Sebanyak 568 Skripsi ditemukan

OPTIMASI AKTIVITAS EKSTRAK AIR DAUN MENGKUDU (Morinda citrifolia L.) DALAM MENGHAMBAT PEMBENTUKAN BIOFILM BAKTERI Pseudomonas aeruginosa

No: 188 Biofilm Pseudomonas aeruginosa menyebabkan peningkatan kesulitan pengendalian penyakit. ekstrak air daun mengkudu mengandung alkaloid dan flavonoidyang bersifat aktivitas antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengujiaktivitas daun mengkudu dalam menghambat pembentukan biofilm Pseudomonas aeruginosa. Metode yang digunakan adalah Microtiter Plate Biofilm Assay dengan desain penelitian Response Surface Analysis. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak air mengandung flavonoid dan alkaloid .Bakteri Pseudomonas aeruginosa dapat membentuk biofilm lebih baik pada suhu 37⁰C selama 96 jam. Kondisi optimum dari ekstrak air dalam menghambat biofilm sebesar 3,0587 %, selama 96 jam pada suhu 37⁰C.

PROFIL PENGOBATAN HIPERTENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK RAWAT INAP DI RS PMI BOGOR PERIODE JANUARI - DESEMBER 2014

No: 187 Pasien penyakit ginjal kronik dengan faktor risiko hipertensi, penurunan fungsi ginjal pada pasien diperparah dengan peningkatan tekanan darah yang justru akan memperberat kerja ginjal. Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui kesesuaian jenis obat-obatan, dosis obat dan frekuensi pemberian obat yang digunakan pada pasien hipertensi dengan gagal ginjal kronik rawat inap di RS PMI bogor periode Januari – Desember 2014. Data diambil secara retrospektif kemudian dianalisis secara deskriptif. Data yang diteliti sebanyak 71 pasien, dengan usia 26 – 65 tahun. Dari analisis data diperoleh hasil sebagai berikut: berdasarkan jenis kelamin sebanyak 47 pasien berjenis kelamin laki–laki (66,20%), dan 24 pasien berjenis kelamin perempuan (33,80%). Berdasarkan usia lansia 45-65 tahun sebanyak 45 pasien (63,38%). Berdasarkan stadium yang terbanyak adalah stadium 5 sebesar 92,96%. Berdasarkan kesesuaian jenis obat-obatan dengan standar The Renal Drug Handbook adalah penggunaan obat hipertensi tunggal (monoterapi) yang yang paling banyak digunakan golongan CCB (Calcium Channel Blocker) sebanyak 37 pasien(52,11%). Penggunaan kombinasi 2 obat yang banyak digunakan yaitu CCB+diuretik sebanyak 9 pasien (12,67%). Penggunaan kombinasi 3 obat yang banyak digunakan yaitu CCB+ARB+Diuretik sebanyak 4 pasien (5,63%). Berdasarkan ketepatan dosis dan frekuensi pengobatan yang tidak sesuai standar The Renal Drug Handbook terdapat 1 pasien dengan pemberian dosis kaptopril yang berlebih dan terdapat 7 pasien yang tidak tepat frekuensi pemberian furosemid.

UJI FITOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI HASIL FRAKSINASI EKSTRAK ETANOL DAUN MURBEI (Morus alba L) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

No: 186 Morus alba (L) yang dikenal denga tanaman murbei adalah tanaman obat yang teklah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit seperti antimalaria, gangguan saluran cerna, antiflamasi. tujuan penelitian ini adalah untuk menguji aktivitas antibakteri dari fraksi heksana, etil asetat dan air dari ekstrak etanol 70 % terhadap bakteri terhadap bakteri Staphyllococcus aureus dan Escherichia coli. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 70 %. Kemudian dilanjutkan dengan fraksinasi ekstrak etanol 70 % dengan menggunakan pelarut heksana, etil, asetat dan air. Setelah itu dilakukan pengujian KLT dari fraksi tersebut pada pengukuran sinar UV ג 254 nm pada sampel standar didapat nilai Rf 0,85, sedangkan pada sinar UV ג 366 nm untuk sampel fraksi heksan dengan nilai Rf 0,70 dan 0,55, fraksi etil asetat dengan nilai Rf 0,56 dan fraksi air 0,39 dan 0,56. Kemudian dilakukan Skrining fitokimia terhadap ekstrak etanol 70 % daun murbei. Hasil Skrining fitokimia terhadap ekstrak etanol 70 % daun alkaloid, tanin, flavonoid, steroid dan saponin. Selanjutnya dilakukan pengujian aktivitas antibakterinya pada berbagai konsentrasi yaitu 1250, 2500, 5000 dan 10000 ppm dengan menggunakan metode difusi agar pada kertas cakram dengan kontrol positif kloramfenikol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada fraksi air pada konsentrasi 10000 ppm dengan menghasilkan adanya zona hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus sebesar 6,76 mm, hal ini menunjukkan bahwa daya hambatnya tergolong sedang. Namun tidak terjadi penghambatan terhadap bakteri Escherichia coli.

