Sebanyak 555 Skripsi ditemukan

Hubungan tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan dalam menjalani terapi pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Klinik Renata Medical

No. 493 Diabetes Melitus (DM) yaitu kadar gula darah yang tidak terkendali dengan baik sehingga dapat menyebabkan terjadinya komplikasi akut maupun kronik, untuk itu diperlukan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi farmakologis dan non farmakologis agar dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas pada penderita diabetes melitus. Kepatuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu faktornya adalah Pengetahuan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara Tingkat Pengetahuan terhadap Kepatuhan pada pasien Diabetes Melitus dalam menjalani terapi di klinik Renata Medical. Penelitian ini bersifat Deskriptif Analitik dilakukan secara prospektif dengan pendekatan Cross Sectional. Pengambilan sampel secara purposive sampling dan jumlah sampel yang sebanyak 89 Responden. Penelitian ini dilakukan dari tanggal 02 Agustus 2018 sampai dengan 30 September 2018 di klinik Renata Medical. Data diperoleh melalui kuesioner dengan wawancara langsung kepada pasien. Analisis data ini menggunakan uji statistic Chi-Square ( < 0,05; CI = 95%). Hasil penelitian ini yaitu Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan pendidikan (p Value 0,000), Hubungan antara Kepatuhan dengan usia (p Value 0,006), Hubungan antara kepatuhan dengan pendidikan (p Value 0,000), Hubungan kepatuhan dengan Lama Menderita (p Value 0,002), hubungan kepatuhan dengan Pekerjaaan (pValue 0,0047) dan hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Kepatuhan terapi obat (p Value 0,027). Kesimpulan terdapat hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Pendidikan. Terdapat hubungan Kepatuhan dengan Usia, pendidikan, Lama Menderita dan pekerjaan. Dan Terdapat Hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan pada pasien Diabetes Melitus dalam menjalani terapi.

Profil pengobatan dan reaksi obat merugikan pasien one day care kanker payudara usia produkif di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bogor bulan Juli-Desember 2017

No. 492 Kanker payudara (Carsinoma mammae) adalah tumor ganas yang menyerang jaringan payudara (kelenjar susu, saluran air susu, dan jaringan penunjang payudara). Kanker payudara menyebabkan sel dan jaringan payudara berubah bentuk menjadi abnormal dan bertambah banyak secara tidak terkendali. Tujuan penelitian yaitu mengetahui demografi pasien (umur dan stadium), regimen obat, dan reaksi obat merugikan pada pasien kanker payudara di Rumah sakit Umum Daerah Kota Bogor Bulan Juli–Desember 2017. Data yang diteliti sebanyak 198 pasien dengan rentang usia 15–64 Tahun. Hasil penelitian menunjukkan : interval umur yang tertinggi adalah pada usia 45–55 tahun (49,49%) dan berdasarkan stadium tertinggi yaitu stadium 2 (52,02%). Berdasarkan penggunaan obat kanker yang tertinggi yaitu pada regimen kombinasi injeksi yaitu terapi kombinasi (87,5%), pada regimen penggunaan oral yaitu monoterapi (91,4%), dan pada penggunaan oral dan injeksi yaitu terapi kombinasi (93,7%). Hasil penelitian regimen yang terbanyak digunakan pada penggunaan injeksi yaitu EC (Epirubicin dan Cyclophosphamide) sebanyak 15,18% CAF (Cyclophosphamide, Doxorubicin, dan 5-FU) sebanyak 15,18%. Pada regimen penggunaan obat oral yang terbanyak pada penggunaan xeloda (27,14%), dan pada penggunaan kombinasi oral dan injeksi penggunaan obat injeksi (paklitaksel dan epirubicin (doxorubicin)) dan xeloda (25%). Berdasarkan reaksi obat merugikan regimen yang paling banyak efek samping pada regimen zoladex yaitu dengan reaksi gastrointestinal, gangguan umum, hematologi, gangguan ginjal dan disfungsi hati.

