Sebanyak 568 Skripsi ditemukan

Hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan terhadap kepatuhan pasien rawat rawat jalan penderita tuberkulosis paru di rumah sakit paru dr. M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor

No. 517 Tuberkolusis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mycobacterium Tuberculosis. Menurut laporan WHO, pada tahun 2017. Indonesia menempati peringkat ke-2 di dunia pengidap tuberkulosis (TB) terbanyak setelah India. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan dengan kepatuhan pasien rawat jalan pengidap tuberkulosis (TB) paru di RS Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor. Jenis penelitian ini adalah prospektif non eksperimental dengan rancangan penelitian cross sectional, dengan sampel penelitian yaitu reponden yang menjalani pengobatan Tuberkulosis selama fase lanjutan sebanyak 83 orang. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji correlation Spearman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pasien TB paru di tunjukan (p-value <0,05) adalah tingkat pengetahuan (p-value 0,000), sikap responden (p-value 0,015), dan motivasi dari keluarga (p-value 0,001). Variabel yang tidak berhubungan dengan kepatuhan adalah jenis kelamin (p-value 0,299), umur (p-value 0,654), tingkat pendidikan (p-value 0,721), status pekerjaan (p-value 0,279), jarak (p-value 0,730), dan peran Pengawas Menelan Obat (p-value 0,728).

Aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan air daun mangrove (Rhizophora stylosa), daun kejibeling (Strobillanthes crispus) dan batang katuk (Sauropus androgynus) serta kombinasinya terhadap bakteri Escheria coli dan Staphylococcus aureus

No. 516 Bakteri merupakan salah satu penyebab terjadinya penyakit. Bakteri yang paling banyak menyebabkan infeksi antara lain bakteri Eschericia coli dan Staphylococcus aureus. Daun mangrove (Rhizopora stylosa), daun kejibeling (Strobilanthes crispus) dan batang katuk (Sauropus androgynus) memgandumg senyawa alkaloid, tanin, flavonoid, saponin serta senyawa polifenol yang dipercaya memiliki kemampuansebagai aktivitas antibakteri. Ketiga simplisia diekstraksi dengan metode maserasi dan infusa. Uji fitokimia dan uji antibakteri dilakukan terhadap ekstrak tunggal dan kombinasinya. Kombinasi yang dibuat yaitu (Daun mangrove : daun kejibeling : batang katuk) dengan variasi kombinasi 1:1:1, 1:1:2, 1:2:1 dan 2:1:1 dengan konsentrasi 10%, 25%, 50% dan menggunakan kontrol positif amoksisilin 10%. Uji fitokimia dari ketiga tanaman ekstrak etanol dan air menunjukkan hasil positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan tannin, sedangkan ekstrak air tidak mengandung alkaloid. Pada penelitian ini hasil ekstrak daun mangrove yang optimumterdapat pada bakteri S.aureus. Hal ini dibuktikan pada konsentrasi 25% ekstrak etanol daun mangrove memberikan nilai zona hambat 11,2 mm dan kontrol positif 10,4 mm. Pada ekstraksi infusa hasil zona hambat dengan konsentrasi 25% pada bakteri E.coli 13,2 mm dengan kontrol positif 12,9 mm dan bakteri S.aureus 13,4 mm dengan kontrol positif 12,8 mm. Kombinasi ekstrak tiga tanaman yang terbaik terdapat pada kombinasi 2:1:1 yang terdapat pada kombinasi multi ekstrak etanol karena pada konsentrasi 10% ekstrak bisa memiliki zona hambat lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol positif dengan nilai 12,4 mm dan kontrol positif amoksisilin 12,3 mm.Konsentrasi terbaik ekstrak tunggal yaitu daun mangrove konsentrasi 25% dan ekstrak kombinasi 2:1:1 konsentrasi 10%. Ekstraksi maserasi memberikan nilai zona hambat yang lebih baik dibandingkan dengan ekstraksi infusa.

