Sebanyak 568 Skripsi ditemukan

UJI ANTI ABSES SENYAWA (+)-2,2'-EPISITOSKIRIN A PADA MENCIT PUTIH JANTAN

No: 148 Secara in vitro senyawa (+)-2,2’-episitoskirin A telah terbukti memiliki aktivitas yang potensial sebagai antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kemampuan (+)-2,2’-episitoskirin A sebagai anti abses pada mencit yang diinduksi dengan Staphylococcus aureus. Mencit dibuat abses dengan diinduksi bakteri Staphylococcus aureus yang diberikan dua jam setelah suspense (+)-2,2’-epsitoskirin A dalam CMC 1% per oral dengan dosis 12,5 mg/kg BB, 8 mg/kg BB, 50 mg/kg BB, 100 mg/kg BB dan 200 mg/kg BB. Sebagai control positif digunakan mencit yang diberi Vankomisin dengan dosis 4 mg/kg BB, 8 mg/kg BB dan 16 mg/kg BB secara intraperitonial dan control negative CMC 1 % secara oral dan diperlakukan sama seperti kelompok uji. Diameter abses yang terbentuk diukur dengan jangka sorong dan metode yang digunakan untuk menghitung populasi bakteri ialah metode spread plate. Dari lima level dosis yang diuji, menunjukkan bahwa dosis 12,5 mg/kg BB adalah yang efektif.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI THE KOMBUCHA PROBIOTIK TERHADPA BAKTERI Escherichia coli dan Staphylococcus aureus

No: 147 Teh kombucha telah banyak digunakan sebagai alat obat tradisional untuk menstabilkan metabolism dan menawarkan racun sehingga dipercaya dapat melancarkan pencernaan. Probiotik berfungsi menyeimbangkan mikroflora usus yang dapat mencegah dan mengobati infeksi diare. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji aktivitas antibaketri serta menentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dari teh kombucha probiotik berbahan baku teh sencha terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar penentuan KHM dan KBM dilakukan dengan metode dilusi padat. Hasil penelitian menunjukkan bahan the kombucha probiotik mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Jumlah BAL pada teh kombucha probiotik sebesar 3.1 x 10⁸ CFU/ml, sehingga dapat dikategorikan sebagai minuman probiotik. Diameter zona hambat (DZH) tertinggi adalah terhadap bakteri Staphylococcus aures yaitu terdapat pada konsentrasi 100% (DZH = 23.07 mm). Diameter zona hambat terhadap bakteri Escherichia coli pada konsentrasi 100% sebesar 21.76 mm. Namun diameter zona hambat Escherichia coli dan Staphylococcus aureus tersebut lebih rendah dibandingkan dengan diameter zona hambat kloramfenikol 30 µg/ml sebagai control positif yaitu berturut-turut sebesar 24,87 mm dan 26.25 mm. KHM dan KBM teh kombucha probiotik terhadap bakteri Escherichia coli terdapat pada konsentrasi 25% dan 40%. KHM dan KBM teh kombucha probiotik terhadap bakteri Staphylococcus aures terdapat pada konsentrasi 25% dan 35%.

UJI EFIKASI INSULIN ORAL DENGAN BAHAN PENYALUT EKSOPOLISAKARIDA DARI Lactobacillus plantarum FU 0811 PADA PAPARAN pH ASAM DAN ENZIM PENCERNAAN

