Sebanyak 568 Skripsi ditemukan

PRODUKSI DAN PURIFIKASI SENYAWA MANOSILERITRITOL LIPID (MEL) OLEH KHAMIR Pseudozyma antartica Y7954

No: 138 Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis senyawa glikolipid manosileritritol lipid (MEL) apa yang terkandung dalam khamir Pseudozyma antartica Y 7954. Produksi senyawa glikolipid MEL diawali dengan peremajaan isolat Pseudozyma antartica Y 7954 dan penyiapan media kultur, kemudian dilakukan produksi ekstrak kasar MEL dengan metode ekstraksi menggunakan etil asetat, metanol, n-heksan dan air. Selanjutnya kromatografi lapis tipis (KLT) dilakukan untuk mendeteksi serlyawa MEL. Deteksi spot awal memberikan informasi bahwa khamir Pseudozyma antartica Y7954 merupakan penghasil tiga jenis MEL, yaitu MEL A, MEL B dan MEL C setelah disandingkan dengan khamir standar penghasil MEL A, MEL B dan MEL C. Pemurnian ekstrak dilakukan agar didapatkan senyawa murni yang kemudian struktur molekulnya diidentifikasi dengan instrumen resonansi magnetik inti (RMI). Hasil identifikasi senyawa menggunakan RMI memperlihatkan kemiripan puncak bahkan kesamaan beberapa puncak pada titik tertentu antara khamir Pseudozyma antartica Y7954 dengan khamir standar penghasil MEL B. Dapat dikatakan bahwa khamir Pseudozyma antartica Y7954 spesifik menghasilkan MEL B.

PURIFIKASI DAN ANALISIS KANDUNGAN GLIKOLIPID MANOSILERITRITOL LIPID (MEL) DARI KHAMIR Pseudozyma aphidis YB205

No: 137 Biosurfaktan merupakan alternatif untuk menanggulangi masalah yang ditimbulkan oleh surfaktan sintetik. Salah satu akibat dan. penggunaan surfaktan sintetik adalah terjadinya pencemaran lingkungan. Produksi biosurfaktan asal khamir sangat potensial dan bersifat aman. Isolat khamir Pseudozyma tengah dikembangkan sebagai surfaktan mikrobial (biosurfaktan), salah satunya adalah khamir Pseudozyma aphidis YB205. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan khamir Pseudozyma aphidis YB205 dalam memproduksi biosurfaktan kelas glikolipid, yaitu Manosileritritol Lipid (MEL) dan mengetahui jenis MEL yang dihasilkan oleh khamir ini. Produksi MEL dari khamir Pseudozyma aphidis YB205 dilakukan dengan cara fermentasi selama 10 hari pada suhu 30° C dan kecepatan agitasi 200 rpm. Fermentasi ini menggunakan substrat minyak kedelai sebanyak 5% dan sebagai sumber karbon | digunakan 5% glukosa untuk mendukung pertumbuhan khamir dengan baik. Tipe substrat yang digunakan akan berpengaruh pada pembentukan MEL. Purifikasi senyawa glikolipid dilakukan dengan metode ekstraksi menggunakan beragam pelarut organik dan Kromatografi Kolom (KK). Analisis produk fermentasi dilakukan melalui uji kualitatif yang meliputi analisis Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan analisis dengan spektrometer Resonansi Magnetik Inti (RMI) dengan spektrum satu dimensi proton lly Analisis dengan KLT menunjukkan bahwa ekstrak khamir Pseudozyma aphidis YB205 memiliki pola spot yang sama dengan isolat standar Pseudozyma antartica sebagai produsen MEL A, MEL B dan MEL C. Analisis struktur glikolipid MEL dengan spektrometer RMI menunjukkan pola puncak yang mirip dengan spektrum khamir P. antartica T-34 yang teridentifikasi sebagai produsen MEL C.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETIL ASETAT ISOLAT-ISOLAT BAKTERI TERHADAP Mycobacterium smegmatis