Aktivitas antibakteri sediaan gel ekstrak daun bintaro (cerbera odollam gaertn) terhadap Propionibacterium acnes

No. 515 Ekstrak daun bintaro diketahui dapat menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes. Dalam penelitian ini dilakukan pembuatan sediaan gel ekstrak daun bintaro dibuat dengan berbagai konsentrasi, selanjutnya di uji mutu fisik serta aktivitas antibakteri. Kandungan kimia yang terdapat dalam ekstrak daun bintaro yaitu berupa alkaloid, saponin dan tanin. Pada penelitian ini ekstrak kental daun bintaro diformulasikan ke dalam bentuk sediaan gel yang dibuat dengan konsentrasi 5, 10 dan 15%, kemudian dilakukan uji mutu fisik yang meliputi uji organoleptik, pH, daya sebar, homogenitas dan viskositas. Sediaan gel kemudian diuji aktivitas antibakterinya menggunakan metode difusi agar sumuran. Berdasarkan hasil pengujian aktivitas antibakteri sediaan gel ekstrak daun bintaro, memiliki aktivitas antibakteri dengan diameter zona hambat 6,53 mm (konsentrasi 5%), 7,72 mm (konsentrasi 10%), 8,52 mm (konsentrasi 15%). Pada penelitian ini dapat diketahui semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka semakin besar pula diameter zona hambat dan aktivitas terbesar terdapat pada sediaan dengan konsentrasi 15%.

Toksisitas kombinasi ekstrak etanol 70% kulit jengkol (Archidendron jiringa (Jack) I. C. Nielsen) dan daun petai cina (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) menggunakan metode BSLT

No. 514 Kombinasi obat herbal adalah salah satu strategi yang digunakan untuk mengatasi munculnya penyakit. Kulit jengkol atau yang dikenal dengan nama Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen dan daun petai cina atau yang dikenal dengan nama Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit merupakan tumbuhan suku polongpolongan yang mengandung senyawa bahan alam seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan triterpenoid. Senyawa bahan alam tersebut diduga berpotensi sebagai antikanker. Uji toksisitas digunakan untuk mendeteksi potensi senyawa antikanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai toksisitas dari kombinasi kulit jengkol dan ekstrak daun petai cina dengan perbandingan 1:1, 1:3, 1:5, 1:7, dan 1:9 (kulit jengkol:Daun Petai Cina) menggunakan Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dengan hewan uji Artemia salina L. proses ekstraksi kulit jengkol dan daun petai cina meliputi maserasi dan rotary evaporator. Parameter yang diukur adalah nilai lethal concentration (LC50). Nilai LC50 yang diperoleh dari kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol secara berturut-turut sebesar 80, 95, 135, 171 & 277 ppm. Hasil penelitian ini menunjukkan kombinasi ekstrak kulit jengkol dan ekstrak daun petai cina pada perbandingan 1:1 dan 1:3 termasuk dalam kategori sangat toksik, sedangkan pada perbandingan 1:5, 1:7 & 1:9 termasuk dalam kategori toksik sedang. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan semua kombinasi kulit jengkol dan daun petai cina memberikan efek toksik yang diduga berpotensi sebagai antikanker.

Formulasi sediaan lipstik dengan ekstrak kulit buah rambutan (Nephellium lappaceum L) sebagai pewarna

No. 513 Rambutan (Nephallium leppaceum L) merupakan sejenis buah-buahan tropika yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Kulitnya yang berwarna merah masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Adanya warna merah pada kulit buah rambutan disebabkan oleh adanya pigmen antosianin yang dapat digunakan sebagai pewarna alami. Penelitian ini dilakukan untuk memformulasi sediaan lipstik dengan memanfaatkan pewarna alami yang terkandung dalam kulit buah Rambutan. Pembuatan ekstrak dilakukan dengan metode maserasi dengan menggunakan etanol 96% sebagai pelarut yang mengandung asam sitrat 2%, kemudian pelarut diuapkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kulit buah rambutan. Formulasi lipstik terdiri dari bahan-bahan seperti cera alba, setil alkohol, carnauba wax, adeps lanae, vaselin, minyak jarak, propilenglikol, tween 80, butil hidroksi toluen, nipagin serta penambahan ekstrak kulit buah rambutan dengan konsentrasi 25, 30, dan 35%. Hasil evaluasi fisik menunjukkan bahwa sediaan lipstik yang dibuat mudah dioleskan, stabil, berwarna merah, homogen, titik lebur 53-65oC, pH 4,85-5,86 dan intensitas warna dengan perubahan intensitas warna yang cukup stabil.