No: 146 Penelitian ini mengkaji kemampuan Eksopolisakarida (EPS) yang dapat melindungi insulin dari paparan pH asam dan enzim pankreatin. Pada paparan pH asam yang bervariasi 1,0; 1,5; 2,0; 2,5; 6,5 dan Enzim pankreatin. Insulin yang dipakai Actrapid® Hm penfill® 100 1U/ml 3ml Biosintetic Human Insulin (Solution for Injection) yang diperoleh dari Kimia Farma, untuk enzim pankreatin dilarutkan pada buffer pH 6,5 sebagai kontrol. EPS dihasilkan dengan mengkultur bakteri L. plantarum FU 0811 di dalam medium dengan sumber karbon pati sagu yang dihidrolisis menggunakan larutan asam, EPS dipurifikasi menggunakan cellulose membrane, hasil pengujian menunjukkan bahwa konsentrasi EPS yang dihasilkan adalah sebesar 41,54 mg/L. Selanjutnya EPS digunakan sebagai penyalut insulin agar bisa tahan terhadap asam dan enzim pencernaan. EPS yang dihasilkan 41,54 mg/L, kemudian EPS diencerkan 2x menjadi 20,77 mg/L. Pengujian insulin dengan buffer pH asam dan enzim pankreatin, dilakukan dengan uji folin, menginkubasi pada suhu 37°C selama 120 menit dan penambahan TCA (Trichloroacetic Acid), reagen A, Reagen B-1, reagen B-2 dan reagen C, dengan mengukur absorbansi OD7s0nmmenggunakan spektrofotometer UV/VIS. Eksopolisakarida dapat melindungi insulin dari paparan pH asam dan enzim pankreatin terlihat bahwa insulin terdegradasi oleh adanya pH asam dalam tubuh, ketahanan insulin pada pH | sebesar 51,64% atau turun hampir setengahnya, namun ketika yang terukur dengan kompleks EPS sebesar 76,26%. Hasil tersebut dirasa belum cukup efektif untuk dibuat insulin oral, tetapi ketika pengujian insulin terhadap enzim pankreatin, insulin terdegradasi dengan keberadaan enzim_pankreatin, penurunan insulin sampai 52,1% insulin disalut dengan EPS agar dapat melindungi insulin dari keberadaan enzim pankreatin dan didapat hasil sebesar 94,4% dan kerusakannya hanya 5,6%. Ketahanan insulin dengan kompleks EPS dirasa efektif untuk pemakaian peroral. Secara umum penelitian ini membuka peluang untuk pengobatan diabetes mellitus secara peroral.

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL ANGKAK TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL DAN TRIGLISERIDA PADA TIKUS PUTIH GALUR Sprague dawley

No: 145 Secara global, penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian nomor satu. Setiap tahun lebih banyak orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular dibandingkan dengan penyakit lainnya. Penyakit kardiovaskular erat hubungannya dengan kolesterol. Masyarakat cenderung menganggap bahwa kolesterol merupakan hal yang buruk, jahat, dan tidak bermanfaat bagi kesehatan. Pada kasus tertentu dibutuhkan obat penurun kolesterol dan trigliserida. obat yang paling sering digunakan adalah obat golongan statin. angkak adalah hasil fermentasi beras dengan menggunakan kapang Monascus purpureus. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Tisnadjaja di Puslit Bioteknologi LIPI, angkak menghasilkan metabolit sekunder berupa lovastatin, atorvastatin, mevastatin, dan simvastatin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar efek ekstrak etanol angkak dalam menurunkan kadar kolesterol darah dibandingkan dengan obat antikolesterol golongan statin. Penelitian ini dilakukan secara in vivo pada tikus putih yang dikondisikan menderita hiperlipidemia dan kemudian diberikan ekstrak etanol angkak dan pembanding simvastatin selama 8 minggu. Ekstrak etanol angkak dapat menurunkan kolesterol total sampai 10.14% dalam 2 minggu dan trigliserida dapat diturunkan sampai 12,47% dalam 4 minggu.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SABUN TRANSPARAN EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluhcea indica Less) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis

No: 144 Penelitian ini bertujuan untuk membuat sabun transparan yang berisi ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis dan menguji penampilan fisik serta pH sediaan tersebut. Daun beluntas (Pluchea indica Less) diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 30%, dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator. Pengujian aktivitas antibakteri sabun transparan ekstrak daun beluntas menggunakan konsentrasi 5%, 7% dan 9% terhadap Staphylococcus epidermidis dengan metode difusi sumuran. Pengujian pH serta uji penampilan fisik yang meliputi warna, tekstur, dan bentuk diamati selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa diantara konsentrasi sabun transparan ekstrak daun beluntas yang paling efektif adalah sabun transparan ekstrak daun beluntas dengan konsentrasi 7%. Sabun transparan ekstrak daun beluntas konsentrasi 7% mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis yang menunjukkan adanya zona hambat terhadap pertumbuhan bakteri uji. Zona hambat pada pengenceran 10000 ppm, 5000 ppm, 3000 ppm dan 1000 ppm berturut-turut yaitu 8,87 mm, 7,74 mm, 6,25 mm dan 0 mm. Pengukuran pH menunjukkan bahwa semua sampel sabun bersifat basa yaitu dari pH 10,52 hingga 11,48. Hasil uji penampilan fisik selama 14 hari menunjukkan tidak ada perubahan baik pada warna, tekstur, dan bentuk sabun transparan.