Pengaruh waktu dan suhu terhadap kadar pengawet pada sediaan dan larutan preparasi krim anti jerawat

No. 491 Pengawet merupakan senyawa alam atau sintesis yang ditambahkan ke dalam produk berfungsi untuk mencegah pertumbuhan mikroba. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh waktu dan suhu terhadap kadar pengawet golongan paraben (metil paraben, propil paraben dan butil paraben) pada sediaan krim anti jerawat yang dibuka tutup setiap harinya dan larutan preparasi krim anti jerawat. Sampel yang digunakan yaitu sampel krim anti jerawat yang dibuka tutup setiap harinya disimpan dalam suhu ruang (≤30°C) dan suhu panas (40°C ± 2°C, RH 75% ± 5%) dan larutan preparasi krim anti jerawat disimpan dalam suhu ruang (≤30°C) dan suhu dingin (2°C-8°C). Pengujian dilakukan pada hari ke-0 sampai hari ke-6. Metode yang digunakan yaitu KCKT dengan fase diam kolom LiChrospher RP-18 4.0 mm x 125 mm (ukuran partikel 5 μm), fase gerak terdiri dari methanol for HPLC dan larutan KH2PO4 6.8 g/L dengan perbandingan (65:35) dan detektor UV-Vis pada panjang gelombang 272 nm. Pompa yang digunakan adalah mode aliran tetap dengan laju alir 1,0 mL/menit dan volume injeksi 20 μL. Dari hasil analisis uji f, sampel sediaan krim anti jerawat yang dibuka tutup setiap harinya tidak memiliki pengaruh yang signifikan dari waktu dan suhu terhadap kadar pengawet golongan paraben. Sampel yang memiliki pengaruh signifikan dari waktu dan suhu terhadap kadar pengawet adalah sampel larutan preparasi standar butil paraben suhu ruang, larutan preparasi standar butil paraben suhu dingin, larutan preparasi sampel propil paraben suhu ruang, larutan preparasi sampel butil paraben suhu ruang, dan larutan preparasi sampel butil paraben suhu dingin. Sampel larutan preparasi lainnya tidak memiliki pengaruh yang signifikan dari waktu dan suhu terhadap kadar pengawet golongan paraben.

Ketepatan penggunaan antibiotika dengan metode Gyssens pada pasien sepsis neonatal rawat inap di Rumah Sakit Salak Bogor Periode Maret-Juni 2018

No. 490 Sepsis neonatal merupakan disfungsi organ yang mengancam kehidupan yang disebabkan oleh disregulasi imun terhadap infeksi. Jumlah sepsis neonatal di RSAD Salak meningkat, dibuktikan pada semester pertama tahun 2017 jumlah sepsis neonatal mencapai angka 102 bayi dari 625 bayi yang lahir. Tujuan penelitian: untuk mengetahui gambaran profil pasien, gambaran peresepan dan ketepatan penggunaan antibiotika dengan metode Gyssens pada pasien neonatal rawat inap RS Salak. Penelitian dilakukan secara prospektif dengan mengumpulkan data pasien berdasarkan rekam medis pasien sepsis neonatal yang menggunakan antibiotika periode Maret sampai Juni 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pasien sespsis neonatal berdasarkan jenis kelamin tertinggi adalah laki-laki 22 orang atau 65% dan perempuan 12 orang atau 35%. Jumlah pasien sespsis neonatal berdasarkan kelompok usia tertinggi adalah pada usia 1-7 hari (SAD) dengan jumlah 19 (55.88%), usia > 7 hari (SAL) berjumlah 15 (44.12%). Pasien sepsis neonatal dengan riwayat persalinan normal 20 (58.82%) dan SC 14 (41.18%). Ketepatan antibiotika pada kategori IVa (pemberian antibiotika lain yang lebih efektif) 21 pasien atau 48.84%, kategori IIIb (pemberian terlalu singkat) 1 pasien atau 2.33%, kategori IIa( pemberian antibiotika tidak tepat dosis) 13 pasien 30.23% dan kategori 0 atau tepat sebanyak 8 pasien 18.6%.