Toksisitas fermentasi umbi garut (Maranta arundinaceae L) oleh Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus fermentum dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)

No. 512 Pangan fungsional yang berbasis probiotik memiliki potensi sebagai antikanker, karena mengandung asam laktat yang diduga dapat mencegah kanker. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efek toksik dari hasil fermentasi umbi garut oleh Lactobacillus plantarum, Lactobacillus fermentum dan kultur campuran menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test. Penentuan uji toksisitas dari hasil fermentasi umbi garut tersebut dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test yang menggunakan larva udang Arthemia salina Leach. Parameter yang diukur adalah LC50. Selain itu, hasil fermentasi umbi garut ditentukan nilai pH, total asam laktat, dan total bakteri asam laktat. Hasil fermentasi umbi garut oleh Lactobacillus plantarum, Lactobacillus fermentum dan kultur campuran berpotensi toksik terhadap Arthemia salina dengan kategori sangat toksik. Hasil fermentasi umbi garut oleh kultur campuran memiliki efek toksik tertinggi dengan nilai LC50 sebesar 28 ppm. Sampel tersebut memiliki karakteristik pH sebesar 4,27, total asam laktat sebesar 0,50% dan total BAL sebesar 1,0 x 1012 CFU/mL.

Aktivitas dan evaluasi sediaan pastagigi ekstrak bonggol dan kulit nanas (ananas comosus (L.) Merr.) terhadap antibakteri Streptococcus mutans penyebab plak gigi

No. 511 Plak gigi merupakan salah satu penyebab utama timbulnya penyakit gigi dan mulut yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans. Limbah bonggol dan kulit nanas dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri, yaitu terhadap bakteri Streptococcus mutans. Berdasarkan pada hal tersebut, bonggol dan kulit nanas diformulasikan ke dalam sediaan pasta gigi untuk menghambat pertumbuhan bakteri Streptocuccus mutans. Penelitian bertujuan mendapatkan formula pasta gigi kombinasi ekstrak bonggol dan kulit nanas dan mengetahui konsentrasi yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak kental yang diperoleh diformulasikan dalam sedian pasta gigi dengan konsentrasi 40% b/b perbandingan formula I (1:1), formula II (1:2) dan formula III (2:1) bonggol dan kulit nanas. Formula pasta gigi diuji mutu fisik (organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, tinggi busa) dan aktivitas antibakteri. Mutu fisik pasta gigi dianalisis secara deskriptif sedangkan aktivitas antibakteri dianalisis dengan statistik dengan metode One Way ANOVA yang dilanjutkan dengan Post Hoc Test Duncan. Berdasarkan pada uji mutu fisik semua formula memenuhi syarat mutu SNI 12-3254-1995 sediaan pasta gigi. Hasil analisis statistik aktivitas antibakteri formula III menujukkan aktivitas tertinggi dengan diameter zona hambat sebesar 23,5 mm. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa formula III (2:1) efektif sebagai antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans.

Formulasi dan evaluasi fisik sediaan lotion ekstrak umbi lobak (Raphatus sativus L.) sebagai tabir surya

No. 510 Penggunaan kosmetika tabir surya menjadi alternatif yang sangat dibutuhkan dalam upaya melindungi dari radiasi matahari. Kosmetika berbahan tanaman lebih sering diminati oleh masyarakat dibandingkan dengan senyawa kimia. Umbi lobak (Raphatus Sativus L) salah satu tanaman yang kandungan kimianya dapat dijadikan sebagai tabir surya. Kandungan tersebut adalah flavonoid yang mampu mencegah efek berbahaya dari sinar UV atau paling tidak dapat mengurangi kerusakan pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan lotion tabir surya dari ekstrak umbi lobak yang memiliki mutu fisik dan SPF yang stabil. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi bertingkat dengan tingkat kepolaran yang berbeda-beda yaitu n-heksana, etil asetat, etanol 96%, dan air. Masingmasing pelarut dibuat menjadi ekstrak kental, dan di uji SPF dengan spektrofotometri selanjutnya hasil SPF terbesar dari ekstrak dibuat sediaan lotion tabir surya dengan konsentrasi 5%, 15% dan 25%. Lotion yang telah dibuat, kemudian dilakukan uji kontrol kualitas meliputi uji organoleptik, uji pH, daya sebar, viskositas, stabilitas, dan penentuan nilai Sun Protection Factor (SPF). Berdasarkan pada hasil penelitian ekstrak umbi lobak dengan pelarut n-heksana diperoleh nilai SPF 5,51, ekstrak pelarut etil asetat diperoleh nilai SPF 13,40, ekstrak pelarut etanol 96% diperoleh nilai SPF sebesar 5,40, dan ekstrak pelarut air diperoleh nilai SPF sebesar 21,63. Semua sediaan lotion tabir surya yang dibuat yang memenuhi persyaratan pengujian dan memiliki kestabilan secara fisik. Nilai SPF pada lotion 5% yaitu 4,07, lotion 15% yaitu 6,96 dan lotion 25% yaitu 7,23. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa formulasi 25% memenuhi persyaratan mutu fisik lotion dan memiliki nilai SPF tertinggi sebesar 7,23 dengan proteksi ultra. Pada uji stabilitas lotion yang mempunyai stabilitas yang baik adalah lotion yang penyimpanan pada suhu kamar (28±2oC).