No: 136 Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati diantaranya kaya akan mikroba. Penggalian potensi mikroba adalah salah satu cara memanfaatkan sumber daya alam. Mycobacterium smegmatis adalah mikroorganisme yang telah menjadi salah satu bakteri percobaan di Laboratorium untuk studi biologi. Bakteri ini tergolong sebagai bakteri non-patogen pada manusia dan hewan, bersel tunggal, reproduksinya cepat, dan dikasifikasikan sebagai bakteri gram positif. Mycobacterium smegmatis memiliki struktur yang sama dengan Mycobacterium tuberculosis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ekstrak etil asetat isolat bakteri memiliki aktivitas terhadap Mycobacterium smegmatis dan mengetahui Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) yang mampu menghambat pertumbuhan Mycobacterium smegmatis. Ekstrak etil asetat yang digunakan sebanyak 51 ekstrak isolat bakteri yang diuji difusi cakram, dari 51 ekstrak tersebut terdapat 10 ekstrak yang berpotensi sebagai antibakteri. Dipilih 4 ekstrak (MKS-4G, MMKS-10C, ATH 2146, dan 065-LV-AB) yang memiliki potensi aktivitas antibakteri terbesar untuk dilakukan pengujian KHM dengan penambahan MTT assay. Pengujian juga dilakukan terhadap rifampisin yang digunakan sebagai kontrol positif. Hasil menunjukkan bahwa dari ke-4 ekstrak, satu ekstrak yaitu MKS-4G dapat menghambat pertumbuhan Mycobacterium smegmatis dengan konsentrasi hambat minimum 16 pg/ml, dan merupakan ekstrak yang memiliki potensi antibakteri yang paling tinggi, maka perlu dilakukan analisis lanjutan untuk identifikasi senyawa pada ekstrak tersebut.

PENGKAJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK ANGKAK DENGAN METODE DPPH MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

No: 135 Angkak adalah hasil fermentasi beras putih dengan kapang Monascus purpureus. Angkak dapat digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol darah, demam berdarah, juga dapat digunakan sebagai antioksidan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan yang terdapat pada ekstrak angkak dengan menggunakan pelarut etanol 75%, diklorometan dan n-heksan. Ekstraksi angkak dilakukan dengan cara refluks menggunakan pelarut etanol 75%. Masing — masing ekstrak dipartisi dengan diklorometan dan n-heksan. Uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol 75%, diklorometana dan n-heksan angkak dengan metode DPPH pengukuran menggunakan Spektrofotometri UV — VIS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol 75%, diklorometan dan n-heksan angkak memiliki aktivitas antioksidan. Nilai ICso yang terbaik terdapat pada ekstrak etanol 75% batch 2 yaitu sebesar 91,2197 ppm. Hasil pengukuran ekstrak angkak dengan KCKT dari ketiga sampel menunjukkan kadar statin tertinggi adalah pada ekstrak etanol. Ekstrak etanol menggandung senyawa atorvastatin sebesar 8,03 6% dan senyawa simvastatin sebesar 0,004%.

BIOKONVERSI D-GALAKTOSA MENJADI D-TAGATOSA OLEH ENZIM L-ARABINOSA ISOMERASE WILD TYPE dan MUTAN V472L DARI Geobacillus stearothermophilus

No: 134 Diabetes melitus merupakan penyakit yang paling banyak menyebabkan terjadinya penyakit lain (komplikasi). Tagatosa sebagai antidiabetes akan bermanfaat sebagai gula altematif karena memiliki tingkat kemanisan 92% dibandingkan sukrosa dan telah diproduksi secara biologi katalis biologis (enzim). Enzim yang saat ini paling banyak dicari untuk memproduksi tagatosa adalah Enzim Arabinosa Isomerase (AJ), yaitu yang mengkatalisis secara reversible reaksi isomerisasi D-galaktosa menjadi D-tagatosa. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan enzim muri serta menguji stabilitas enzim Wild Type dan mutan V472L mumi pada berbagai pH dan suhu dengan elektroforesis SDS-PAGE dan spektrofotometn UV-VIS. Pengubahan galaktosa menjadi tagatosa telah dilakukan dengan menggunakan enzim L-AI yang lebih murni diujikan dengan larutan uji aktivitas 10 mM karbazol 45 pl, 100 mM L-cystein 45 pl, dan 9 M H2SO, 1.350 pl campuran reaksi enzim diuji secara spektrofotometn. Hasil pengukuran dengan spektrofotometer menunjukan enzim Wild Type dan V472L yang memiliki nilai aktivitas tinggi yang dapat mengkonversi galaktosa menjadi tagatosa dan ditentukan absorbansi tagatosa. Enzim Wild Type dan V472L pada pH 7 memiliki nilai aktivitas tertinggi sebesar 277,778 U/ml dan 458.889 U/ml dan memiliki nilai aktivitas tertinggi pada suhu 50°C. sebesar 236,667 U/ml dan 388,333 U/ml. Diduga kedua enzim tersebut dapat mengkonversi galaktosa menjadi tagatosa sebagai pemanis rendah kaloni.