MODIFIKASI EKSOPOLISAKARIDA ASAL BAKTERI USUS DENGAN METODE HIGH ENERGY MILLING SEBAGAI BAHAN BAKU SISTEM PENGHANTAR OBAT

No: 185 Eksopolisakarida (EPS) adalah senyawa polimer gula yang diproduksi secara ekstraseluler oleh organism seperti mikroba. Senyawa ini berpotensi digunakan sebagai bahan pengantar obat dalam bentuk nanopartikel yang mampu mempertahankan stabilitas protein , meningkatkan efek teurapeutik protein dan mendukung pemberian obat melalui rute oral. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama waktu penggilingan partikel dengan metode High Energy Milling (HEM) terhadap ukuran partikel Eksopolisakarida asal bakteri usus. Eksopolisakarida berhasil diproduksi oleh bakteri usus Lactobacillus plantarum FU811 (3335,35 mg/L) dan selanjutnya digiling menjadi nanopartikel menggunakan metode HEM dengan variasi lama waktu 0,2 dan 12 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama waktu penggilingan partikel mengubah bentuk dan ukuran partikel EPS. Penggilingan selama 2 jam menurunkan ukuran partikel EPS sampai sebesar 152,1 ± 5,0 nm. Namum begitu, waktu penggilingan yang lebih lama berpotensi mengakibatkan aglomerasi partikel. Lama waktu yang optimumuntuk menghasilkan EPS berukuran nanometer diperlukan untuk menghindari terjadinya aglomerasi. Penelitian ini membuka peluang aplikasi HEM dalam menyiapkan nanopartikel EPS yang berpotensi digunakan dalam industri farmasi.

EVALUASI POLA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ANAK DENGAN DIAGNOSA DEMAM BERDARAH DENGUE DI INSTALASI RAWAT INAP RS DR H MARZOEKI MAHDI BOGOR PERIODE JULI - DESEMBER 2013

No: 184 DBD merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, sehingga pemberian antibiotic dalam pengobatan DBD tidak diperlukan kecuali jika terdapat infeksi sekunder yang disebabkan oleh bakteri dan apabila terjadi DSS (Dengue Syok Syndrome) karena kemungkinan infeksi sekunder dapat terjadi dengan adanya translokasi bakteri dari saluran cerna. Namun dalam beberapa kasus penanganan pasien DBD masih ditemukan pemberian Antibiotik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pravalensi pemeberian antibiotik pada penatalaksanaan DBD anak. Penelitian ini bersifat retrospektif deskriptif non analitik, dilakukan di RS DR H Marzoeki Mahdi Bogor. Responden yang diambil adalah pasien anak dengan diagnosis akhir DBD di RS DR H Marzoeki mahdi Bogor periode Juli-Desember 2013. Data penelitian merupakan data sekunder yaitu dari catatan rekam medis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian antibiotic pada penderita DBD anak masih cukup besar. Dari jumlah sampel 54 anak penderita DBD, 3 tiga pasien terkena DD, 41 pasien menderita DBD tanpa syok dan sebanyak 10 pasien menderita DSS. Pemberian antibiotik paling banyak adalah golongan sefalosporin yaitu sefriakson 17,40%, seftizoksim sebesar 4,34% dan sefotaksin sebesar 78,26% dengan lama pemberian berkisar 2 – 9 hari

UJI TOKSISITAS SEDIAAN ANGKAK YANG MENGANDUNG CITRININ DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETALITY TEST (BSLT)

