Sebanyak 578 Skripsi ditemukan

EVALUASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PASIEN GERIATRI DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN PENYAKIT PENYERTA HIPERTENSI DI INSTALASI RAWAT JALAN

No: 208 Diabetes Melitus (DM) tipe 2 adalah penyakit metabolik kronis akibat tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Hipertensi adalah salah satu komplikasi makrovaskular yang biasa terjadi pada pasien DM. Terapi yang diberikan bisa berjumlah banyak sehingga memerlukan terapi yang lebih teliti. Ketidaktelitian akan menyebabkan timbulnya masalah-masalah terkait penggunaan obat (Drug Related Problems). Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan rancangan analisis deskriptif yang bersifat retrospektif pada data rekam medik. Penderita DM Tipe 2 dengan penyakit penyerta Hipertensi yang menjalani rawat jalan di RS BLUD Sekarwangi Sukabumi selama 1 Desember 2013 sampai dengan 30 Desember 2014 sebanyak 65 sampel. Data obat yang didapat kemudian dikaji secara teoritis untuk mengetahui terjadinya DRPs. Hasil pengumpulan dan pengolahan data menunjukkan bahwa penderita DM Tipe 2 lebih banyak wanita (57%) daripada pria (43%). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa DRPs yang potensial terjadi yaitu interaksi obat (57,34%), terapi tanpa indikasi (13,76%), indikasi tanpa terapi (16,06%), overdosis (2,75%), dosis subterapetik (0%), pemilihan obat yang kurang tepat (1,84%), reaksi obat yang tidak dikehendaki (5,96%), kegagalan menerima obat (2,29%). Obat antidiabetes yang paling banyak diterima pasien yaitu metformin (84,62%), obat antihipertensi yang paling banyak diterima pasien yaitu captopril (66,15%).

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK AIR ETANOL 70% DAN HEKSANA DAUN ALPUKAT (Persea americana Mill) TERHADAP Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus

No: 208 Alpukat (Persea Americana Mill) termasuk dalam famili tumbuhan Lauraceae, banyak tumbuh di daerah tropis dan subtropics. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman obat, salah satunya sebagai antimikroba. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa ekstrak methanol 96 % daun alpukat (Persea Americana Mill) memiliki efek menurunkan jumlah koloni bakteri Esherichia coli secara in vitro. Penelitian lainnya juga menyatakan bahwa terdapat pengaruh ekstrak etanol 96 % daun alpukat (Persea Americana Mill) terhadap Streptococcus pyogeneses. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antimikroba ekstak air, etanol 70 % dan heksana daun alpukat (Persea Americana Mill) dengan meserasi bertingkat oleh pelarut air, etanol 70 % dan heksana. Selanjutnya dilakukan uji fitokimia dan pengujian antimikroba terhadap Escherichia coli dan Stahpylococcus aureus dengan metode cara cakram. Konsentrasi perlakukan dengan konsentrasi 20 %, 40% dan 60% (b/v) dan kelompok kontrol terdiri dari kloramfenikol 30 µg sebagai kontrol positif serta pelarut masing-masing ekstrak sebagai kontrol negatif. Hasil rendemen ekstrak air, etanol 70 % dan heksana berturut-turut sebesar 4,29%; 12,60% dan 4,00%. Hasil penapisan fitokimia pada ekstrak air mengandung flavonoid dan tanin. Ekstrak etanol 70% mengandung flavonoid, tanin dan saponin. Sedangkan ekstrak heksana mengandung flavonoid. Kontrol positif yaitu Kloramfenikol 30 µg terhadap Escherichia coli dan Stahpylococcus aureus menghasilkan zona bening 36,33 mm dan 25 mm. ketiga ekstrak daun alpukat (Persea Americana Mill) dengan konsentrasi 20%, 40% dan 60% (b/v) tidak ditemukan zona hambat terhadap Escherichia coli dan Stahpylococcus aureus.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN BRONKOPNEUMONIA RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT SALAK BOGOR PERIODE JANUARI 2013 SAMPAI DESEMBER 2014