uji efek analgesik fraksi air, etil asetata dan n- heksana dari ekstrak etanol 70% daun ranti (solanum nigrum L.) terhadap mencit putih jantan (Mus musculus) galur DDY

No. 509 Tumbuhan ranti (Solanum nigrum L.) biasa digunakan oleh masyarakat Indonesia secara tradisional sebagai pereda nyeri. Daun ranti mengandung senyawa flavonoid yang berkhasiat sebagai analgesik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia dan efek analgesik fraksi air, etil asetat dan n-heksana dari ekstrak etanol 70% daun ranti (Solanum nigrum L.) terhadap mencit putih jantan (Mus musculus) galur Deutche Denken Yoken yang berumur 2-3 bulan dengan berat badan 20-30 g. Dalam penelitian ini metode yang digunakan yaitu metode Sigmund (metode geliat) yang diinduksi dengan asam asetat 0,5%. Dosis yang digunakan untuk ketiga fraksi adalah 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB dan serbuk antalgin 65 mg/kg BB sebagai kontrol positif. Penurunan jumlah geliat setiap kelompok dianalisis dengan menggunakan uji statistik RAL (Rancangan Acak Lengkap). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji fitokimia ekstrak etanol, fraksi air dan fraksi etil asetat menunjukkan adanya senyawa flavonoid, sedangkan pada fraksi n-heksana menunjukkan tidak adanya senyawa flavonoid. Pada efek analgesik daya proteksi yang paling besar terdapat pada fraksi air dosis 200 mg/kg BB (52,55%) yang diikuti oleh fraksi etil asetat dosis 200 mg/kg BB (36,86%), fraksi air dosis 100 mg/kg BB (36,13%), fraksi etil asetat dosis 100 mg/kg BB (29,75%), fraksi n-heksana dosis 200 mg/kg BB (22,99%) dan fraksi n-heksana dosis 100 mg/kg BB (8,21%). Semakin besar dosis yang diberikan maka semakin baik efek analgesiknya.

Formulasi daun uji stabilitas sediaan Lipcream menggunakan bahan pewarna alami dari kayu secang (Caesalpinia sappan Linn.)

No. 508 Lipcream termasuk pewarna bibir seiring perkembangan jaman. Kayu secang (Caesalpinia sappan Linn.) dapat dimanfaatkan sebagai pewarna makanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ekstrak kayu secang dapat digunakan sebagai pewarana alami sediaan lipcream dan memiliki stabilitas yang baik. Ekstraksi dilakukan dengan dimaserasi air mendidih selama 15 menit kemudian dipekatkan dengan alat mikrowave. Sediaan lipcream dibuat dengan formula yang terdiri dari konsentrasi ekstrak kayu secang 0,2%, 0,4% dan 0,6%. Evaluasi fisik yang dilakukan antara lain uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya oles, uji daya lekat, uji viskositas, uji daya sebar, uji kesukaan, uji cycling test dan uji mekanik (sentrifugasi). Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak kayu secang dapat digunakan sebagai pewarna alami pada sediaan lipcream. Sediaan berupa lipcream mempunyai pH sekitaran 4-5, viskositas pada kisaran 16900- 17400 cps, pada uji kesukaan formula dengan 0,6% mempunyai nilai tertinggi, begitupun pada daya lekat, hasil uji cycling test formula dengan ekstrak 0,4% dan 0,6% stabil, pada uji mekanik semua sediaan tidak ada pemisahan fase menandakan sediaan stabil selama 1 tahun penyimpanan suhu kamar.