Sebanyak 558 Skripsi ditemukan

PENAPISAN INHIBITOR α-GLUKOSIDASE DARI ACTINOMYCETES

No: 158 Actinomycetes adalah bakteri gram positif terdapat pada tanah, air, dan tanaman yang memiliki miselium seperti panag, merupakan salah satu sumber metabolit bioaktif yang sangat menarik karena mampu mensintesis metabolit sekunder seperti enzim, herbisida, pestisida dan antimikroba. Actinomycetes adalah bakteri aerob yang tidak dapat hidup pada kondisi anaerob. pH optimum pertumbuhan Actinomycetes adalah 7-7,5, sedangkan suhu optimum adalah 25-35º. Salah satu obat antidiabetes golongan inhibitor a-glukosidase dari Actinomycetes yaitu akarbosa. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian yang bertujuan mendapatkan inhibitor a-glukosidase dari Actinomycetes local untuk pengobatan diabetes mellitus, serta menghitung konsentrasi inhibitor a-glukosidase. Isolate actinomycetes lokal dibiakan dengan teknik fermentasi cair dan inhibitor a-glukosidase diisolasi dengan cara sentrifungsi dan diuji daya inhibisinya terhadap enzim a-glukosidase. Uji penapisan inhibitor a-glukosidase dari 14 isolat Actinomycetes lokal diperoleh satu isolate dengan kode 561 yaitu Actinoplanes rectilineatus yang dapat menginhibisi aktivitas enzim a-glukosidase dengan konsentrasi 0,2 µmol

FORMULASI SEDIAAN CHEWABLE LOZENGES EKSTRAK KAYU MANIS Cinnamomum burmannii (Ness & T.Ness) Blume

No: 157 Kulit kayu batang manis dapat membantu menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes mellitus tipe II. Penggunaan kulit batang kayu manis secara tradisional umumnya digunakan dengan cara direbus atau diseduh. Cara ini kuramg efektif dan efesien sehingga perlu pengembangan ke bentuk modern agar lebih praktis. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan dan mengembangkan penggunaan ekstrak kulit batang kayu manis sebagai pangan fungsional menjadi bentuk sediaan chewable Iozenges dengan berbagai konsentrasi gelatin dan sorbitol sehingga diperoleh formula yang memenuhi syarat dan disukai oleh konsumen. Ekstrak kering kulit batang kayu manis diformulasikan menjadi sediaan chewable Iozenges dengan variasi konsentrasi gelatin tipe B sebagai basis : 22,5%, 20%, dan 17,5% dan sorbitol cair 70% sebagai plascitizer : 20%, 17,5% dan 15%. Pada pembuatan chewable Iozenges ini menggunakan metode tuang lebur. Sediaan yang dihasilkan dievaluasi secara fisik dan kimia meliputi uji organoleptik, keseragaman bobot, kekenyalan, kadar air, pH, dan uji kesukaanuji hedonic. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan chewable Iozenges yang memenuhi syarat dan dapat diterima oleh panelis adalah sediaan chewable Iozenges yang mempunyai konsentrasi gelatin tipe B sebesar 17,5 % dan sorbitol cair 70% sebesar 15% dengan pH 5,23, kekenyalan 71,5 mm, kadar air 55,456%, nilai hedonik 3,28.

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSOPOLISAKARIDA BAKTERI ASAM LAKTAT TERHADAP BAKTERI PATOGEN DAN ANALISIS MONOMER DENGAN KCKT

No: 156 Ekspolisakarida (EPS) adalah produk metabolit sekunder berupa polisakarida yang disekresikan keluar sel mikroorganisme, seperti bakteri, jamur, dan alga. Bakteri asam laktat (BAL) adalah salah satu bakteri yang dapat menghasilkan ekspolisakarida yang dapat menempel padac mukosa usus halus sehingga meningkatkan kemampuan untuk menekan pertumbuhan bakteri pathogen. Penelitian ini menguji potensi antimikroba dari EPS. Eksopolisakarida ini diproduksi oleh tiga isolate BAL yang diisolasi dari produk fermentasi komersial yaitu EPS-S1, S2 dan EPS-EPS-S7. Uji aktivitas antimikroba dilakukan dengan metode difusi agar dengan menggunakan bakteri Gram-negatif Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Shigella sp, bakteri Gram-positif Staphylococcus aureus, dan khamir Candida albicans. Antibiotik Kloramfenikol dan nistatin digunakan sebagai control positif. Hasil penelitian menunjukkan EPS dari tiga isolat bakteri asam laktat menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap semua mikroba pathogen yang diuji. EPS-S2 yang diisolasi dari yoghurt (Jakarta) menunjukkan aktivitas antimikroba tertinggi terhadap Staphylococcus aureus (6,77 mm), EPS-S7 yang diisolasi dari keju mozzarella (Jakarta) terhadap Staphylococcus aureus (5,90 mm). komposisi monomer EPS yang dianalisis menggunakan KCKT menunjukkan bahwa EPS-S2 mengandung glukosa