No: 183 Angkek adalah produk fermentasi karbohidrat yang telah lama dikenal di China sejak abad ke-14 baik sebagai bahan makanan ataupun bahan pengobatan ringan yang terkait dengan masalah pencernaan, sirkulasi darah dan limfa. Angkak diketahui mengandung pigmen warna, lovastatin dan GABA (gamma aminobutyric acid). Tetapi dari penelitian terbaru diketahui bahwa angkak juga mengandung senyawa toksisk yaitu citrinin yang bersifat nefrotoksik dan hepatotoksik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan citrinin dengan alat kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dan menguji toksisitas sediaan angkek dengan metode Brine Shrimp Letality Test (BSLT) ampel angkak yang digunakan adalah kode isolat AS, TST dan JMBA. Kandungan citrinin angkak diekstraksi dengan pelarut etanol 70% (pH 8) dan diambil fase supernatant untuk diinjeksi ke dalam KCKT. Uji toksisitas ditetapkan dengan menentukan nilai LC50 dalam pelarut etanol 70% (pH 8) dan aquades, kemudian dibandingkan nilai LC50 dari kedua pelarut pada media uji larva artemia salina. Hasil analisis citrinin dengan metode KCKT pada isolat angkak menghasilkan nilai citrinin tertinggi pada isolat JMBA sebesar 62,63 µg/g diikuti oleh isolate TST sebesar 59,94 µg/g dan yang terendah adalah isolat AS sebesar 41,23 µg/g. hasil uji toksisitas dengan menggunakan metode BSLT dengan pelarut etanol 70% (pH 8) pada isolat AS, TST dan JMBA nilai LC50 secara berturut-turut dicapai konsentrasi angkak: 13658,40 ppm ; 11865,88 ppm; 8743,79 ppm. Sedangkan dengan pelarut aquades pada isolate AS, TST dan JMBA nilai LC50 secara berturut-turut dicapai pada konsentrasi : 984464,364 ppm; 19107,32 ppm; 36753,61 ppm

PENGUJIAN BIOEKIVALENSI SECARA IN VITRO SEBAGAI SALAH SATU PARAMETER UJI PADA ALIH TEKNOLOGI PROSES PRODUKSI TABLET ASPIRIN 500 MG

No: 182 Tablet asetosal 500 mg atau yang lebih dikenal dengan merek dagang Aspirin dikenal baik sebagai analgesik dan antipiretik hasil pengembangan pusat riset dan teknologi Bayer AG, Jerman, diproduksi oleh PT Bayer Indonesia untuk memasok negara-negara di kawasan Asia Tenggara dan Korea. Karena satu dan lain hal, pembuatan tablet Aspirin 500 mg dialih teknologikan dari pabrik A pabrik B. pengujian ini dilakukan untuk memenuhi peraturan ASEAN Guideline tentang Bioavailability and Bioequivalence serta peraturan BPOM tentang perubahan fasilitas produksi, selain bets hasil proses validasi telah lolos uji mutu dengan metode tervalidasi, uji disolusi terbanding secara in vitro wajib dilakukan untuk mengkualifikasi profil disolusi antara keduanya. Produk tablet uji harus memenuhi syarat faktor kemiripan f2 ̲> 50. Telah dilakukan pengujian disolusi terbanding in vitro dalam 3 media pH 1,2; 4,5 dan 6,8 terhadap masing-masing 12 tablet yang diambil secara acak produksi pabrik A dan B menggunakan spektrofotometer. Grafik disolusi menunjukkan kemiripan profil keduanya di dalam ketiga edia berbeda pH. Kesetaraan profil disolusi dibuktikan pula dengan perhitungan f2, hasilnya : media pH 1,2 = 8; media pH 4,5 = 89 dan pada media pH 6,8 disolusi menunjukkan <85% pada 15 menit. Dengan demikian profil disolusi tablet Aspirin 500 mg hasil produksi pabrik B terhadap A dinyatakan mirip, tidak perlu mengulang validasi proses produksi dan pabrik B sebagai penerima alih teknologi dinyatakan terkualifikasi

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KARAKTERISTIK EKSOPOLISAKARIDA BAKTERI ASAM LAKTAT DARI PRODUK FERMENTASI