AKTIVITAS INHIBISI ENZIM α-GLUKOSIDASE DARI EKSTRAK AIR DAN ETANOL BAWANG MERAH (Allium ascalonicum) SECARA IN VITRO

No: 133 Diabetes mellitus merupakan penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan adanya gangguan metabolism karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Bawang merah (Allium ascalonicum) merupakan tanaman yang biasa digunakan sebagai bumbu masak juga dapat digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat berdasarkan empiris sebagai karminatif, batuk, antikolesterol, antiseptik, antiinflamasi dan antibiotic alami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas inhibisi enzim a-glukosidase dari ekstrak air dan etanol bawang merah secara in vitro. Selain itu penelitian ini menentukan komponen fitokimia dalam ekstrak tersebut. Simplisia umbi bawang merah diekstraksi dengan menggunakan metodemaserasi. Ekstrak yang diperoleh diuji daya inhibisinya terhadap a-glukosidase secara in vitro dan ditentukan komponen fitokimianya. Penghambatan aktivitas a- glukosidase diukur menggunakan microplate absorbance reader pada panjang gelombang 410nm. Daya inhibisi a-glukosidase oleh ekstrak air, ekstrak 96% dan ekstrak etanol 70% bawang merah dan akarbosa 1% berturut -turut adalah 11,75%, 20,92%, 4,48% dan 99,37%. Hasil daya inhibisi ketiga ekstrak ini berbeda nyata (p<0,05) dengan daya inhibisi akarbosa 1%. Ekstrak air bawang merah mengandung flavonoid dan tanin sedangkan ekstrak etanol 96% dan ekstrak etanol 70% bawang merah mengandung flavonoid, tanin, dan saponin.

ANALISIS KUANTITATIF RUBIADIN DARI EKSTRAK AKAR GINSENG KUNING (Rennellia elliptica Korth) DENGAN METODE HPLC (High Performance Liquid Crhomatography)

No: 132 Ginseng kuning (Rennellia elliptica Korth) merupakan semak tropis dari keluarga Rubiaceae yang digunakan untuk pengobatan. Ekstrak akar tanaman ini mempunyai khasiat antioksidan. Terdapat beberapa turunan senyawa antrakuinon pada akar tanaman ini salah satunya adalah rubiadin yang merupakan senyawa aktif. Analisis rubiadin dilakukan dengan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Analisis dilakukan dengan menggunakan kolom C18 (250 mm x 4.6 mm) fase terbalik, detektor UV-Vis pada panjang gelombang 254nm. Kondisi kromatografi dioptimasi dengan perbandingan fase gerak aquabidest - asam asetat 99,9:0,1 v/v (pompa A) dan asetonitril (pompa B) secara gradient dengan laju alir 0.8 ml/menit. Untuk meyakinkan bahwa metode analisis HPLC dapat digunakan sesuai dengan tujuan yang diinginkan maka metode tersebut divalidasi. Parameter-parameter validasi yang diuji meliputi linieritas, batas deteksi (LOD), batas kuantitasi (LOQ), presisi dan akurasi. Dari hasil penelitian didapat waktu retensi untuk standar rubiadin, ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol sekitar menit ke 13. Untuk ekstrak etil asetat diperoleh kadar sebesar 16.85'% sedangkan untuk ekstrak etanol 967% diperoleh kadar sebesar 0.32%. Linieritas dengan rentang konsentrasi 0.05ug/ml sampai 1.00p2/ml memiliki nila rata-rata koefisien korelasi (r) 0.9994. Batas deteksi metode ini adalah 0.03 p1g/ml dan batas kuantitasi sebesar 0.10pg/ml. Presisi dilakukan pada hari yang sama sebanyak tiga kali ulangan selama tiga hari menunjukkan ketelitian yang sangat baik dengan simpangan baku relatif untuk konsentrasi 250 pg/ml, 500 pg/ml, dan 1000 ug/ml berturut-turut adalah 0.0097%,0.0016% dan 0.0102%. akurasi dilakukan dengan penambahan standar kedalam sampel dengan tiga konsentrasi yaitu 300 pg/ml, 500 pg/ml dan 700 pg/ml dengan nilai rata-rata perolehan kembali sebesar 110.68%.

AKTIVITAS INHIBISI α-GLUKOSIDASE EKSTRAK ETIL ASETAT, HEKSAN DAN ETIL ASETAT : HEKSAN (1:1) DARI KULIT BATANG Cinnamomum burmannii DAN Cinnamomum verum