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DAN ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) YANG MENGANDUNG SENYAWA POLISAKARIDA

No: 155 Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu bahan pangan fungsional yang mempunyai kandungan gizi tinggi dan senyawa polisakarida yang bersifat antimikroba dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antimikroba dan aktivitas antioksidan ekstrak jamur tiram putih yang mengandung senyawa polisakarida. Jamur tiram putih diekstraksi dengan metode meserasi 3 kali 24 jam. Maserat dipekatkan dengan penguap putar (Rotary evaporator). Ekstrak tersebut setelah dilakukan uji kuantitatif dengan metode asam fenol sulfat diperoleh konsentrasi polisakarida sebanyak 31,70%. Larutan polisakarida tersebut kemudian digunakan untuk melakukan uji aktivitas antimikroba dan antioksidan. Pada uji aktivitas antimikroba digunakan kloramfenikol 30 µg dan nistatin 100 µg sebagai kontrol positif untuk bakteri dan yeast. Zona hambat hasil uji aktivitas antimikroba terhadap mikroba Basillus subtilis dan Escherichia coli berturut-turut sebesar 13.5 mm dan 12 mm sedangkan untuk Candida tropicalis tidak terbentuk zona hambat. Hasil uji aktivitas antioksidan ditandai dngan persentase sisa pemucatan warna ß-karoten. Hasil persentase sisa pemucatan senyawa polisakarida adalah 96,43%. Nilai ini tidak berbeda jauh dengan nilai yang diperoleh dari senyawa polisakarida adalah 96,43%. Nilai ini tidak berbeda jauh dengan nilai yang diperoleh dari senyawa Butil Hidroksi Toluena (BHT) sebagai kontrol positif sebesar 92,73%

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT-OBATAN FARINGITIS PADA PASIEN ANAK DI PUSKESMAS TANAH SAREAL KOTA BOGOR

No: 154 Faringitis adalah inflamasi atau infeksi dari membrane mukosa faring ditandai dengan gejala nyeri tenggorokan dan sulit menelan. Faringitis dapatdisebabkan oleh virus, bakteri , dan fungi. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik dan kesesuaian obat yang digunakan meliputi jenis obat, dosis, frekuensi dan lama penggunaan obat yang digunakan pada pasien faringitis anak di Puskesmas Tanah Sareal Kota Bogor dibandingkan dengan buku pedoman pengobatan dasar Puskesmas. Penelitian ini dilakukan dengan metode potong lintang dengan pengambilan data secara retrospektif. Sampel adalah faringitis anak pada bulan Januari-Maret 2013. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk gambaran yang disertai dengan tabel distribusi dan grafik. Dari hasil penelitian ini, data demografi pasien menunjukkan bahwa pasien faringitis anak di Puskesmas tanah Sareal terbanyak adalah usia 1-4 tahun yaitu 50,6%, jenis kelamin perempuan 50,6%, berat badan 10,1-15 kg 34% dengan tanda-tanda terbanyak panas, batuk, pilek 57,3%. Ketidaksesuaian jenis obat berdasarkan berdasarkan tanda dan gejala yaitu amoksisillin 12,8 %, kotrimoksazol 11,8 %, ambroksol 0,6%, gliseril guaikolat 1,3% dan efedrin 0,6%. Ketidaksesuaian jenis obat berdasarkan buku pedoman pengobatan yaitu sefadroksil 100%. Ketidaksesuaian dosis meliputi amoksisillin 21%, ambroksol 62,5%, gliseril guaikolat 73% dan CTM (Klorfeniramin Maleat) 93,75%. Ketidaksesuaian frekuensi obat 0%. Ketidaksesuaian lama penggunaan amoksisillin 31,4% dan kotrimoksazol 88%. Untuk ketidaksesuaian itu maka perlu adanya kebijakan dari Kepala Puskesmas dengan adanya SOP (Standar Operasional Prosedur) diagnose agar dapat meminimalkan penggunaan antibiotic pada pasien faringitis anak untuk mencegah terjadinya resistensi dan megetahui adanya infeksi, serta pengkajian terhadap standar peresepan obat-obatan faringitis megenai jenis, dosis, frekuensi dan lama penggunaan obat