No: 206 Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) merupakan suatu masalah kesehatan utama di Indonesia karena masih tingginya angka kejadian ISPA terutama pada anak-anak maupun balita.Salah satu ISPA bawah yaitu bronkopneumonia.Bronkopneumonia merupakan infeksi saluran napas bawah yang menyebabkan paru-paru meradang sehingga alveoli dipenuhi nanah dan menyebabkan kemampuan menyerap oksigen menjadi kurang. Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Nasional tahun 2011, diketahui bahwa pneumonia menjadi penyebab kematian balita tertinggi (22,8%). Berdasarkan hal tersebut, dilakukan evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien bronkopneumonia balita.Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan menggunakan rancangan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bronkopneumonia banyak terjadi pada usia >2 tahun – 3 tahun yaitu 38,77% dengan jenis kelamin terbanyak yaitu laki-laki 52,04% dan berat badan bronkopneumonia balita masuk kategori normal sebesar 100%. Tanda dan gejala pasien bronkopneumonia terbanyak yaitu napas cepat sebesar 100%, diikuti batuk 98,97%, nyeri dada 73,47%, panas 61,22%, pilek 57,14%, sesak 40,82%, wheezing30,61%, dan sariawan 12,42%. Penggunaan antibiotik yang terbanyak adalah amoksisilin 53,05%. Ketepatan indikasi mencapai 90,82%, ketepatan dosis antibiotik amoksisilin, eritromisin, dan kloramfenikol mencapai 100%, namun kotrimoksazol hanya 70,58%. Ketepatan regimen 100%. Lama penggunaan obat dengan waktu 5-12 hari mencapai 61,33%, sedangkan lama penggunaan obat dengan waktu kurang dari 5 hari sebesar 38,67

PENGARUH SUHU DAN STRAIN SEL INANG Escherichia coli TERHADAP EKSPRESI PROTEIN REKOMBINAN JTAT

No: 205 Escherichia coli adalah sel inang yang sering digunakan dalam ekspresi protein rekombinan. Penyakit jembrana pada sapi bali merupakan penyakit infksi, yang disebabkan oleh Virus Penyakit Jembrana. Hingga saat ini preventif dilakukan vaksinansi menggunakan crude vaccine (serum limfa sapi bali terinfeksi akut jembrana) yang ketersediaannya terbatas. Terobosan dengan teknik protein rekombinan, bahan vaksin dapat dikembangkan dengan pendekatan teknologi protein rekombinan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeterminasi pengaruh perlakuan perbedaan suhu kultur dan strain sel inang Escherichia coli yang berbeda terhadap produksi protein rekombinan JTAT. Kombinasi perlakuan dua suhu kultur (25º C dan 37º C) dan dua strain (E.coli NiCo dan E.coli BL21) disusun dalam 4 perlakuan (T1, T2, T3, dan T4) dengan rancangan acak lengkap, masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Proses ekspresi terdiri dari pemecahan sel, sentrifuge, pencucian, dan elusi. Karakterisasi dilakukan dengan SDS-PAGE. Sementara kuantifikasi protein dilakukan dengan spektrofotometer (GeneQuant). Data hasil ekspresi (karakterisasi, purifikasi, dan kuantifikasi protein) diolah dan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian dari keempat perlakuan (T1, T2, T3 dan T4) menunjukkan kemunculan ukuran pita protein JTAT-pET yang benar yaitu 11,8 kDa. Sementara hasil kuantifikasi secara berturut-turut adalah 0,239 µg/ml, 0,316 µg/ml, dan 0,414 µg/ml, masing-masing untuk T1, T2, T3, dan T4. Disimpulkan bahwa ekspresi protein rekombinan JTAT-pET yang baik dengan melihat ketebalan pita yaitu ekspresi melalui sel inang E.coli NiCo dengan suhu 25ºC. sedangkan untuk melihat hasil kuantifikasi protein rekombinan JTAT-pET yang baik yaitu ekspresi melalui sel inang E.coli NiCo pada suhu 25ºC maupun 37ºC.

EVALUASI SISTEM DISTRIBUSI OBAT DOSIS UNIT PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT PARU DR. M. GOENAWAN PARTOWIDIGDO CISARUA BOGOR

No: 204 Telah dilakukan penelitian tentang distribusi obat dosis unit pada bulam Mei sampai Juli 2014 dengan menggunakan metode retrospektif deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi Standar Operasional Prosedur distribusi obat dosis unit dan mengevaluasi kepatuhan pengisian kartu catatan pengobatan pasien terhadap SOP distribusi obat dosis unit. Hasil penelitian terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk distribusi Single Unit Dose terdapat empat aspek yang tidak tercantum dalam Kartu Catatan Pengobatan Pasien yaitu nomor SIP, alamat dokter, alamat pasien dan informasi berat badan pasien. Hasil peelitian terhadap kepatuhan pengisian Kartu Catatan Pengobatan Oral adalah : Penulisan tanggal visite 99,68%, nama dokter 29,15%, paraf dokter 13,72%,nama obat 89,25%, aturan pakai 37,37%, jumlah obat 39,80%, tanggal mulai pengobatan 31,38%, tanggal stop pengobatan 52,39%, kolom penyiapan obat 100%. Hasil penelitian terhadap kepatuhan pengisian Kartu Catatan Pengobatan Parenteral : penulisan tanggal visite 99,89%, nama dokter 27,69%, paraf dokter 11,69%, nama obat 80,01%, aturan pakai 23,64%, jumlah obat 25,36%, tanggal mulai pengobatan 29,79%, tanggal stop pengobatan 91,96%, kolom penyiapan obat 100%. Hasil penelitian terhadap kepatuhan pengisian Kartu Catatan Pemakaian Cairan Infus dan Alat Kesehatan : Kepatuhan terhadap penulisan tanggal visite 99,54%, nama dokter 18,01%, paraf dokter 11,51% nama obat 100%, jumlah obat 100%, kolom penyiapan obat 100%.