IDENTIFIKASI SENYAWA LUTEIN DARI KEMBANG KOL (Brassica oleracea L.cv.groups cauliflower) DAN UJI POTENSI ANTOKSIDAN DENGAN METODE ABTS

No: 142 Antioksidan adalah senyawa yang mampu menangkal atau meredam dampak negatif oksidan dalam tubuh, salah satu tanaman yang memiliki antioksidan adalah kembang kol (Brassica Oleracea L.cv.groups cauliflower). Kembang kol merupakan salah satu jenis sayuran yang memiliki kandungan karotenoid yang bersifat antioksidan, Salah satu jenis karotenoid yang penting adalah lutein. Lutein memiliki aktivitas antioksidan yang dapat melindungi sel-sel terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas. Akumulasi radikal bebas dapat disebabkan oleh asap rokok, polusi udara, makanan yang banyak mengandung lemak, radiasi sinar ultraviolet dan obat-obatan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi dan mengidentifikasi senyawa lutein dari kembang kol dan menentukan potensi antioksidan yang diuji aktivitasnya menggunakan metode ABTS (Asam _ 2,2’-Azino-bis-3-etilbenzatiazolin-6- sulfonat), yang diukur dengan spektofotometer UV-Vis. Nilai 1Cso kembang kol yang didapat sebesar 47,798y2/ml dan untuk vitamin C sebagai kontrol positif sebesar 17,280ug/ml. Hasil analisis kualitatif terhadap ekstrak lutein dengan KLT diperoleh nilai Rf sebesar 0,68. Kemudian dilakukan jidentifikasi lutein menggunakan KCKT yang menunjukan terdapatnya senyawa lutein pada ekstrak kembang kol pada waktu retensi 1,3 menit sesuai dengan baku pembanding lutein. Uji toksisitas metode BSLT menggunakan larva udang artemia salina pengujian terhadap ekstrak kembang kol menunjukkan harga LCso sebesar 1056,208 ug/mL hasil ini bersifat tidak toksik terhadap Artemia salina Leach sehingga tidak memiliki potensi toksisitas menurut metode BSLT.

KAJIAN METODE ANALISIS ASAM MEFENAMAT SECARA SPEKTROFOTOMETRI DAN KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI

No: 141 Berdasarkan literatur FI edisi IV, asam mefenamat dianalisis menggunakan metode KCKT. Metode ini cukup memakan waktu sehingga kurang efektif apabila digunakan pada analisa dengan jumlah sampel yang banyak. Asam mefenamat dapat pula dianalisis dengan metode spektrofotometri, yang mana waktu pengujiannya relatif lebih cepat dibandingkan metode KCKT. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji apakah dapat dilakukan alternatif metode terhadap analisis asam mefenamat dengan kedua metode diatas. Adapun ruang lingkup penelitian berupa Validasi Metode Analisa kedua metode dengan parameter : akurasi, linearitas, presisi dan kestabilan larutan (robusnest). Pengujian juga memperhitungkan penetapan kadar terhadap sampel menggunakan kedua metode tersebut. Pada spektrofotometn’ sampel asam mefenamat dilarutkan dengan NaOH 0,1 N kemudian diukur pada panjang gelombang 285 nm, sedangkan pada KCKT sampel asam mefenamat dilarutkan dengan fase gerak campuran dapar ammonium fosfat, asetonitri] dan tetrahidrofuran dengan perbandingan 20:23:7, kemudian diukur pada panjang gelombang 254 nm menggunakan kolom C18 sebagai fasa diam. Hasil yang didapat pada pengujian akurasi untuk spektrofotemetri dan KCKT, RSD= 0,47dan 0,35 pada pengukuran linearitas untuk spektrofotometri dan KCKT, r’ =0,9997 dan 0,9995 pada presisi untuk spektrofotometri dan KCKT, RSD =0,184 dan 0,224, sedangakan pada pengujian kestabilan larutan didapat hasil RSD 0,11untuk spektrofotometri dan RSD 0,65 untuk KCKT. Berdasarkan hasil pengujian diatas diambil kesimpulan bahwa metode spektrofotometri dapat dijadikan alternatif terhadap metode KCKT.