No: 131 Diabetes Melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah. Penggunaan obat-obatan sintesis sebagai antidiabetes masih tergolong sangat mahal maka sebagai alternatif pengobatan digunakan tanaman yang relatif murah dan mudah didapat oleh masyarakat, salah satunya yaitu tanaman kayu manis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya inhibisi ekstrak etil asetat, heksan, dan etil asetat : heksan (1:1) kulit batang kayu manis (Cinnamomum burmannii dan Cinnamomum verum) dengan konsentrasi 0.375% terhadap aktivitas enzim a-glukosidase dan dibandingkan dengan akarbosa 0.375%. Selain itu penelitian ini menentukan komposisi fitokimia dalam ekstrak tersebut. Kulit batang kayu manis Cinnamomum burmannii dan Cinnamomum verum diekstraksi dengan metode maserasi. Ekstrak yang diperoleh diuji daya inhibisinya terhadap a-glukosidase secara in vitro dan ditentukan komponen fitokimianya. Ekstrak dengan daya inhibisi terbaik adalah ekstrak etil asetat Cinnamomum burmannii dan Cinnamomum verum dengan nilai inhibisi berturut-turut sebesar 88.08% dan 77.53% yang tidak berbeda nyata dengan akarbosa. Berdasarkan hasil uji fitokimia senyawa yangterkandung di dalam ekstrak etil asetat Cinnamomum burmannii adalah flavonoid, tanin, saponin, hidrokuinon dan triterpenoid. Sedangkan senyawa yang terkandung didalam ekstrak etil asetat Cinnamomum verum adalah flavonoid, tanin, saponin, hidrokuinon, steroid dan triterpenoid.

SKRINING DAN ISOLASI METABOLIT BIOAKTIF JAMUR ENDOFIT DARI GINSENG KUNING (Rennellia elliptica Korth.) SERTA UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli

No: 130 Dalam dua dekade ini, mikroba endofit merupakan salah satu sumber utama mikroba penghasil antibiotik. Salah satunya adalah jenis jamur endofit yang diketahul dapat menghasilkan berbagal senyawa bioaktif. Pada penelitian ini, dilakukan skrining, isolasi, dan uji aktivitas antibakteri dari Ginseng Kuning (Rennellia elliptica Korth.). Skrining aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode bioautografi dan menghasilkan isolat yang paling aktif yaitu ekstrak GKBt-2. Perbanyakan kultur jamur endofit GKBt-2 dalam media Glucose-Yeast extract-Peptone (GYP) yang dilanjutkan dengan ekstraksi etil asetat menghasilkan ekstrak GKBt-2 sebanyak 275,5 mg berwama merah tua. Isolasi senyawa aktif dari ekstrak GKBt-2 dilakukan menggunakan kromatografi kolom silika gel, diperoleh senyawa murni F.3. Penentuan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) terhadap F.3 menggunakan metode mikrodilusi. Sebagai kontrol positif digunakan kloramfenikol dan eritromisin. Nilai MIC untuk bakteri Staphylococcus aureus dari F.3. kloramfenikol, dan eritromisin masing-masingsebesar 64 pg/mL, 16 pg/mL, dan 8 pg/mL. Nilai MIC untuk bakteri Escherichia coli dari F.3, kloramfenikol, dan eritromisin masing-masing sebesar 64 pg/mL, 4 ug/mL, dan 16 g/mL.

UJI AKTIVITAS ANTIDIABETES EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI PELARUT DAUN WUNGU (Graptophyllum pictum (L.) Griff) SECARA IN VITRO MELALUI UJI INHIBISI ENZIM α-GLUKOSIDASE

No: 129 Graptophyllum pictum (L.) Griff yang dikenal dengan nama daun wungu adalah tanaman obat yang telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk diabetes melitus. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa ekstrak kasar etanol 70% daun wungu memiliki daya hambat terhadap enzim a- glukosidase yang paling tinggi dibandingkan dengan pelarut yang lain dan dapat mengekstraksi seluruh senyawa yang diharapkan. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian lanjutan yang bertujuan untuk menguji daya inhibisi ekstrak kasar etanol 70% daun wungu dan fraksi-fraksi pelarut dari ekstrak kasar tersebut terhadap aktivitas enzim a-glukosidase dan membandingkan aktivitasnya dengan akarbosa (glukobay) 1% sebagai kontrol positif serta melakukan uji fitokimia dari masing-masing fraksi pelarut. Ekstrak kasar etanol 70% difraksinasi dengan metode ekstraksi cair-cair dan diperoleh 3 fraksi, yaitu fraksi polar pertengahan, fraksi basa dan fraksi polar. Uji inhibisi terhadap aktivitas enzim a-glukosidase secara in vitro menunjukkan ekstrak kasar etanol 70%, fraksi polar pertengahan, fraksi basa dan fraksi polar semuanya menghambat aktivitas enzim a-glukosidase, berturut-turut sebesar 41.40%, 37.75%, 30.23% dan 12.71%. Namun aktivitas inhibisi. ekstrak kasar maupun fraksi-fraksi pelarut tersebut lebih rendah dibandingkan dengan aktivitas akarbosa 1% sebagai kontrol positif. Kandungan senyawa kimia pada fraksi polar pertengahan, fraksi basa dan fraksi polar adalah flavonoid, saponin dan steroid. Senyawa tanin terkandung dalam fraksi polar, namun fraksi tersebut tidak mengandung triterpenoid sedangkan alkaloid terdapat pada fraksi polar dan fraksi basa.