OPTIMASI PROSES PENGHAMBATAN BIOFILM YANG DIBENTUK OLEH Escherichia coli DENGAN EKSTRAK AIR DAUN SENDOK (Plantago major L.)

No: 203 Biofilm Escherichia coli menyebabkan peningkatan kesulitan pengendalian penyakit. Ekstrak air daun sendok (Plantago major L.) mengandung flavonoid, aukubin, dan tanin yang memiliki aktivitas antibakteri sehingga diharapkan dapat menghambat pembentukan biofilm. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji aktivitas ekstrak air daun sendok dalam menghambat pembentukan biofilm E.coli menggunakan metode Microtiter Plate Biofilm Assay, dan di optimasi dengan desain penelitian Response Surface Analysis, Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak air daun sendok mengandung flavonoid, tanin, saponin, dan alkanoid. Bakteri E.coli membentuk biofilm selama 96 jam pada suhu 37�C. Kondisi optimum dari penghambatan biofilm adalah 4.14% untuk ekstrak air daun sendok selama 94.5 jam pada suhu 31.5�C.

UJI DAYA BERSIH ESKTRAK AIR DAUN MENGKUDU (Morinda citrifolia L) PADA PERMUKAAN MELAMIN DENGAN METODE CLEAN IN PLACE (CIP)

No: 202 Peningkatan penggunaan deterjen di industri farmasi membua5 semakin banyak limbah surfaktan yang di hasilkan dari air pencucian oleh deterjen. Daun mengkudu (Morinda citrifolia L) meruoakan taaman yang memiliki zat aktif alkaloid, flavanoid, dan saponin yang berfungsi sebagai bahan pembersih dan antumikroba. Berdasarkan hal tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensu daya bersih ekstrak air daun mengkudu sebagai pembersih alami yang lebih ramah lingkungan dalam membersihkan pengotor organik pada permukaan melamin. Metode pembersihan yang di gunakan adalah Clean In Place (CIP) dengan bahan pembersih berupa larutan deterjen dengab konsentrasi 2%, aquades dan ekstrak air daun mengkudu yang telah diekstraksi secara seduhan dengan konsentrasi sebesar 10%, 15%, 20%. Parameter daya bersih berupa peluruhan mikroba dalam air pencucian permukaan melamin pada panjang gelombang 490 nm menggunakan microolate reader. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak air daun mengkudu pada konsentrasi 10%, 15%, dan 20% mempunyai aktivitas pembersihan terhadap permukaan melamin, dengan nilai presentase berturut-turut sebesar 19.3%, 35.85%, dan 115.4% dibandingkan dengan deterjen dan aquades yaitu berturut-turut sebesar -5.75% dan -8.35%. Aktivitas pembersihan tertinggi dari kelima perlakuan ini adalah ekstrak air daun mengkudu pada konsentrasi 29% yang berbeda nyata (p<0.05) dengan perlakuan lain.

EFEK PENINGKATAN KADAR ALBUMIN DARAH DENGAN PEMBERIAN ALBUMIN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK RAWAT INAP DI RS PMI BOGOR PERIODE JANUARI - DESEMBER 2014

