kemurnian jamu kuat banyak ditambahkan sildenafil sitrat oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan analisis deskriptif. Analisis senyawa sildenafil sitrat dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Cair Spektrometri Massa (KC-SM) yang disampling pada 2 kecamatan yaitu kecamatan Bogor Barat dan Tanah Sareal sehingga diperoleh 32 sampel, dimana 18 sampel dari Bogor Barat diberi kode A dan 14 sampel dari Tanah Sareal diberi kode B. Hasil KLT yang dielusi pada Silica gel 60 F254 dengan eluen metanol:kloroform (4:1), terdapat 5 sampel menunjukkan nilai Rf yang mendekati standar sildenafil sitrat yaitu 0.83, pada kode sampel A4 nilai Rf 0,84, A13 nilai Rf 0,84, A17 nilai Rf 0,83, B11 nilai Rf 0,83, dan B14 nilai Rf 0,84. Hasil KC-SM dengan menggunakan kolom Phenomenex Synergi Fusion RP-100A, sistem pompa gradien dengan fase gerak 0,2 M amonium asetat pH 7 dalam air dan 0,2 M amonium asetat pH 7 dalam asetonitril, diperoleh kadar sampel untuk kode A4, A13, A17, B11, B14 sebesar 198,01; 1119.19; 226,00; 156,77; 443,87 µg/kg.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETIL ASETAT BUAH ANDALIMAN (Zanthoxylum acanthopodium DC) DAN VCO (Virgin Coconut Oil) TERHADAP Eschjerichia coli dan Staphylococcus aureus

No: 242 Sebagian besar obat-obatan yang digunakan oleh masyarakat Indonesia berasal dari tumbuhan. Senyawa alam hasil isolasi dari tumbuhan digunakan untuk mengobati penyakit atau infeksi yang disebabkan oleh bakteri E.coli dan S.aureus. Buah dan biji andaliman diduga mengandung senyawa antibakteri. VCO merupakan minyak kelapa yang diolah dari daging buah kelapa. VCO mengandung asam laurat yang bersifat antibakteri. Penelitian bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari campuran ekstrak etil asetat buah Andaliman dan VCO terhadap bakteri E.coli dan S.aureus. Bahan uji ekstrak andaliman dan VCO, dilakukan pengujian aktivitas antibakteri, yaitu difusi agar, pada ekstrak andaliman terhadap E.coli dengan zona bening 6,15 mm, S.aureus dengan zona bening 13,1 mm. VCO terhadap E.coli dan S.aureus tidak terbentuk zona bening. Pada metode kolorimetri MTT, hasil nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ekstrak andaliman terhadap E.coli adalah 8192 �g/ml, S.aureus nilai KHM 2048 �g/ml. Sampai konsentrasi 8192 �g/ml VCO tidak ditemukan nilai KHM. Pengujian campuran ekstrak andaliman dan VCO terhadap S.aureus berhasil memiliki aktivitas antibakteri yang mengakibatkan kematian pada bakteri S.aureus. Kerusakan membran sel S.aureus dapat diamati dengan adanya kebocoran ion K+ dan Na+ menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil ekstrak andaliman, campuran VCO dan ekstrak buah andaliman dapat mengakibatkan kebocoran ion K+ dan Na+.

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN OBAT ANTIBIOTIK SEFOTAKSIM DAN SEFTRIAKSON PADA PASIEN DEWASA APENDISITIS POST OP RAWAT INAP DI RS SALAK BOGOR PERIODE JANUARI-DESEMBER 2014