Evaluasi perbedaan kualitas hidup pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi ke 1-4 dan ke 5-8 di RSUD Ciawi Kabupaten Bogor

No. 489 Kanker payudara adalah tumor ganas yang menyerang kelenjar payudara. Jaringan payudara tersebut terdiri dari kelenjar susu (kelenjar pembuat air susu), saluran kelenjar (saluran air susu) dan jaringan penunjang payudara. Kanker payudara sangat berhubungan dengan penurunan kualitas hidup pasien. Penurunan kualitas hidup disebabkan oleh diagnosis, terapi dan efek samping kemoterapi. Tujuan penelitian ini ntuk mengevaluasi perbedaan kualitas hidup pasien Kanker Payudara yang menjalani kemoterapi ke 1-4 dan ke 5-8 dari dimensi kesehatan Fisik dan psikologis di RSUD Ciawi Kabupaten Bogor.Penelitian ini dilakukan dengan metode prospektif non eksperimen pada 81 orang pasien kemoterapi yang terbagi kedalam kemoterapi ke 1-4 sebanyak 40 orang dan kemoterapi ke 5-8 sebanyak 41 orang. Kualitas Hidup pada kelompok kemoterapi ke 1-4 lebih baiksecara fisik dan psikologis dibandingkan pada kelompok kemoterapi ke 5-8, akan tetapi perbedaan tersebut tidak bermakna yang dapat dilihat dari nilai pvalue> 0,05 (p-value 0,386) (fisik) dan nilai p-value> 0,05 (p-value 0,532) (Psikologis).

Analisis tingkat kepuasan pasien hipertensi lanjut usia terhadap pelayanan informasi obat di rumah sakit kepresidenan RSPAD Gatot Subroto Jakarta Pusat

No. 488 Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai akibat dari kinerja layanan kesehatan yang diperolehnya setelah pasien membandingkan dengan apa yang diharapkannya. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien hipertensi lansia terhadap pelayanan informasi obat di Rumah Sakit Kepresidenan RSPAD Gatot Soebroto jakarta pusat ditinjau dari dimensi mutu pelayanan kefarmasian. Responden yang diteliti adalah pasien penderita hipertensi lanjut usia pada usia 60 tahun. Teknik pengambilan sampelnya dengan purposive sampling, melalui survey dengan lembar kuesioner jumlah 46 responden berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dianalisis dengan analisis korelasi, skala Likert, univerat dan analisis bivarate, regresi linier. Hasil penelitian bahwa 63,0% pasien menyatakan sangat puas, berdasarkan hasil uji korelasi terdapat hubungan positif yang signifikan antara pelayanan informasi obat terhadap kepuasan dengan nilai korelasi 0,533, hasil rata-rata korelasi kelima dimensi diperoleh interpretasi 1,063 pada tingkat kepuasan sangat puas. Berdasarkan hasil uji F didapat nilai hitung lebih besar dari F tabel, Artinya H0 ditolak dan Ha diterima, berarti pelayanan informasi obat mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pasien hipertensi lansia. Berdasarkan uji T dimensi keandalan, ketanggapan, jaminan, empati dan bukti fisik terdapat pengaruh dengan kepuasan pasien.

Uji aktivitas dan stabilitas formula gel hand sanitizer dari ekstrak etanol 96% buah pare (Momordica charantia L) sebagai antibakteri