No: 201 Gagal ginjal kronik merupakan suatu proses patofisiologis dengab etiologi yang beragam mengakibatkan fungsi ginjal secara progresif dan ireversibel dalam berbagai periode waktu, dari beberaoa bulan hingga beberaoa dekade. Penderita gagal ginjal kronik mempunyai kadar albumin darah rendah. Dan salah satu terapi yang di berikan yaitu dengab pemberian infus albunim karena dapat meningkatkan kadar albunim dalam tubuh. Telah dilakukan oenelitian untuk mengetahui dosis infus albunim yang di berikan,mengetahui peningkatan kadar albumin yang dapat di capai, dan mengetahui profil pasien gagal ginjal kronik dengan hipoalbuminemia di RS PMI Bogor periode januari - desember 2014 berdasarkan penjamin biaya. Data dikumpulkan dengan cara retrospektif kemudian di analis secara deskriptif. Data yang di teliti sebanyak 54 sampel. Dari analisis data yang dilakukan dioeroleh hasil sebagai berikut berdasarkan usia menunjukkan bahwa pasien gagal ginjal kronik dengan hipoalbuminemia terbanyak berusia 56-65 tahun yakni sebesar 29,63%. Berdasarkan stadium diagnosis gagal ginjal kronik menunjukkan stadium terbanyak yaitu stadium 3 sebanyak 17 pasien (31,48%). Berdasarkan dosis pemberian infus albumin, kenaikan kenaikan kadar albumin tertinggi yang di capai yaitu dengab pemberian3 botol yaitu sebanyak 6 pasien dengan kenaikan kadar albumin yang di calai 0,75 g/dl. Berdasarkan kenaikan kadar albumin yang sudah sesuai mencapai >3,0 sebanyak 32 pasien (59,26%). Berdasarkan penjamin biaya pasien gagal ginjal kronik dengan hipoalbuminemia terbanyak yaitu pasien dengan menggunakan biaya JKN sebanyak 48 pasien (88,89%).

POTENSI EKSTRAK AIR DAUN KETAPANG (Terminalia catappa L.) SEBAGAI PEMBERSIH PADA PERMUKAAN PLASTIK DENGAN METODE CLEAN IN PLACE (CIP)

No: 200 Penggunaan deterjen yangberlebihan di industri farmasi membuat perubahan kondisi lingkungan perairan. Terminalia catappa L yang di kenal dengan nama tanaman ketapang telah di laporkan mengandung metabolit sekunder berupa saponin, tanin, alkaloid, flavonoid, resin dan triterpenoid. Diantara senyawa tersebut yaitu saponin telah dilaporkan dapat berfungsi sebagai pembersih. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk menguji ekstrak air daun ketapangsebagai pembersih preparat plastik dari pengotor organik dengan metode clean in place (CIP) menggunakan alat microplate reader dengan panjang gelombang 595 nm untuk kekeruhan dan 490 nm untuk kandungan mikroba, serta uji fitokimia dari ekstrak air daun ketapang tersebut. hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak air daun ketapang dapat berfungsi sebagai pembersih preparat plastik dari pengotor organik. hasil pembersihan ekstrak air faun ketapang 20% lebih baikdari pada ekstrak air daun ketapang 15 dan 10%, berturut-turut sebesar 95,05 ; 58,45 dan 23,95%. Selain itu pembersihan ekstrak-ekstrak air daun ketapang tersebut lebih baik di bandingkan dengan deterjen 2% dan akuades. Kandungan metabolit sekunder dari ekstrak air daun ketapang adalah saponin, alkaloid, flavonoid, tanin, steroi dan triterpenoid.

OPTIMASI PROSES PEMBERSIHAN BIOFILM Staphylococcus epidermis DENGAN EKSTRAK AIR DAUN PEPAYA (Carica papaya L.)

No: 199 Biofilm Staphylococcus epidermidis menyebabkan peningkatan kesulitan pengendalian penyakit. Ekstrak air daun pepaya (Carica papaya L.) mengandung saponin dan enzim papain yang mempunyai kemampuan seperti bahan pembersih sehingga diharapkan dapat membersihkan biofilm.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui zat aktif yang terkandung dalam ekstrak air daun pepaya dan menguji aktivitas ekstrak dalam membersihkan biofilm S. epidermidis serta menentukan kondisi optimum proses pembersihan biofilm oleh ekstrak air daun pepaya.Kandungan zat aktif dalam ekstrak air daun pepaya dianalisis dengan metode uji fitokimia dan kondisi optimum proses pembersihan biofilm ditetapkan dengan Microtiter Plate Biofilm Assay dan Respon Surface berdasarkan pada suhu, konsentrasi ekstrak dan waktu kontak ekstrak pada biofilmS. epidermidis.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak air daun pepaya mengandung saponin, alkaloid, flavonoid dan tanin. Kondisi optimum untuk pembersihan biofilmS. epidermidis berada pada konsentrasi ekstrak 1%, suhu 45°C dan waktu kontak ekstrak 60 menit. Persentase degradasi biofilm oleh ekstrak air daun pepaya sebesar 60.78%. Persentase degradasi biofilm oleh bioremTM (pembersih biofilm) dengan konsentrasi 0.3%, suhu 45°C dan waktu kontak 30 menit yaitu sebesar 45.59%.