No: 241 Apendisitis adalah penyakit yang ditimbulkan akibat tersumbatnya lumen apendiks oleh berbagai hal. Tindakan pada kasus apendisitis tanpa komplikasi adalah pembedahan apendiktomi dimana tindakan ini memiliki resiko infeksi. Pemberian antibiotik dapat menurunkan resiko pada luka operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan obat antibiotik sefotaksim dan setriakson pada pasien dewasa yang menderita apendisitispost op rawat inap di Rumah Sakit Salak Bogor periode Januari sampai Desember 2014. Penelitian dilakukan dengan cara retrospektif dan dengan uji analisa univariat dan bivariat. Besar sampel pada penelitian ini adalah 44 pasien dan dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok terapi seftriakson 22 sampel dan terapi sefotaksim 22 sampel. Pengamatan efektivitas antibiotik dilihat dari lama perawatan dan tingkat kesembuhan luka operasi. Pada kelompok seftriakson rata-rata lama perawatan ± 4,23 hari dan rata-rata perawatan sefotaksim ± 5,09 hari. Tingkat kesembuhan luka pada seftriakson dengan luka kering 90,9% dan luka agak kering 9,1%. Sedangkan pada sefotaksim tingkat kesembuhan dengan luka kering 63,64% dan luka agak kering 36,36%.Nilai signifikasi yang digunakan adalah jika P Signifikansi < 0,05 Ho diterima, sebaliknya jika P Signifikansi > 0,05 Ho ditolak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penyembuhan luka operasi apendisitis lebih efektif dengan antibiotik seftriakson dibandingkan antibiotik sefotaksim.

PENGARUH PELAYANAN INFORMASI OBAT TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG PENGGUNAAN SALEP MATA YANG BENAR DI PUSKESMAS BOGOR TIMUR

No: 240 Salep mata adalah salep yang digunakan pada mata. Pada pembuatan salep mata harus diberikan perhatian khusus, yaitu Sediaan dibuat dari bahan yang sudah disterilkan dengan perlakuan aseptik yang ketat serta memenuhi syarat uji sterilitas (Goeswin, 2009). Dalam penggunaan salep mata, perlu pengetahuan khusus untuk dapat menggunakannya dengan benar. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pelayanan informasi obat (PIO) terhadap pengetahuan pasien tentang penggunaan salep mata yang benar sebagai upaya menerapkan pharmaceutical care. Jumlah responden sebanyak 60 pasien yang mendapatkan resep salep mata dan diberikan kuisioner sebelum dan sesudah pelayanan informasi obat. Selanjutnya data dianalisa dengan pengujian tingkat signifikasi dengan uji-t. Terdapat peningkatan pengetahuan cara penggunaan salep mata sebelum dan sesudah pelayanan informasi obat (p= 0,000) sehingga terdapat pengaruh pelayanan informasi obat terhadap pengetahuan pasien dalam penggunaan salep mata yang benar.

PENGARUH PENGGUNAAN PROBIOTIK TERHADAP DURASI RAWAT INAP PADA PASIEN DIARE BALITA DI RUMAH SAKIT SALAK BOGOR PERIODE MEI SAMPAI OKTOBER 2014

No: 239 Diare adalah meningkatnya frekuensi buang air besar dan konsistensi feses menjadi cair. Dikatakan diare bila frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi cair. Berdasarkan hasil laporan tahunan periode 2014 diare termasuk sepuluh macam penyakit terbesar di Rumah Sakit Salak Bogor. Pada pengobatan diare selain pemberian seng juga diberikan probiotik. Probiotik banyak disebut sebagai suatu bakteri yang tidak patogen, penghuni normal usus manusia dan binatang. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian tentang penggunaan probiotik terhadap durasi rawat inap pada pasien diare balita untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik pada terapi diare akut.Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan menggunakan rancangan deskriptif yang menggunakan analisis Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukan pasien diare dengan jenis kelamin laki–laki terbanyak 54% dan pengobatan diare yang menggunakan probiotik sebanyak 68% cukup tinggi dibandingkan yang tidak menggunakan probiotik. Perbedaan duarasi rawat inap rata–rata yang menggunakan probiotik hanya 0,68 hari lebih rendah. Hasil besar pengaruh probiotik rata-rata 73.73 lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak menggunakan probiotik rata–ratanya 89.95. Hasil dari tes statistika di dapat nilai yang signifikan 0.028.