Sebanyak 568 Skripsi ditemukan

PERBEDAAN EFEK TERAPI ZINC DAN KOMBINASI ZINC-PROBIOTIK TERHADAP PASIEN DIARE AKUT ANAK BALITA DI RUMAH SAKIT SALAH KOTA BOGOR

No: 218 Secara umum penatalaksanaan diare akut ditujukan untuk mencegah, mengurangi dehidrasi, menjaga keseimbangan elektrolit, menurunkan durasi diare dan memperkecil frekuensi defekasi. Terapi zincbegitu pula terapi probiotik telah terbukti mampu menurunkan durasi diare, demikian pula efek kombinasi zincdanprobiotik telah pula diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efek terapi zinc dan kombinasi zinc dan probiotik terhadap penurunan durasi diare dan frekuensi defekasi pada pasien diare akut anak di bawah usia lima tahun di Rumah Sakit Salak Kota Bogor. Data efek terapi zinc dan terapi kombinasi zinc dan probiotik masing-masing dikumpulkan secara prospektif dari data rekam medik 25 pasien pada periode Februari sampai Juni 2015. Hasil penelitianmenunjukkan durasi diare dengan terapi zinc lebih pendek (8,12 jam) dibandingkan dengan terapi kombinasi zinc dan probiotik (10,12 jam). Sedang frekuensi defekasi pada terapi kombinasi zinc dan probiotik (5,08 kali) hanya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan terapi zinc tunggal (5,24 kali).

EFEKTIVITAS SALEP EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN LUKA GORES PADA KELINCI

No: 217 Anredera cordifolia (Ten.) Steenis yang dikenal dengan nama daun binahong memiliki khasiat obat tradisional sebagai penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas salep ekstrak daun binahong pada luka gores dan untuk mengetahui perbedaan efektivitas salep ekstrak daun binahong sebagai penyembuhan luka. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental. Simplisia serbuk daun binahong diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi. Hasil maserasi diekstraksi dengan alat rotary evaporator, ekstrak yang di dapat diformulasikan kedalam sediaan salep. Salep ekstrak daun binahong dibuat dalam 5 konsentrasi yaitu konsentrasi 20%, 25%, 30%, 35% dan 40%. Subjek penelitian berupa kelinci berjumlah 3 ekor yang dibagi dalam 7 kelompok perlakuan yaitu kontrol negatif (basis salep), kontrol positif (Betadine salep), salep ekstrak daun binahong 20%, salep ekstrak daun binahong 25%, salep ekstrak daun binahong 30%, salep ekstrak daun binahong 35% dansalep ekstrak daun binahong 40% dengan membuat luka gores pada punggung kelinci dengan panjang luka 2 cm. Pada pengujian salep dilakukan uji organoleptik, uji homogenitas dan uji pH. Data diolah secara statistik menggunakan analisa ANOVA dengan metode SPSS. Hasil dari penelitian dan hasil analisis statistik bahwa salep ekstrak daun binahong memiliki efektivitas pada penyembuhan luka gores. Konsentrasi salep ekstrak daun binahong 20%, 25% dan 30% telah memberikan efek penyembuhan luka, sedangkan pada konsentrasi 35% dan 40% memberikan efek penyembuhan yang lebih efektif. Efek yang mirip dengan kontrol positif yaitu salep ekstrak daun binahong dengan konsentrasi 35%, sedangkan salep ekstrak daun binahong 40% memiliki efek yang paling baik.

INTERAKSI OBAT GAGAAL JANTUNG PADA PASIEN GERIATRI RAWAT INAP DI RS BETHA MEDIKA SUKABUMI

No: 216 Suatu interaksi terjadi ketika efek suatu obat diubah oleh kehadiran obat lain, obat herbal, makanan, minuman atau agen kimia lainnya dalam lingkungannya. Interaksi obat dianggap penting secara klinik bila berakibat meningkatkan toksisitas dan atau mengurangi efektivitas obat yang berinteraksi terutama bila menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit (indeksterapi yang rendah).Kejadian interaksi dapat terjadi pada pasien yang menggunakan dua atau lebih obat.Penggunaan obat yang banyak, sering terjadi pada pasien geriatri yang mengidap penyakit degeneratifse pertihipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, osteoartritis, dan penyakit kardiovaskular. Penelitian dilakukan secara retrosfektif menggunakan data rekam medik (Medical Record/MR) pasien geriatri penderita gagal jantung yang dirawat inap di Rumah Sakit Betha Medika Sukabumi periode bulan Maret-April 2016. Diperoleh 70 pasien, 46% laki-lakidan 54% perempuan.Penyakit penyerta tertinggi, dari 10 penyakit penyerta dengan pasien terbanyak adalah Penyakit Jantung Hipertensi (PJH).Interaksi obat terjadi antara :spironolakton, digoksin, amlodipin, bisoprolol dengan obat-obat lain golongan obat gagal jantung maupun obat penyakit penyerta dengan jumlah kejadian interaksi berbeda-beda.

ISOLASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK METANOL DAUN Papuacedrus papuana TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli

No: 215 Staphylococcus aureusdan Escherichia colimerupakan mikroorganisme yang sering menyebabkan penyakit infeksi dan resistensi di lingkungan masyarakat. DaunPapuacedrus papuana termasuk dalam keluarga Cupraseseae diduga berpotensi memiliki aktivitas antibakteri.Tujuan dari penelitian ini adalah mengisolasi dan menguji aktivitas antibakteri ekstrak metanol daun Papuacedrus papuana terhadap bakteri Staphylococcus aureusdan Escherichia coli.Ekstrak Metanol daun Papuacedrus papuana diperoleh dengan metode maserasi. Isolasi dilakukan dengan kromatografi lapis tipis dan kromatografi kolom, dan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode dilusi untuk menggetahui nilai MIC. Hasil isolasi didapatkan tiga senyawa aktif yang berpotensi sebagai antibakteri yaitu F6.3, F4.1.1 dan F4.1.2, dan hasil uji aktivitas antibakteri metode dilusi ekstrak metanol daun Papuacedrus papuanamemiliki aktivitas antibakteri dengan nilai MIC yang sama dengan kontrol positif pada bakteri Staphylococcus aureusyaitu 32 (µg/ml).

PENENTUAN KADAR HIDROKUINON PADA KRIM PEMUTIH WAJAH YANG BEREDAR DI KOTA TANGERANG SELATAN

No: 214 Krim pemutih wajah telah banyak digunakan di Indonesia dan merupakan kosmetika yang mengandung bahan aktif pemutih yang penggunaannyabertujuan untuk mencerahkanatau memutihkan kulit.Hidrokuinon dilarang digunakandalamkrim pemutih wajah karena dapat menyebabkan iritasi kulit, kulit menjadi merah dan rasa terbakar jugadapat menyebabkan kelainan pada ginjal, kanker darah dan kanker sel hati. Tujuan penelitian iniadalah untuk membuktikan masih adanya kandungan hidrokuinon dalam berbagai merek krim pemutih wajah yang beredar di Kota Tangerang Selatan.Sebanyak 8 krim pemutih wajah yang berbeda dikumpulkan dari pusat perbelanjaan lokal di 4 kecamatan daerah Kota Tangerang Selatan yakni : Serpong, Ciputat, PondokArendan Pamulang, uji kualitatif dengan reaksi warna menggunakan pereaksiBenedict dan ferri klorida, hasilnya 5 (lima) sampel mengandung hidrokuinon (A1, A2, B1, C1, D2) dan uji kuantitatif dengan metode spektrofotometri UV-Vismenggunakan pelarut metanol dengan panjang gelombang maksimum 293 nm, kedelapan sampel mengandung hidrokuinon berkisar antara 0,32% sampai 2,34%, dengan kadar hidrokuinon tertinggi pada sampel B1 sebesar 2,34%, yang merupakan sampel produk impor yang telah memiliki nomor registrasi di BPOM.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 70% DAN DEKOKTA DAUN KEMUNING (Murraya paniculata Jacq) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermis

No: 213 Di masa globalisasi ini masyarakat lebih cenderung memanfaatkan berbagai macam baham alam sebagai bahan baku untuk pengobatan oleh karena itu banyak penelitian yang berupaya menggali potensi alam dibidang tanaman untuk diteliti manfaat kandungan bahan alami dari tanaman tersebut. Keanekaragaman hayati di Indonesia sangat mendukung dan banyak tanaman yang telah diketahui berpotensi sebagai antibakteri diantaranya kemuning.Telah dilakukan penelitian senyawa metabolit sekunder terhadap daun kemuning (Murraya paniculata Jacq) yang mempunyai potensi sebagai penghilang bau badan.Bau badan timbul akibat kontaminasi bakteri flora normal kulit yaitu Staphylococcus epidermidis sehingga kelenjar apokrin memproduksi asam isovalerat yang menyebarkan bau tidak sedap pada tubuh seseorang. Penelitian bertujuan untuk mcngetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak aircara dekokta dan ekstrak etanol 70% secara maserasi. Penentuan antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis menggunakun metode difusi dengan carain vitro. Hasil penelitian memperlihatkan adanya aktivitas antibakteri terhadap bakteri S. epidermidis pada metode dekokta dengan zona hambat rata-rata konsentrasi 1% sebesar 6,16 mm, konsentrasi 2% sebesar 7,20 mm, konsentrasi 5% sebesar 7,94 mm. Metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70% didapat zona hambat rata-rata konsentrasi 1% sebesar 6,0 mm, konsentrasi 2% sebesar 6,14 mm. konsentrasi 5% sebesar 6,23 mm. Skrining fitokimia pada daun kemuning (Murraya paniculata Jacq) menunjukkan adanya senyawa steroid dan senyawa fenolik yang terdiri atas saponin, tanin dan flavonoid yang diduga bahwa ada korelasi antara aktivitas antibakteri terhadap kandungan fitokimianya.