PENGARUH PELAYANAN INFORMASI OBAT TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINDAKAN PENGOBATAN ANGGOTA KELUARGA PASIEN BALITA DIARE NON SPESIFIK DI PUSKESMAS BOGOR TIMUR

No: 153 Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyrakat di Negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan moralitasnya yang masih tinggi. Survei pada kelompok bayi (usia 29 hari-11 bulan) penyakit diare sebesar 31,4 % sedangkan untuk balita sebesar 25,2 % (Subdit Pengendalian Diare dan Infeksi Saluran Pencernaan Kemenkes, 2011). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian Pelayanan Informasi Obat (PIO) terhadap pengetahuan anggota keluarga dalam pemberian tindakan pengobatan diare non spesifik pada balita sebagai upaya menerapkan Pharmaceutical Care. Jumlah responden penelitian sebanyak 60 anggota keluarga balita yang mengalami diare non spesifik. Data dianalisis dengan koefisien korelasi Spearman (p). Pengaruh Pelayanan Informasi Obat terhadap tindakan penanganan diare non spesifik pada balita tidak berpengaruh (p = 0,589); (p = 0,460)

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN BALITA DENGAN DIAGNOSA ISPA BUKAN PNEUMONIA DI PUSKESMAS BOGOR TIMUR PERIODE FEBRUARI - MARET 2014

No: 152 Penyakit ISPA (Infeksi Pernafasan Saluran Akut) merupakan suatu masalah kesehatan utama di Indonesia karena masih tingginya angka kejadian ISPA terutama pada anak-anak dan balita. Salah satu penyakit ISPA adalah ISPA bukan pneumonia. Berdasarkan rekomendasi WHO (World Health Organization) penanganan ISPA bukan pneumonia pada balita cukup dengan pengobatan supportif dan tidak perlu pemberian antibiotic. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat melakukan pengawasan terhadap penggunaan antibiotic di tiap Puskesmas, dimana penggunaan antibiotic di tiap puskesmas mempunyai indikator kesalahan dari peresepan antibiotic tersebut yaitu <̱ 20%. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian mengenai evaluasi penggunaan antibiotic pasien balita dengan penyakit ISPA bukan pneumonia di Puskesmas Bogor Timur. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif non analitik terhadap data sekunder berupa rekam medis dan resep obat. Pengambilan data secara prospektif dan diperoleh 223 sampel data untuk analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ISPA bukan pneumonia banyak terjadi pada umur > 1 tahun -<̱ 3 tahun yaitu 42,22 %, dengan jenis kelamin laki-laki terbanyak yaitu 54,26%, tanda dan gejala yang dialami oleh pasien yaitu batuk dan pilek dengan data sebesar 49,33%. Diagnosa dan jenis penyakit yang dialami pasien ISPA yaitu bukan pneumonia 81,33 %, faringitis 15,11% dan common cold 8,56%. Persentase penggunaan antibiotik yaitu 18,83% dengan penggunaan antibiotik terbanyak golongan penicillin yaitu amoksisillin sebesar 78,57% dengan bentuk sediaan cair yaitu 76,19%. Masih banyaknya penggunaan antibiotik pada ISPA bukan pneumonia terjadi dikarenakan pihak Dinas Kesehatan dan Puskesmas Bogor Timur belum terfokus untuk memonitoring tatalaksana pengobatan penyakit ISPA bukan pneumonia dan belum adanya pedoman tatalaksana pengobatan tentang ISPA bukan pneumonia.