No: 181 Bakteri asam laktat (BAL) adalah salah satu bakteri yang mampu menghasilkan eksopolisakarida (EPS) yang berfungsi sebagai antioksidan. Secara alami antioksidan sangat besar peranannya bagi manusia untuk mencegah terjadinya penyakit dengan melindungi sel dari kerusakan akibat proses oksidasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji potensi antioksidan EPS. Dari isolate BAL dan mengkarakterisasi monomer senyawa EPS tersebut. Metode untuk menguji antioksidan EPS menggunakan metode DPPH, dan untuk mengkarakterisasi monomer penyusun EPS tersebut menggunakan KLT dan KCKT. Eksopolisakarida diproduksi oleh tiga isolat BAL yang diisolasi dari produk fermentasi adalah EPS S1, EPS S2 dan EPS S7. Hasil penelitian menunjukkan EPS dari tiga isolat BAL tersebut memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 88.95 ppm, dan 84.54 ppm, sehingga semua EPS tersebut mempunyai aktivitas antioksidan yang kuat, sesuai dengan aktivitas antioksidan vitamin C. hasil KLT dari EPS S1, S2 dan S& hanya terdapat 1 noda dengan nilai Rf sebesar 0.753 yang sesuai dengan nili Rf standar glukosa. Karakterisasi EPS S1, S2 dan S7 adalah tergolong homopolisakarida dengan monomernya adalah glukosa, dan kadar monomer glukosa pada EPS-EPS tersebut berturut-turut adalah 34.82%, 61,91% dan 76.38%

ISOLASI DAN UJI ANTIBAKTERI METABOLIT BIOAKTIF KULTUR JAMUR ENDOFIT CIBP-13 DARI TUMBUHAN Cinnamomum burmannii TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli

No: 180 Jamur endofit kini banyak dieksplorasi sebagai alternative senyawa bioaktif karena kemampuannya menghasilkan metabolit yang potensial untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat. Berdasarkan hasil skrining sebelumnya drai ekstrak kultur jamur endofit yang menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus yang paling kuat adalah CIBP-13. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metabolit bioaktif sebagai antibakteri dari jamur endofit terpilih CIBP-13 yang berasosiasi dengan tumbuhan Cinnamomum burmanni serta mengetahui seberapa besar aktivitas antibakteri dari senyawa murni dengan menentukan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM). Isolasi senyawa aktif dilakukan dengan metode mikrodilusi cair terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri senyawa murni F.2.44 memiliki nilai KHM terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus sebesar 256 µg/mL, aktivitas senyawa ini lebih lemah dibandingkan dengan kontrol positif yang digunakan yaitu kloramfenikol yang memiliki nilai KHM terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus sebesar 8 µg/mL

ANALISA RASIONALITAS DOSIS ANTIBIOTIK GOLONGAN SEFALOSPORIN PASIEN ANAK PENDERITA ISPA RAWAT JALAN DI RS DR H MARZOEKI MAHDI BOGOR PERIODE JANUARI - DESEMBER 2013

No: 179 ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) merupakan penyakit yang umum terjadi pada masyarakat. Berdasarkan tempat infeksinya ISPA terbagi menjadi infeksi saluran pernafasan bagian atas dan infeksi saluran nafas bagian bawah. Prevalensi ISPA di Indonesia sekitar 25,5%. Dampak yang ditimbulkan dari tingginya kejadian ISPA adalah konsumsi antibiotic. Rasionalitas penggunaan antibiotic pada pasien anak yang terdiagnosa ISPA perlu mendapatkan perhatian khusus terutama penggunaan antibiotic golongan Sefalosporin. Penelitian ini bertujuan mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik golongan Sefalosporin pada pasien anak yang mengalami ISPA mencangkup ketepatan dosis, frekuensi, dan lama penggunaan sesuai dengan yang tercantum pada resep diinstalasi rawat jalan R. DR. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif, periode Januari-Desember 2013. Data yang diambil bersumber dari rekam medik dan resep. Sampel pada penelitian ini adalah pasien anak dengan diagnosa ISPA, yang menggunakan antibiotic golongan Sefalospirin. Diperoleh data pasien anak yang didiagnosa ISPA sebanyak 270 pasien, yang diberikan pengobatan dengan antibiotik golongan Sefalospirin sebanyak 14,81% (40 pasien). Berdasarkan jenis antibiotic yang diberikan, diperoleh data 67,5% (27 pasien) dari cefadroxil dan 32,5% (13 pasien) dari cefixime kapsul sebesar 12,5%. Ketepatan penggunaan antibiotik Selaslosporin meliputi kesesuaian dosis, frekuensi, dan lama penggunaan, diperoleh hasil dosis yang sesuai 2,5%, dosis berlebih 45%, dan dosis kurang 52%. Frekuensi pemberian obat yang sesuai 57,5% dan tidak sesuai 42,5%. Penggunaan antibiotik umumnya diberikan pada waktu kurang dari 5 hari, sebesar 50%, minimal 5 hari sebanyak 45% dan terapi jangka waktu 10 hari sebanyak 5%