ISOLASI KOMPONEN AKTIF ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETIL ASETAT DARI JAMUR ENDOFIT DAUN RASAMALA (Altingia excelsa Noronha)

No: 212 Pemanfaatan tumbuhan tinggi untuk bahan baku obat perlu waktu yang lama dan biomassa yang banyak sehingga potensi mikroba endofit yang berasosiasi dengan tumbuhan potensial perlu diteliti. Keuntungan mikroba endofit adalah kebutuhan tanaman inang dalam jumlah sedikit, siklus hidup singkat, dan produksi komponen aktif mirip dengan tumbuhan inang. Pada penelitian ini dilakukan isolasi komponen aktif antioksidan dari ekstrak etil asetat jamur endofit AED-2 yang berasosiasi dengan daun rasamala (Altingia excelsa Noronha) dan katekin sebagai kontrol positif. Isolasi komponen aktif dilakukan dengan kromatografi lapis tipis (KLT), kromatografi kolom dan KLT preparatif. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode 2,2 diphenyl-1-picrylhydrazyl(DPPH) dengan mengukur 50% peredaman radikal bebas DPPH. Salah satu komponen aktif antioksidan hasil isolasi dengan metode kromatografi adalah fraksi 4.3.1. Nilai IC50 katekin, ekstrak AED-2 dan fraksi 4.3.1 berturut-turut adalah 10,77; 185,37; dan 245,15 ppm. Berdasarkan nilai IC50, fraksi 4.3.1 dikategorikan sebagai penangkap radikal bebas yang sangat lemah.

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL DAN EKSTRAK AIR DARI BIT SECARA IN VITRO (METODE DPPH)

No: 211 Antioksidan adalah molekul yang berkemampuan memperlambat atau mencegah oksidasi molekul lain. Bit (Beta vulgaris L.) adalah salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan bit dan membandingkan aktivitas antioksidannya dengan vitamin C. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Bit yang sudah dikeringkan dan dijadikan serbuk dimaserasi dengan menggunakan pelarut etanol 70% dan pelarut air. Ekstrak yang telah diuapkan, kemudian dilakukan skrining fitokimia, hasil skrining fitokimia ekstrak etanol 70% dan ekstrak air menunjukkan hasil positif mengandung flavonoid, alkaloid dan terpenoid. Ekstrak kental kemudian di uji aktivitas antioksidannya secara kuantitatif untuk memperoleh nilai IC50 dari ekstrak menggunakan spektrofotometer UV-vis pada panjang gelombang 514 nm dengan vitamin C sebagai kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% dan ekstrak air dari bit berfungsi sebagai antioksidan dengan nilai IC50 berturut – turut sebesar 123.75 µg/ml dan 142.39 µg/ml. namun aktivitas antioksidan kedua ekstrak tersebut jauh lebih lemah dibandingkan aktivitas antioksidan vitamin C yang memiliki nilai IC50 sebesar 1.28 µg/ml.

PENGARUH PELAYANAN INFORMASI OBAT TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINDAKAN SWAMEDIKASI PADA BALITA PENDERITA PENYAKIT DIARE AKUT DI DESA PAMAGERSARI KECAMATAN JASINGA BOGOR

No: 209 Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitasnya yang masih tinggi. Survei pada kelompok bayi (usia 29 hari – 11 bulan) penyakit diare sebesar 31,4% sedangkan untuk balita sebesar 25,2% (Subdit Pengendalian Diare dan Infeksi Saluran Pencernaan Kemenkes, 2011). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode analitik deskriptif. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pengetahuan anggota keluarga serta pelayanan informasi obat (PIO) dalam pemberian terapi pengobatan pasien diare akut secara swamedikasi pada balita sebagai upaya menerapkan Pharmaceutical care. Data diperoleh berdasarkan hasil wawancara dan pengisian quesioner oleh responden. Subjek penelitian ini yaitu 50 anggota keluarga (ibu) balita yang mengalami diare akut. Selanjutnya data dianalisa dengan pengujian uji korelasi, tingkat signifikansi dengan uji-t. Terdapat pengaruh yang berarti (pv 0,00 < 0,05) antara pengaruh pelayanan informasi obat terhadap peningkatan pengetahuan angota keluarga tentang penanganan diare akut. Terdapat pengaruh yang berarti (pv 0,00 < 0,05) antara pengaruh pelayanan informasi obat terhadap peningkatan tindakan swamedikasi angota keluarga tentang penanganan diare akut.