SKRINING, ISOLASI, DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI METABOLIT BIOAKTIF JAMUR ENDOFIT DARI GINSENG MERAH (Rennellia speciosa Hook. f.) TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli

No: 151 Mikroba endofit merupakan mikroba yang hidup dalam jaringan tumbuhan tanpa menyebabkan efek negative terhadap tanaman inangnya. Jamur endofit mampu nmenghasilkan senyawa-senyawa bioaktif salah satunya adalah senyawa antibakteri. Pada penelitian ini, dilakukan skrining, isolasi dan uji aktivitas antibakteri dari Ginseng Merah (Rennellia speciosa Hook.f.). skrining aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode bioautografi dan menghasilkan isolate yang paling aktif yaitu ekstrak GMD-4/5. Perbanyakan kultur jamur endofit GMD-4/5 dalam media PDB (potato-Dextrose-Broth) yang dilanjutkan dengan ekstraksi etil asetat menghasilkan ekstrak GMD-4/5 sebanyak 1,4196 g berwarna merah. Isolasi senyawa aktif dari ekstrak GMD-4/5 dilakukan menggunakan kromatografi kolom silica gel, diperoleh senyawa murni F.3.5a. penentuan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) terhadap F.3.5a menggunakan metode mikrodilusi. Sebagai kontrol positif digunakan kloramfenikol. Nilai KHM untuk bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dari f.3.5a, masing-masing sebesar 256 µg/m l. nilai KHM untuk bakteri kloramfenikol 8 µg/mL.

AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK ETANOL DAUN COCOR BEBEK (Bryophillum pinnatum) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus DAN Staphylococcus epidermidis SECARA IN VITRO

No: 150 Bisul merupakan infeksi pada kulit yang sering dialami oleh beberapa penduduk di Indonesia yang ditandai dengan adanya benjolan berwarna kemerahan dan membesar hingga keluar bintik nanah atau disebut dengan mata nanah. Bakteri yang bertanggung jawab dalam infeksi penyakit ini adalah Staphylococcus aureus dan Stapylococcus epidermidis. Tetapi alternatif bahan alam yang sering digunakan yaitu dengan daun Cocor Bebek (Bryophyllum pinnatum) yang kaya akan kandungan steroid (Bufadienolida), flavonoid, saponin dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa aktif dan mempelajari aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Stapylococcus epidermidis serta menetukan Konsentrasi Hambat Minimum dan Konsentrasi Bunuh Minimum dari ekstrak etanol 70% daun cocor bebek (Bryophyllum pinnatum). Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorium dengan menggunakan metode difusi cakram, dilusi cair dan dilusi padat dngan kontrol positif berupa larutan kloramfenikol 1%. Konsentrasi ekstrak yang digunakan yaitu 10%, 15%, 20%, 25% dan 30% dimana pada konsentrasi 30% mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus sebesar 11,74 mm dan Stapylococcus epidermidis 9,42 mm. nilai KHM dan KBM dalam penelitian ini belum dapat ditentukan namun dari data hasil yang sudah dilakukan diketahui bahwa daun cocor bebek (Bryophyllum pinnatu) mempunyai aktivitas antibakteri lebih besar pada Staphylococcus aureus dibandingkan dengan Stapylococcus epidermidis. Hasil skrining fitokimia diketahui bahwa daun cocor bebek (Bryophyllum pinnatu) mengandung senyawa, flavonoid, tannin, steroid, dan saponin.

UJI ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN SIRSAK (Annona muricata L) TERHADAP BAKTERI Bacillus subtilis dan Pseudomonas aeruginosa

No: 149 Sirsak (Annona muricata L.) merupakan salah satu jenis tanaman yang berkhasiat mengobati berbagai penyakit, salah satunya sebagai antibakteri. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa sari daun sirsak pada konsentrasi 10% efektif menghambat pertumbuhan bakteri Eschericia coli dengan diameter zona hambat sebesar 22,19 mm. berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian lanjutan yang bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol 96% dan ekstrak metanol terhadap bakteri Bacillus subtilis dan Pseudomonas aeruginosa. Simplisia daun sirsak dimaserasi dengan pelarut etanol 96% dan methanol kemudian dilakukan pengujian antibakteri dengan cara cakram dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80% dan amoksisilin sebagai kontrol positif, serta melakukan uji fitokimia dari simplisia, ekstrak etanol 96% dan ekstrak metanol daun sirsak. Kandungan fitokimia pada simplisia dan ekstrak etanol 96% daun sirsak yaitu flavonoid, saponin, tanin, dan alkaloid, sedangkan pada ekstrak metanol tidak terdapat kandungan alkaloid. Hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96% dan ekstrak methanol daun sirsak tidak menunjukkan adanya aktivitas antibakteri. Salah satu factor tidak adanya aktivitas antibakteri adalah penggunaan metode cara cakram yang digunakan tidak adanya aktivitas antibakteri adalah penggunaan metode cara cakram yang digunakan kurang efektif.