GAMBARAN DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PASIEN RAWAT INAP UMUM DENGAN HIPERTENSI PRIMER DI RUMAH SAKIT SALAK BOGOR PERIODE 1 OKTOBER 2011 SAMPAI DENGAN 30 SEPTEMBER 2012

No: 140 Hipertensi Primer adalah hipertensi yang tidak jelas penyebabnya yang terdiri dari faktor genetik dan lingkungan. Dalam pengobatan hipertensi, pasien selalu mendapatkan pengobatan dalam waktu lama (Jong life) dan jumlah obat yang banyak (polifarmas!), sehingga kemungkinan terjadinya masalah yang terkait dengan obat (Drug Related Problems/DRPs) sangat besar, maka tidak jarang pasien hipertensi usia lanjut melakukan rawat inap. Telah dilakukan penelitian pada pasien Hipertensi Primer yang dirawat inap di Rumah Sakit Salak selama 1 Oktober 2011 sampai dengan 30 September 2012 dengan teknik pengumpulan data retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Data yang diteliti sebanyak 30 pasien. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa pasien Hipertensi Primer lebih banyak laki — laki (53,33%) daripada perempuan (46,67%). Golongan antihipertensi yang paling banyak diterima adalah golongan ACE inhibitor (80%). Penyakit penyerta yang paling banyak ditemukan pada pasien hipertensi primer adalah dispepsia sebanyak 30%. Obat lain yang paling banyak digunakan untuk penyakit penyerta adalah golongan antasida antiulserasi sebanyak 96,64%. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa DRPs yang potensial terjadi yaitu interaksi obat bermakna klinis (34,57%), interaksi obat tidak bermakna klinis (65,43), terapi tanpa indikasi (3,85%), indikasi tanpa terapi (16,92%), overdosis (0,77%), dosis subterapetik (7,69%), pemilihan obat yang kurang tepat (8,46%), reaksi obat yang tidak dikehendaki (0%) dan kegagalan menerima obat (0%).

ANALISIS DEKSAMETASON PADA JAMU PENAMBAH NAFSU MAKAN DI DAERAH BOGOR SELATAN

No: 139 Jamu merupakan obat tradisional warisan nenek moyang yang banyak dikonsumsi masyarakat karena penggunaannya dianggap relatif lebih aman dibandingkan dengan obat sintetik. Saat ini banyak jamu yang beredar di masyarakat ditambahkan dengan obat sintetik. Siproheptadin merupakan salah satu golongan obat antihistamin. Siproheptadin merupakan obat antihistamin yang mempunyai efek samping antiserotonin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahul ada atau tidaknya bahan kimia obat siproheptadin pada jamu tradisional penambah nafsu makan. Objek penelitian adalah sampel jamu penambah nafsu makan yang beredar di daerah Bogor Utara. Untuk mengidentifikasi siproheptadin pada jamu secara kualitatif dengan melakukan uji pendahuluan yaitu uji Marquis dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Kadar siproheptadin pada jamu dapat diketahut dengan menggunakan spektrofotometri UV-VIS. Dari 10 sampel jamu penambah nafsu makan yang dianalisis terdapat satu sampel jamu yang mengandung siproheptadin yaitu pada sampel jamu D dengan kadar 6,041 jg/bungkus, walaupun tidak semua jamu tradisional yang beredar di masyarakat mengandung bahan kimia obat tetapi hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masih terdapat jamu tradisional penambah nafsu makan yang mengandung bahan kimia obat di daerah Bogor Utara.