No. 487 Buah pare (Momorica charantia L) merupakan bagian dari tanaman yang mengandung zat aktif antibakteri dan berpontensi dibuat formulasi hand sanitizer. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri hand sanitizer ekstrak buah pare terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escheria coli, daya antiseptiknya serta uji mutu fisik formulasi hand sanitizer ekstraknya pada konsentrasi 30%. Ekstraksi buah pare dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Kandungan senyawa ekstrak diidentifikasi dengan uji fitokimia, dan uji aktivitas antibakteri formulasi hand sanitizer ekstrak dengan konsentrasi 30% dilakukan dengan metode difusi cakram. Uji mutu fisik formulasi hand sanitizer antara lain organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar dan viskositas. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol 96% buah pare mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Diameter zona hambat pada ekstrak etanol 96% dan hand sanitizer ekstrak etanol 96% kosentrasi 30% terhadap bakteri Staphylococcus aureus yaitu 11,7 mm dan 10,6. Sedangkan terhadap bakteri Escherichia coli yaitu 10,9 mm dan 10,2 mm. Selain itu, hand sanitizer ini memiliki aktivitas antibakteri. Hasil uji mutu fisik formulasi hand sanitizer ekstrak etanol 96% buah pare memiliki warna coklat, bentuk semisolid dan berbau khas ekstrak, homogen, pH 5, viskositas (3200-3300 cps), daya sebar (5,10-5,14 cm). Setelah uji cyling test didapat hasil, warna coklat, bentuk semisolid dan berbau khas ekstrak, homogen, pH 5, viskositas (3100-3500 cps), daya sebar (5,10-5,18 cm).

Toksisitas Ekstrak kulit kopi arabika (coffee arabica) dengan metode brine shrimp lethality test

No. 486 Kulit kopi Arabika merupakan bahan tidak terpakai (limbah) dari hasil pengolahan biji kopi. Kulit kopi mengandung senyawa bahan alam seperti antosianin, polifenol, betakaroten, dan vitamin C. Senyawa polifenol diketahui berpotensi sebagai antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan toksisitas dari ekstrak n-heksana, etil asetat, etanol 70%, dan akuades dari kulit kopi Arabika (Coffea arabica) dengan metode BSLT. Proses ekstraksi kulit kopi arabika dilakukan dengan cara maserasi. Metode toksisitas yang digunakan adalah Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dengan hewan uji Artemia salina L. Parameter yang diukur adalah nilai lethal concentration (LC50). Ekstrak n-heksana, etil asetat, etanol 70%, dan akuades dari kulit kopi Arabika (Coffea arabica) memiliki efek toksik terhadap Artemia salina L. Nilai LC5 dari ekstrak n-heksana, etil asetat, etanol 70% dan akuades masing-masing sebesar 132 ppm (sangat toksik), 166 ppm (sangat toksik), 309 ppm (toksik), dan 708 ppm (toksik sedang). Ekstrak n-heksana kulit kopi memberikan efek toksik yang paling tinggi dengan komponen kimia yang terkandung yaitu alkaloid dan triterpenoid.

Analisis kebutuhan tenaga kefarmasian terhadap beban kerja di instalasi farmasi rawat jalan RS PMI Bogor

No. 485 Peningkatan jumlah pelayanan resep di Intalasi Farmasi Rawat Jalan RS PMI Bogor mempunyai dampak terhadap beban kerja tenaga kefarmasian baik apoteker maupun tenaga teknis kefarmasian yang ada di Instalasi Farmasi. Beban kerja yang berlebih memicu kelelahan dan kurangnya konsentrasi petugas dalam pelayanan kefarmasian. Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan mutu pelayanan IFRS PMI Bogor. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kebutuhan tenaga kefarmasian di IFRS PMI Bogor berdasarkan beban kerjanya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan sampel seluruh aktifitas tenaga kefarmasian. Teknik pengumpulan data dengan observasi menggunakan work sampling dan wawancara mendalam. Data dianalisis menggunakan metode Analisis Beban Kerja (ABK Kes). Hasil penelitian untuk tenaga kefarmasian pada apoteker dari perbandingan ratio beban kerja 0.67 membutuhkan tenaga 3 orang. Tenaga teknis kefarmasian menghasilkan ratio beban kerja 0.92 membutuhkan tenaga 13 orang. Jumlah apoteker saat ini terdapat 2 orang dengan kategori tekanan beban kerja tinggi. Jumlah tenaga kefarmasian saat ini terdapat 12 orang dengan kategori tekanan beban kerja rendah. Jumlah tenaga kefarmasian saat ini lebih kecil daripada yang dibutuhkan, untuk mengatasi beban kerja yang ada maka dibutuhkan 1 tenaga apoteker dan 1 tenaga teknis kefarmasian.